Oleh: Syahril Syam *)
Begitu besarnya pengaruh tubuh kita terhadap kesadaran diri, sehingga segala keinginan tubuh cenderung sangat besar kemungkinannya mengalahkan kesadaran diri. Itu karena berbagai emosi yang tersimpan di tubuh kita mengusai kita sekitar 95% hingga 99%. Mari kita cermati hal yang paling kecil saja, semisal lapar dan haus.
Begitu besarnya dorongan tubuh ketika hadir rasa lapar dan haus sehingga mampu mengalahkan akal sehat. Banyak yang mengeluh tidak bisa berpikir ketika lapar. Banyak yang merasa tidak bisa bekerja ketika lapar (padahal baru telat makan beberapa menit). Begitu pula rasa haus yang membuat tenggorokan kering membuat kebanyakan dari kita mengalami kesulitan untuk beraktivitas.
Berbagai dorongan emosional dari tubuh kita dalam bahasa agama disebut hawa nafsu. Itulah sebabnya, hawa nafsu diibaratkan seperti seorang bayi yang disapih. Akan terus meronta-ronta jika tidak diberi apa yang diminta. Makanya jangan heran, tarikan tubuh membuat seseorang semakin senang merayap di bumi, padahal kita bisa terbang ke langit.
Emosi yang menggebu-gebu ini begitu kuat berada di dalam tubuh kita sehingga bisa berpikir sendiri (baca: menggerakkan kita secara otomatis) dan membuat kita menjadi terlena dengan terus mengikuti segala kemauannya. Dan karena hawa nafsu tidak memiliki batasan, maka semakin sering diikuti akan membuat seseorang semakin tenggelam ke dalam jeratan nafsu. Terus-menerus mengikuti berbagai keinginannya tanpa pernah merasa puas sedikit pun.
Karena nafsu selalu meronta-ronta agar terpenuhi segala keinginannya, maka menjadi manusia adalah dengan berperang terhadap diri sendiri. Berperang dengan melawan berbagai keinginan diri yang terus-menerus mendesak agar segera dipenuhi. Para sufi menggambarkan hal ini sebagai perang tanpa henti, karena begitu sulitnya mengontrol diri sendiri.
Seperti yang pernah kami tuliskan pada Cemilan Otak terdahulu bahwa setiap manusia memiliki CEO otak yang bertugas sebagai pengontrol dan pengatur berbagai keinginan tubuh. Namun karena sebesar 95% hingga 99% tubuh menguasai otak dan diri kita, maka tentu CEO otak (kesadaran diri) mesti juga bekerja sangat keras.
Mungkin itu sebabnya sehingga Islam mengajarkan kepada kita untuk menahan diri terhadap sesuatu yang justru saat itu teramat kita inginkan. Menyedekahkan harta yang justru sangat kita cintai, dan bukan bersedekah dengan milik yang sudah dipakai atau sudah bosan dengannya. Kita juga dianjurkan untuk memberi hadiah kepada orang yang kita dengki atau yang kita benci. Bahkan dalam hal makan dan minum pun, kita dianjurkan agar tidak makan kecuali dalam keadaan lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Semua itu agar kita berlatih menentang segala keinginan hawa nafsu.
Kita berlatih agar bisa mengendalikan berbagai jeritannya yang meronta-ronta yang mengajak kita untuk segera memenuhinya. Maka wajar jika bulan puasa merupakan bulan melatih diri karena kita dikondisikan untuk berperang melawan diri sendiri (hawa nafsu).
Dengan demikian, hidup adalah tempat berperang tanpa henti terhadap diri sendiri. Hidup adalah tentang berjuang agar bisa mengontrol sepenuhnya berbagai dorongan emosional yang tersimpan di tubuh kita. Hidup adalah tentang berjuang keluar dari kendali tubuh ke kendali ruh. Hidup adalah tentang tidak merayap di bumi, tetapi terbang ke langit. Hidup adalah tentang berjuang setiap saat dari perangkap hawa nafsu. Dan karenanya hidup adalah kesempatan, yaitu kesempatan bagi kita untuk bisa keluar sebagai pemenang dari peperangan yang tanpa henti ini.
@pakarpemberdayaandiri











