Kemarau Panjang, Danau Cinere Mengering, Dasar Waduk Berubah Jadi Lapangan Retak

Foto dok detiknews

DEPOK, KINERJAEKSELEN.co  — Dampak kemarau berkepanjangan di kawasan Jabodetabek kian mengkhawatirkan. Salah satu kawasan tangkapan air utama di perbatasan Jakarta-Depok, Danau Cinere yang terletak di kawasan Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere, dilaporkan telah mengering total dan mengalami penyusutan volume air hingga lebih dari 70 persen sejak sebulan terakhir.

Situasi di lokasi menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Waduk yang berfungsi sebagai penampung air hujan ini kehilangan seluruh riak airnya. Area tengah danau kini bertransformasi menjadi hamparan daratan tandus gersang dengan tekstur tanah mengeras yang dipenuhi retakan-retakan dalam akibat sengatan matahari ekstrem.

Rerumputan liar bahkan mulai tumbuh di atas tanah yang semula terendam air.

Fenomena mengeringnya danau ini justru memicu aktivitas baru bagi masyarakat sekitar. Selama sepekan terakhir, puluhan anak-anak hingga orang dewasa berbondong-bondong turun ke dasar cekungan danau untuk memanfaatkan sisa kubangan lumpur.

Berbekal jaring dan karung, mereka mengais lumpur demi menangkap ikan betok serta ikan sapu-sapu yang terjebak di sisa air dangkal. Sayangnya, tidak semua ikan berhasil diselamatkan, ratusan bangkai ikan yang mati kekeringan tampak berserakan di atas tanah pecah-pecah dan mulai menimbulkan aroma menyengat di sekitar area danau.

Penyusutan air secara drastis ini langsung melumpuhkan ekosistem ekonomi kerakyatan setempat Wahana rekreasi air seperti penyewaan perahu bebek kini terhenti total lantaran ketiadaan air.

Kondisi ini membuat kawasan sekitar danau sepi dari pelancong yang biasa berolahraga maupun bersantai di sore hari. Akibatnya, para pedagang UMKM di sekeliling bantaran danau mengeluhkan penurunan pendapatan yang sangat tajam hingga menyentuh angka 50 persen semenjak akhir Agustus lalu.

Dampak kekeringan pun meluas hingga ke sektor domestik, di mana sejumlah pemukiman warga di sekitar Pangkalan Jati mulai mengeluhkan menyusutnya debit air sumur bor akibat hilangnya area resapan utama mereka.

Warga kini berharap adanya langkah cepat dari instansi terkait untuk memanfaatkan momen kekeringan ini dengan melakukan pengerukan sedimen lumpur, sekaligus berharap musim hujan bisa segera tiba agar fungsi ekologis danau kembali pulih.

[nug/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *