Oleh: Syahril Syam *)
Dr. Richard C. Schwartz, seorang psikoterapis keluarga dari Amerika Serikat, mengembangkan pendekatan yang dikenal sebagai Internal Family Systems (IFS) pada awal tahun 1980-an. Awalnya ia bekerja dengan banyak klien yang mengalami trauma dan gangguan makan. Dalam proses terapi, ia menemukan sesuatu yang menarik. Banyak klien secara spontan menggambarkan dirinya seolah-olah terdiri dari beberapa “bagian” (parts) yang saling berbicara dan bahkan saling bertentangan.
Seseorang misalnya berkata, “Ada bagian dari diri saya yang ingin makan berlebihan,” tetapi pada saat yang sama ia juga berkata, “Ada bagian lain yang membenci saya karena melakukan itu.” Dari pengamatan berulang seperti inilah Schwartz mulai menyusun teori bahwa kehidupan batin manusia tidak selalu bekerja sebagai satu suara yang utuh, melainkan seperti sebuah keluarga internal yang terdiri dari berbagai bagian dengan keinginan, ketakutan, dan perannya masing-masing.
Pada pembahasan ini, kita akan melihat bagaimana IFS dan Filsafat Hikmah memandang fenomena yang sama, yaitu adanya berbagai dorongan dalam diri manusia yang seringkali saling bertentangan. Menariknya, keduanya sama-sama mengakui bahwa konflik batin adalah pengalaman yang sangat nyata. Hampir setiap orang pernah mengalaminya.
Misalnya seseorang ingin menabung demi masa depan, tetapi pada saat yang sama muncul dorongan untuk berbelanja. Ada rasa takut menjadi miskin, tetapi juga ada keinginan untuk terlihat sukses dan dihargai orang lain. Ada keinginan hidup sederhana, namun ada pula dorongan untuk mengejar berbagai kesenangan. Dalam pengalaman sehari-hari, semua dorongan ini dapat muncul bersamaan dan membuat seseorang merasa seolah-olah ada banyak suara di dalam dirinya.
Karena itulah dalam IFS sering terdengar ungkapan seperti, “Ada bagian yang takut,” “Ada bagian yang marah,” atau “Ada bagian yang ingin diterima.” Menariknya, seorang pengkaji Filsafat Hikmah juga dapat menggambarkan keadaan yang tampak mirip. Ia mengatakan bahwa daya amarah sedang aktif, daya syahwat sedang aktif, atau daya khayal sedang aktif. Pada tingkat pengalaman batin, kedua cara pandang ini terlihat sangat dekat. Keduanya sama-sama mengakui bahwa manusia tidak selalu bergerak dari satu dorongan yang tunggal dan sederhana.
Namun ketika ditelusuri lebih dalam, keduanya berpisah pada pertanyaan yang sangat mendasar: sebenarnya apa yang ada di dalam diri manusia?
Dalam IFS, berbagai “bagian” tersebut diperlakukan sebagai sub-kepribadian yang relatif mandiri. Ada bagian yang bertugas melindungi, ada yang mengendalikan, ada yang menyimpan luka masa lalu, dan ada yang bereaksi ketika luka itu tersentuh. Masing-masing bagian dianggap memiliki perasaan, tujuan, cara berpikir, dan strategi sendiri.
Dalam terapi, seorang terapis bahkan dapat mengajak klien berdialog dengan bagian-bagian tersebut. Pertanyaan seperti, “Apa yang diinginkan bagian yang marah?” atau “Apa yang ditakuti bagian yang cemas?” merupakan hal yang biasa dalam pendekatan IFS. Walaupun IFS tidak mengatakan bahwa manusia memiliki banyak jiwa secara harfiah, dalam praktiknya bagian-bagian itu diperlakukan seperti individu-individu kecil yang hidup dalam satu sistem psikologis.
Filsafat Hikmah memandang hal ini secara berbeda. Menurut Filsafat Hikmah, di dalam manusia hanya ada satu jiwa. Amarah bukanlah pribadi tersendiri. Syahwat bukanlah pribadi tersendiri. Imajinasi juga bukan pribadi tersendiri. Semua itu hanyalah daya atau kemampuan yang dimiliki oleh satu jiwa yang sama. Analoginya seperti tubuh manusia. Tubuh memiliki mata, telinga, tangan, dan kaki yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Namun keberadaan organ-organ tersebut tidak berarti ada banyak tubuh. Semuanya tetap merupakan bagian dari satu kesatuan. Demikian pula amarah, syahwat, dan imajinasi hanyalah berbagai fungsi yang dimiliki oleh satu jiwa. Karena itu, Filsafat Hikmah tidak mengatakan, “Ada bagian yang marah,” melainkan, “Jiwa sedang mengaktifkan daya amarah.” Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi secara filsafat sangat mendasar karena menyangkut hakikat manusia itu sendiri.
Perbedaan berikutnya terletak pada pertanyaan tentang siapa yang seharusnya memimpin kehidupan batin manusia. Dalam IFS terdapat konsep yang disebut Self. Self dipandang sebagai pusat yang sehat dalam diri manusia. Ketika seseorang berada dalam keadaan Self, ia cenderung tenang, jernih, penuh kasih, percaya diri, dan mampu melihat berbagai bagian dirinya tanpa terjebak di dalamnya. Tujuan terapi IFS adalah membantu Self kembali memimpin sistem internal sehingga berbagai bagian yang selama ini bertentangan dapat bekerja secara lebih harmonis.
Filsafat Hikmah juga mengakui perlunya pusat kepemimpinan dalam diri manusia. Namun pusat tersebut dipahami secara lebih dalam daripada sekadar pusat psikologis. Yang menjadi pemimpin sejati adalah jiwa rasional atau an-nafs an-nathiqah, yaitu dimensi jiwa yang mampu mengenali kebenaran, mengendalikan dorongan-dorongan yang lebih rendah, dan mengarahkan hidup menuju kesempurnaan.
Dalam pandangan ini, manusia tidak hanya diarahkan untuk menjadi lebih tenang atau lebih sehat secara psikologis, tetapi juga untuk semakin mendekat kepada Allah sebagai sumber kesempurnaan tertinggi. Dengan demikian, jika dalam IFS Self adalah pusat sistem psikologis, maka dalam Filsafat Hikmah jiwa adalah pusat eksistensial dan spiritual.
Perbedaan yang lebih besar lagi terlihat pada tujuan akhirnya. IFS pada dasarnya merupakan sebuah model terapi. Karena itu tujuan utamanya adalah membantu seseorang pulih dari trauma, mengurangi konflik batin, memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, dan meningkatkan fungsi psikologis secara umum. Keberhasilan diukur dari sejauh mana seseorang dapat hidup dengan lebih sehat, lebih tenang, dan lebih adaptif.
Filsafat Hikmah memiliki cakrawala yang jauh lebih luas. Kesehatan psikologis memang penting, tetapi itu bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah penyempurnaan eksistensi jiwa. Jiwa dipandang sebagai realitas yang terus berkembang dan bertumbuh. Ia bergerak dari tingkat yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, dari kehidupan yang didominasi dorongan-dorongan material menuju kehidupan yang semakin rasional, spiritual, dan dekat kepada Allah. Dalam perspektif ini, manusia tidak sekadar berusaha menjadi lebih nyaman dengan dirinya sendiri, tetapi berusaha mengalami transformasi pada tingkat keberadaannya.
Perbedaan berikutnya berkaitan dengan sumber munculnya fragmentasi atau konflik internal. Menurut IFS, konflik batin umumnya berakar pada pengalaman traumatis, luka emosional, atau pengalaman masa kecil yang menyakitkan. Ketika seorang anak sering dipermalukan, ditolak, atau tidak mendapatkan rasa aman, maka sistem psikologisnya membentuk berbagai bagian pelindung. Mungkin muncul bagian yang perfeksionis agar tidak lagi dikritik, bagian yang menghindar agar tidak terluka, atau bagian yang selalu mencari pengakuan dari orang lain agar merasa berharga. Fragmentasi dipahami sebagai hasil dari strategi bertahan hidup yang dibangun oleh sistem psikologis untuk menghadapi rasa sakit.
Filsafat Hikmah tidak menolak peran trauma, tetapi memandang bahwa akar persoalan manusia lebih dalam daripada sekadar pengalaman masa lalu. Menurut Filsafat Hikmah, jiwa pada dasarnya sedang berada dalam proses penyempurnaan yang terus berlangsung. Dalam istilah Mulla Sadra, jiwa mengalami harakah jawhariyyah atau gerak substansial, yaitu perubahan dan perkembangan yang terjadi pada tingkat keberadaannya sendiri.
Karena jiwa belum mencapai kesempurnaan, berbagai daya yang dimilikinya seringkali belum tersusun secara harmonis. Akibatnya muncul konflik, ketidakseimbangan, dan kebingungan dalam diri. Dengan kata lain, trauma mungkin memperkuat fragmentasi, tetapi akar terdalamnya adalah bahwa jiwa masih berada dalam perjalanan menuju kesempurnaan.
Jika seluruh perbedaan ini diringkas secara sederhana, maka IFS dapat dikatakan memandang manusia sebagai sebuah sistem yang terdiri dari banyak bagian yang perlu dipimpin oleh Self agar hidup menjadi lebih harmonis. Sebaliknya, Filsafat Hikmah memandang manusia sebagai satu jiwa yang memiliki banyak daya dan kemampuan. Yang tampak sebagai “banyak diri” sebenarnya bukan banyak diri yang sungguh-sungguh terpisah, melainkan berbagai keadaan dan aktivitas dari satu jiwa yang sama.
Karena itu, dari sudut pandang Filsafat Hikmah, masalah utama manusia bukanlah keberadaan banyak sub-kepribadian di dalam dirinya. Masalah utamanya adalah kaburnya pusat kesadaran dan melemahnya kepemimpinan jiwa. Ketika jiwa tidak hadir secara penuh, manusia mudah terseret oleh amarah, syahwat, ketakutan, khayalan, atau berbagai dorongan lain yang silih berganti mengambil alih kendali. Sebaliknya, ketika kesadaran menguat dan jiwa kembali hadir sebagai pemimpin, berbagai daya tersebut dapat bekerja secara teratur dan harmonis.
Inilah sebabnya mengapa dalam tradisi Islam dan Filsafat Hikmah, praktik-praktik seperti dzikir, muraqabah, tazkiyah an-nafs, muhasabah, dan praktik kehadiran (presence) memiliki kedudukan yang sangat penting. Tujuannya bukan untuk menyatukan banyak diri yang terpisah, melainkan untuk mengembalikan perhatian kepada pusat kesadaran yang sejati, sehingga kesatuan jiwa yang sebenarnya memang sudah ada dapat kembali tampak, memimpin, dan mengarahkan seluruh kehidupan menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Allah.
@pakarpemberdayaandiri






