Oleh: Syahril Syam *)
Stan Lee – pencipta dan penulis yang berpengaruh di Marvel Comics – via pamannya Peter Parker (Spider-Man), berkata, “Seiring dengan kekuatan yang besar, datang juga tanggung jawab yang besar.” Dan kita semua memiliki kekuatan yang diberikan oleh Sang Maha Sempurna, sehingga setiap dari kita memiliki tanggung jawab. Oleh sebab itu, mari kita lihat kebenaran prinsip ini sejak awal mula kita hadir ke dunia.
Relasi adalah istilah yang digunakan dalam berbagai konteks untuk menggambarkan hubungan atau keterkaitan antara dua entitas atau lebih. Di kehidupan ini, disadari ataupun tidak, kita selalu memiliki relasi dengan selain diri kita sendiri. Saat lahir ke dunia, kita telah memiliki relasi dengan kedua orang tua kita. Ada ikatan alamiah yang terbentuk, yang biasa disebut ikatan keluarga atau ikatan darah. Dan setiap ikatan berarti ada pengakuan eksistensi antara kedua belah pihak, yang meniscayakan adanya pengakuan hak di antara keduanya.
Pengakuan akan eksistensi dan adanya hak yang dimiliki oleh pihak lain, meniscayakan tanggung jawab yang mesti kita emban dalam memenuhi hak tersebut. Makanya seiring dengan tumbuhnya kekuatan diri kita, kita memiliki tanggung jawab sebagai anak kepada orang tua, dan disaat yang sama orang tua pun memiliki tanggung jawab kepada anaknya yang dimulai semenjak anaknya masih dalam kandungan. Relasi kehidupan ini juga berlaku pada hubungan yang terbangun berdasarkan ikatan yang disadari, seperti ikatan pernikahan ataupun pekerjaan.
Baik pada pernikahan ataupun pekerjaan, ada ikatan yang sengaja dibuat sebagai tanda adanya relasi. Dan karenanya, ada pengakuan eksistensi kepada pihak lain dan disaat yang sama ada hak yang melekat padanya. Hak inilah yang menjadi tanggung jawab kita dalam memenuhinya. Dari hal ini dapat juga terpahami bahwa setiap makhluk memiliki nilai yang melekat bersamaan dengan keberadaan dirinya. Kita menikah dengan pasangan karena – disadari ataupun tidak – kita melihatnya sebagai bernilai bagi diri kita. Hal yang sama juga berlaku pada relasi pekerjaan, relasi keluarga, dan relasi sosial, bahkan relasi dengan seluruh makhluk di alam semesta ini.
Nilai setiap makhluk hadir bersamaan dengan ke-eksistensiannya. Dan karena manusia adalah makhluk yang kadar eksistensinya bisa berubah-ubah, maka nilai dirinya pun senantiasa berubah-ubah. Dulu kita tidak tahu membaca dan berhitung. Namun disaat pengetahuan itu telah melekat kepada jiwa kita, maka kadar eksistensi jiwa (diri) kita pun berubah, sehingga nilai kita pun berubah seiring dengan perubahan kadar eksistensi kita.
Jika relasi kita di dalam kehidupan ini cenderung bersifat timbal balik, maka menariknya, relasi kita dengan Sang Maha Sempurna bersifat satu arah. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengambil keturunan dari sulbi anak-anak Adam dan Dia menjadikan mereka menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Yang demikian itu) supaya kamu tidak dapat mengatakan pada hari kiamat nanti: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (QS 7:172)”.
Ayat di atas seolah ingin menyampaikan kepada kita bahwa satu-satunya yang layak diakui eksistensinya adalah Sang Maha Sempurna. Dan karenanya, ikatan kita dengan Sang Maha Sempurna dimulai saat kita mengakui Eksistensi-Nya, yang sekaligus mengakui Hak-Nya. Dan Hak-Nya adalah tanggung jawab yang mesti dipikul oleh diri kita. Inilah dasar dari hadirnya tanggung jawab pada diri kita, yang hadir dari keniscayaan relasi kehidupan. Sayangnya tanggung jawab ini seringkali terkubur oleh berbagai hasrat jasmani (kecenderungan emosional) yang seringkali berharap keuntungan egoisme semata, tanpa mesti bertanggung jawab.
@pakarpemberdayaandiri











