Peristiwa tragis yang terjadi di kawasan perumahan Taman Bona Indah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Sabtu (30/11/2024) menjadi tamparan keras bagi masyarakat. Seorang remaja berinisial MAS (14) tega menghabisi nyawa ayahnya, APW (41), dan neneknya, RM (69), serta berupaya melukai ibunya, AP (40). Perilaku keji ini diduga terkait gangguan jiwa skizofrenia, yang membuat pelaku bertindak atas delusi dan bisikan yang hanya ada dalam pikirannya.
Kasus ini bukan hanya mencerminkan kegagalan dalam mendeteksi gangguan kejiwaan sejak dini, tetapi juga menyoroti risiko tumbuh kembang anak di era digital. Faktor lingkungan keluarga, sekolah, dan pengaruh bebas media sosial turut menjadi penyebab potensial masalah kejiwaan pada generasi muda.
Keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk membangun pola pikir dan emosi. Sayangnya, pola komunikasi yang tidak sehat, tekanan berlebihan, atau konflik internal kerap menjadi pemicu stres yang berujung pada gangguan mental. Dalam kasus ini, sangat mungkin terjadi disfungsi komunikasi atau ketidakharmonisan keluarga yang memperburuk kondisi mentalnya.
Lingkungan sekolah juga memiliki peran besar. Bullying, tekanan akademik, atau kurangnya dukungan emosional dari teman sebaya maupun guru dapat menciptakan tekanan mental yang berbahaya. Di sisi lain, media sosial yang dengan mudah diakses anak-anak tanpa filter menjadi ancaman besar. Konten kekerasan, provokasi, atau hoaks dapat memengaruhi mental anak secara negatif.
Skizofrenia adalah gangguan mental yang membutuhkan penanganan medis khusus. Sayangnya, banyak keluarga di Indonesia yang masih percaya pada pengobatan non-medis seperti klenik atau perdukunan. Praktik semacam ini tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga membuka peluang eksploitasi materi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ruqyah, yang seharusnya sesuai syariat agama, kini banyak disalahgunakan oleh pelaku yang menyamar sebagai praktisi agama.
Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa gangguan jiwa seperti skizofrenia harus ditangani oleh psikiater atau ahli jiwa yang berkompeten. Penanganan medis, terapi psikologis, dan dukungan keluarga adalah kunci utama untuk mengatasi masalah ini.
Mencegah tragedi serupa membutuhkan upaya kolektif dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Berikut langkah-langkah yang perlu diperhatikan:
1. Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Mental: Orang tua harus peka terhadap perubahan perilaku anak dan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan ahli jiwa.
2. Kontrol Media Sosial: Orang tua dan pendidik harus membatasi akses anak-anak ke konten negatif di media sosial, sekaligus memberikan edukasi tentang literasi digital.
3. Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Sehat: Sekolah harus menjadi tempat yang mendukung perkembangan mental siswa, bebas dari bullying, dan menyediakan konseling psikologis.
4. Hentikan Pengobatan Non-Medis yang Tidak Teruji: Edukasi masyarakat tentang bahaya praktik klenik atau perdukunan harus ditingkatkan. Ruqyah atau terapi lain harus dilakukan oleh praktisi yang benar-benar memahami kaidah agama.
Tragedi ini adalah alarm keras bagi semua pihak. Skizofrenia dan gangguan mental lainnya bukanlah kutukan atau mistik, melainkan penyakit yang membutuhkan penanganan medis. Dengan memahami dan mendukung kesehatan mental anak-anak, kita dapat mencegah generasi muda terjerumus dalam lingkaran masalah yang menghancurkan diri mereka dan orang-orang di sekitar mereka.
[Catatan Niko]












