Oleh : Syahril Syam *)
Dua kelompok mahasiswa diminta mengerjakan suatu tugas teka-teki dalam penelitian terkait emosi. Namun sebelum mengerjakan tugas-tugas tersebut, kelompok pertama diminta untuk memakan lobak terlebih dahulu, sedangkan kelompok kedua diminta untuk memakan coklat. Setelah memakan lobak dan coklat, kedua kelompok tersebut kemudian mulai mengerjakan tugas teka-teki. Yang terjadi adalah kelompok mahasiswa pertama – yang sebelumnya memakan lobak – hanya bertahan selama 8 menit dalam mengerjakan tugas teka-teki dengan 19 kali percobaan. Sedangkan kelompok kedua berhasil bertahan selama 19 menit dalam mengerjakan teka-teki dengan 34 kali percobaan.
Apa yang terjadi sehingga terdapat perbedaan masa waktu percobaan? Ternyata memakan lobak cenderung lebih menguras energi dibandingkan memakan coklat. Lobak ketika dimakan terasa segar dan sedikit pedas atau tajam. Secara emosional, mahasiswa kelompok pertama mesti menahan perasaan kurang nyaman dalam memakan lobak yang rasanya agak sedikit tidak menyenangkan dibandingkan memakan coklat. Karena emosi adalah energi, sehingga terjadi pengurasan energi dalam menahan rasa lobak yang cenderung kurang enak dibandingkan coklat.
Di sisi lainnya, mahasiswa kelompok kedua justru menikmati manisnya rasa caklat yang bahkan bisa memicu pelepasan endorfin dan serotonin dalam otak, yang seringkali membuat kita merasa bahagia atau nyaman. Ini bisa menimbulkan rasa kepuasan atau euforia sesaat. Selain itu, coklat memiliki sifat yang bisa memberikan energi cepat. Jika memakan lobak cenderung menguras emosi (energi), sedangkan memakan coklat justru menambah perasaan nyaman (terjadi penambahan energi konstruktif). Inilah yang menjadi sebab sehingga kelompok kedua masih kuat bertahan dalam mengerjakan teka-teki karena telah mendapat asupan energi (perasaan yang semakin nyaman setelah memakan coklat).
Penelitian ini menunjukkan bahwa seringkali kemalasan terjadi bukan karena tidak ingin mengerjakan suatu pekerjaan, namun telah terjadi pengurasan energi sehingga secara emosional tidak ada lagi dorongan (energi) untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Dan seringkali energi (daya) seseorang terkuras karena stres kronis. Marah, kecewa, sakit hati, jengkel, dan berbagai emosi destruktif yang rutin dirasakan setiap hari menunjukkan bahwa telah begitu banyak energi yang terkuras karena telah digunakan dalam bentuk energi yang destruktif yang dilepaskan saat merespons masalah. Marah yang rutin pada seseorang berarti terjadi penggunaan energi (daya) untuk mengumbar kemarahan. Hal yang sama juga terjadi pada emosi destruktif lainnya.
Berbeda dengan emosi-emosi destruktif, saat kita merasa tenang, nyaman, senang, bersyukur, dan bahagia, maka emosi-emosi konstruktif ini membuat kita semakin kaya akan energi (daya) positif. Ini karena semua energi adalah frekuensi dan saat merasakan emosi-emosi konstruktif, maka otak kita berada pada frekuensi getaran yang lebih tinggi dibandingkan frekuensi dari emosi-emosi destruktif. Emosi yang berbeda menghasilkan frekuensi yang berbeda pula. Frekuensi emosi yang kreatif dan meningkat seperti cinta, kesukacitaan, dan rasa syukur jauh lebih tinggi daripada emosi stres, seperti ketakutan dan kemarahan, karena keduanya membawa level niatan sadar dan energi yang berbeda.
@pakarpemberdayaandiri











