Kesatuan Yang Terlupakan: Mengapa Anda Merasa Terpecah Padahal Jiwa Anda Tetap Satu

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa dirinya terpecah-pecah. Kadang ia ingin melakukan sesuatu, tetapi pada saat yang sama ada bagian lain dalam dirinya yang menolak. Ia ingin berubah, tetapi ada rasa takut. Ia ingin tenang, tetapi pikirannya terus berputar. Pengalaman seperti ini sering membuat kita merasa seolah-olah ada banyak “diri” yang hidup di dalam diri kita.

Namun dalam pandangan filsafat Islam, khususnya menurut Mulla Sadra, kenyataannya tidak demikian. Kesatuan diri sebenarnya sudah ada sejak awal. Yang dimaksud bukan bahwa manusia sejak lahir sudah sempurna atau tidak pernah mengalami konflik batin. Kesatuan yang dimaksud adalah bahwa hakikat yang mengalami seluruh pengalaman hidup itu selalu satu. Yang berubah hanyalah keadaan-keadaan yang dialaminya.

Untuk memahaminya, bayangkan sebuah orkestra. Di dalamnya ada biola, piano, drum, dan berbagai alat musik lainnya. Masing-masing memainkan nada yang berbeda. Ketika konduktor tidak hadir atau tidak menjalankan fungsinya dengan baik, suara yang terdengar menjadi kacau dan tidak harmonis. Kita mungkin merasa seolah-olah ada banyak kelompok musik yang saling bertabrakan.

Padahal sebenarnya tidak pernah ada banyak orkestra. Yang ada tetap satu orkestra. Yang hilang hanyalah pusat koordinasinya. Menurut Mulla Sadra, jiwa manusia juga demikian. Jiwa selalu satu, tetapi kadang-kadang salah satu daya dalam diri – seperti amarah, ketakutan, atau keinginan – mengambil alih kendali sehingga kesatuan jiwa tidak lagi tampak.

Bukti paling sederhana dapat ditemukan dalam pengalaman sehari-hari. Dalam satu hari seseorang bisa merasa senang, lalu sedih, kemudian marah, takut, berharap, dan kecewa. Emosinya terus berubah. Namun ketika ditanya, “Siapa yang marah tadi pagi?” jawabannya adalah, “Saya.” Ketika ditanya lagi, “Siapa yang takut tadi siang?” jawabannya tetap, “Saya.” Dan ketika ditanya, “Siapa yang senang malam ini?” jawabannya juga, “Saya.” Emosi yang muncul memang berbeda-beda, tetapi subjek yang mengalaminya tetap sama. Ada satu “saya” yang hadir di balik seluruh perubahan tersebut.

Keadaan ini dapat dianalogikan dengan langit. Pada pagi hari langit cerah, siang hari berawan, sore hari hujan, dan malam hari gelap. Namun kita tidak mengatakan bahwa ada empat langit yang berbeda. Langitnya tetap satu. Yang berubah hanyalah kondisi yang melintas di dalamnya. Pikiran, emosi, ketakutan, dan keinginan dapat diibaratkan seperti awan yang datang dan pergi. Sementara jiwa adalah seperti langit yang menjadi tempat semua perubahan itu terjadi. Awan dapat berubah bentuk setiap saat, tetapi langit tetap ada sebagai dasar yang menampung semuanya.

Kita juga dapat membuktikan kesatuan ini melalui pengamatan terhadap diri sendiri. Seseorang dapat berkata, “Saya melihat ada ketakutan dalam diri saya.” Di waktu lain ia berkata, “Saya melihat ada kemarahan.” Kemudian ia berkata lagi, “Saya menyadari ada keinginan tertentu.” Pertanyaannya adalah: siapa yang melihat semua itu? Jika ketakutan adalah diri yang sesungguhnya, maka siapa yang menyadari ketakutan tersebut? Jika kemarahan adalah diri yang sesungguhnya, maka siapa yang mengetahui bahwa dirinya sedang marah?

Fakta bahwa kita dapat mengamati berbagai keadaan batin menunjukkan adanya satu pusat kesadaran yang lebih luas daripada seluruh keadaan itu. Ketakutan, kemarahan, dan keinginan adalah isi pengalaman. Sedangkan jiwa adalah subjek yang menyadari seluruh isi tersebut.

Hubungan ini mirip dengan tubuh manusia. Tubuh memiliki mata, telinga, tangan, dan kaki. Masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda. Mata melihat, telinga mendengar, tangan memegang, dan kaki berjalan. Namun tidak ada “tubuh mata” atau “tubuh telinga” yang berdiri sendiri. Semua fungsi itu adalah bagian dari satu tubuh yang sama. Demikian pula jiwa manusia. Di dalamnya terdapat daya berpikir, daya mengingat, daya berimajinasi, daya marah, daya mencintai, dan berbagai kemampuan lainnya. Fungsinya berbeda-beda, tetapi semuanya tetap merupakan ekspresi dari satu jiwa yang sama.

Lalu mengapa manusia sering merasa terfragmentasi? Mengapa ia merasa seolah-olah terdiri dari banyak diri yang saling bertentangan? Menurut Mulla Sadra, hal itu terjadi karena manusia terlalu sering mengidentifikasi dirinya dengan keadaan yang sedang dialaminya. Saat marah, ia merasa dirinya adalah kemarahan itu. Saat takut, ia merasa dirinya adalah ketakutan itu. Saat sedih, ia merasa dirinya adalah kesedihan itu. Akibatnya, kesadarannya terus berpindah-pindah mengikuti gelombang emosi dan pikiran. Dari sinilah muncul pengalaman subjektif bahwa dirinya terpecah menjadi banyak bagian. Padahal yang terjadi bukanlah banyak diri, melainkan satu diri yang tenggelam bergantian dalam berbagai keadaan.

Analogi lain yang sering digunakan adalah layar bioskop. Di atas layar dapat diputar film perang, komedi, tragedi, romantis, atau horor. Adegan yang muncul terus berubah. Terkadang membuat penonton tertawa, terkadang membuat mereka menangis atau takut. Namun layar tempat semua film itu diproyeksikan tetap sama. Sebagian besar manusia terlalu fokus pada film yang sedang diputar sehingga lupa pada keberadaan layar. Dalam pandangan Mulla Sadra, ketakutan, kemarahan, kesedihan, dan keinginan hanyalah film yang muncul silih berganti. Sedangkan jiwa adalah layar kesadaran yang tetap hadir di balik semuanya.

Dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa kesatuan itu dikatakan sudah ada sejak awal dan tidak perlu diciptakan? Alasannya sederhana tetapi sangat penting. Jika kesatuan belum ada, maka harus ada sesuatu yang menyatukan berbagai bagian diri tersebut. Namun siapa yang akan melakukan penyatuan itu? Jika diri benar-benar terdiri dari banyak pusat yang independen dan terpisah, tidak akan ada satu pun pusat yang mampu mengintegrasikan semuanya.

Justru fakta bahwa seseorang dapat berkata, “Saya sedang mengalami konflik batin,” menunjukkan bahwa sudah ada satu “saya” yang menyadari konflik tersebut. Konflik hanya dapat dikenali jika ada suatu kesadaran yang berada di atas pihak-pihak yang berkonflik. Dengan kata lain, kesadaran akan konflik menjadi bukti adanya kesatuan yang lebih dalam daripada konflik itu sendiri.

Karena itu para arif sering mengatakan bahwa manusia sebenarnya tidak kehilangan kesatuan. Yang hilang adalah kesadaran akan kesatuan tersebut. Perbedaannya sangat besar. Seseorang yang bermimpi tersesat mungkin merasa kebingungan dan ketakutan selama mimpi berlangsung. Namun ketika ia terbangun, ia menyadari bahwa sejak awal ia tidak pernah meninggalkan tempat tidurnya. Keadaan tersesat hanya terjadi dalam pengalaman mimpinya. Demikian pula jiwa manusia. Ia tidak benar-benar terpecah. Ia hanya lupa pada pusat dirinya sendiri.

Lalu siapa pusat itu? Dalam pandangan filsafat Islam, pusat tersebut adalah jiwa manusia atau nafs insaniyyah yang sadar. Pusat itu bukan pikiran, bukan emosi, bukan ketakutan, bukan keinginan, bukan amarah, dan bukan imajinasi. Alasannya sederhana: semua itu dapat diamati. Ketika seseorang berkata, “Saya melihat ada rasa takut,” maka rasa takut adalah objek yang diamati, sedangkan “saya” adalah pengamatnya. Ketika seseorang berkata, “Saya menyadari pikiran saya sedang kacau,” maka pikiran menjadi objek, sedangkan “saya” tetap menjadi subjek yang mengetahui keadaan tersebut. Apapun yang dapat diamati tidak mungkin menjadi pengamat terakhir.

Namun jiwa bukanlah benda yang berada di suatu lokasi tertentu dalam tubuh. Jiwa adalah subjek yang mengalami seluruh kehidupan manusia. Ia melihat melalui mata, mendengar melalui telinga, berpikir melalui akal, merasakan melalui emosi, dan mengingat melalui memori. Semua kemampuan itu adalah alat-alat yang digunakan jiwa untuk berhubungan dengan dunia, tetapi jiwa tidak identik dengan salah satu dari alat tersebut.

Pada titik ini muncul pertanyaan yang lebih penting lagi. Jika jiwa adalah pusat integrasi, lalu ke mana jiwa harus mengarahkan dirinya? Dalam tradisi filsafat dan spiritualitas Islam, integrasi diri tidak cukup hanya dengan membuat jiwa memimpin berbagai daya yang ada di dalam diri. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: jiwa memimpin menuju apa? Jika tujuan akhirnya hanya uang, status sosial, popularitas, atau kepuasan ego, maka integrasi yang terbentuk akan selalu rapuh. Sebab semua tujuan itu bersifat sementara dan dapat berubah sewaktu-waktu. Ketika tujuan berubah, konflik baru akan muncul.

Karena itu para filsuf dan arif Islam memandang bahwa jiwa harus kembali kepada sumber keberadaannya sendiri, yaitu Allah. Allah dipahami sebagai Realitas yang absolut, tetap, dan tidak berubah. Ketika jiwa menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi, seluruh daya dalam diri memperoleh orientasi yang sama. Akal tidak lagi bergerak ke satu arah sementara keinginan bergerak ke arah lain.

Emosi, kehendak, pikiran, dan tindakan mulai tersusun dalam satu keselarasan. Seperti alat-alat musik yang akhirnya mengikuti konduktor yang sama, seluruh potensi manusia bergerak menuju tujuan yang satu. Di sinilah integrasi batin menjadi mungkin. Dari integrasi lahir ketenangan. Dari ketenangan lahir kejernihan. Dan dari kejernihan itulah transformasi diri yang sejati dapat berlangsung.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *