Penyakit Fisik Tanpa Penyebab Medis

Foto ilustrasi hallodoc

Oleh: Syahril Syam

Ketika seseorang mengalami stres, cemas, atau depresi, mereka sering merasa tubuhnya ikut merespons dengan gejala fisik, seperti sakit kepala, nyeri otot, atau masalah pencernaan. Inilah yang disebut gangguan somatisasi, yaitu gejala fisik yang tidak memiliki penyebab medis jelas, tetapi dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Ada banyak kasus dimana seseorang yang sering merasa cemas karena tekanan kerja (atau hal lainnya), mulai merasakan sakit perut berkepanjangan. Setelah diperiksa, dokter tidak menemukan masalah medis, dan ternyata hal ini dipicu oleh stres emosionalnya.

Ruminasi merujuk pada kecenderungan untuk terus-menerus memikirkan atau merenungkan masalah atau perasaan negatif, seringkali tanpa mencari solusi atau cara untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam konteks gangguan somatisasi, penelitian menunjukkan bahwa ruminasi dapat memperburuk gejala fisik karena pikiran negatif yang berulang ini dapat mengaktifkan respons tubuh terhadap stres.

Ruminasi seringkali melibatkan pemikiran tentang pengalaman emosional yang tidak menyenangkan, seperti kecemasan atau perasaan frustrasi. Ketika seseorang terus-menerus memikirkan hal ini, tubuh merespons dengan mengaktifkan sistem saraf simpatetik, yang meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol. Peningkatan kortisol ini dapat menyebabkan berbagai gejala fisik, termasuk nyeri otot, sakit kepala, gangguan pencernaan, dan kelelahan.

Ruminasi dapat membuat seseorang lebih fokus pada sensasi fisik mereka, yang dapat memperburuk pengalaman somatisasi. Misalnya, seseorang yang sedang meruminasi mungkin akan lebih memperhatikan rasa sakit ringan atau ketegangan otot yang biasanya tidak mereka sadari, sehingga sensasi tersebut terasa lebih intens. Ketika seseorang meruminasi, mereka cenderung merasa lebih terperangkap dalam perasaan negatif dan kesulitan untuk melepaskannya.

Hal ini dapat menghalangi kemampuan mereka untuk mengelola emosi dengan cara yang sehat, seperti penerimaan atau pemecahan masalah. Akibatnya, emosi negatif yang tidak terkelola dengan baik dapat berkontribusi pada gejala fisik. Studi menunjukkan bahwa ruminasi yang berkelanjutan dapat berkontribusi pada masalah kesehatan jangka panjang, seperti sakit perut berulang, nyeri tubuh, atau kelelahan, karena tubuh mereka terus dipengaruhi oleh stres emosional.

Selain itu, strategi maladaptif seperti menekan emosi (emotional suppression) juga dapat memperburuk gejala fisik, termasuk gejala somatisasi. Menekan atau menyembunyikan perasaan negatif dapat meningkatkan ketegangan tubuh dan memperburuk stres internal, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kesehatan fisik seseorang. Ketika seseorang menekan emosi mereka, mereka berusaha untuk tidak mengekspresikan atau bahkan merasakannya. Misalnya, seseorang yang merasa marah atau sedih mungkin memilih untuk tidak menunjukkan perasaan tersebut, dengan tujuan untuk menghindari konflik atau rasa malu. Meskipun hal ini tampaknya bisa memberikan kelegaan sementara, dalam jangka panjang, menekan emosi justru dapat menambah ketegangan dan stres.

Menekan emosi dapat memicu respons stres dalam tubuh. Ketika emosi seperti kemarahan atau kecemasan ditekan, tubuh masih merasakan ketegangan ini meskipun perasaan tersebut tidak diekspresikan. Ketegangan yang tidak dikeluarkan ini dapat menyebabkan peningkatan hormon stres yang berkontribusi pada gejala fisik seperti sakit kepala, nyeri otot, atau gangguan pencernaan. Salah satu dampak paling umum dari menekan emosi adalah peningkatan ketegangan fisik. Misalnya, seseorang yang menahan rasa marah dapat mengalami ketegangan di leher atau bahu mereka, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah muskuloskeletal atau gejala somatik lainnya.

Oleh sebab itu, kita perlu menggunakan strategi adaptif, seperti reappraisal kognitif yang mampu mengurangi dampak negatif ruminasi pada tubuh kita. Reappraisal kognitif adalah strategi regulasi emosi yang sangat efektif, dimana kita berusaha mengubah cara pandang terhadap situasi stres untuk mengurangi dampak emosionalnya. Strategi ini membantu kita memandang situasi dari sudut pandang yang lebih positif atau produktif, sehingga mengurangi perasaan negatif seperti marah, cemas, atau sedih.

Reappraisal kognitif melibatkan upaya sadar untuk mengganti interpretasi awal (yang sering kali negatif) dengan interpretasi yang lebih konstruktif. Hal ini tidak berarti mengabaikan emosi negatif, tetapi membantu kita mengurangi intensitasnya sehingga lebih mudah diatasi. Daripada merasa kecewa dan berpikir, “Saya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan yang baik”, karena gagal di seleksi wawancara; jauh lebih konstruktif mencoba berpikir, “Mungkin ini bukan jalan saya, dan ada peluang yang lebih baik menunggu di depan.” Hal ini bisa membuat kita tetap semangat untuk mencoba lagi dan lagi.

Karena menekan emosi (supresi emosi) berakibat buruk pada kesehatan mental dan fisik, maka penting untuk mengungkapkan perasaan dengan cara yang sehat, seperti berbicara dengan seseorang yang dipercaya atau menulis jurnal, agar dapat membantu meredakan ketegangan emosional tanpa menyebabkan gejala fisik yang merugikan. Penting juga untuk mempelajari teknik melepaskan emosi destruktif yang tertahan di dalam tubuh. Ketika emosi-emosi ini dibiarkan mengendap, mereka dapat berubah menjadi energi negatif yang memengaruhi kesehatan fisik dan emosional kita. Dengan melepaskannya, kita dapat menciptakan ruang untuk kedamaian dan keseimbangan dalam diri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *