Bagaimana Rasanya Menjadi Saya? Dari Pengalaman Emosional Menuju Pembentukan Identitas dan Realitas Hati

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Yang sering tidak disadari banyak orang adalah bahwa seorang anak tidak terutama belajar tentang siapa dirinya dari nasihat, ceramah, atau kalimat yang diucapkan kepadanya. Anak justru belajar mengenali dirinya melalui pengalaman emosional yang berulang dalam hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Dengan kata lain, identitas diri tidak pertama kali terbentuk dari apa yang dipikirkan, melainkan oleh apa yang dialami dan dirasakan secara terus-menerus.

Ketika seorang bayi lahir ke dunia, ia belum memiliki konsep tentang dirinya. Ia belum mampu berpikir, “Saya berharga,” atau “Saya tidak berharga.” Ia juga belum memiliki pemahaman seperti, “Saya dicintai,” atau “Saya ditolak.” Bahkan kemampuan untuk melihat dirinya sebagai individu yang terpisah dari orang lain masih dalam proses perkembangan.

Pada tahap awal kehidupan, yang lebih dahulu hadir bukanlah pikiran atau keyakinan, melainkan pengalaman tubuh, pengalaman emosi, dan pengalaman relasi. Bayi merasakan kenyamanan atau ketidaknyamanan, kehangatan atau keterasingan, kedekatan atau keterpisahan. Karena itulah banyak peneliti perkembangan manusia menyimpulkan bahwa pembentukan diri (self) pada awalnya bersifat afektif atau emosional, dan baru kemudian berkembang menjadi pemahaman kognitif yang lebih sadar.

Bayangkan seorang anak kecil yang menangis karena takut, lapar, atau merasa tidak nyaman. Setiap kali ia menangis, ibunya datang, menggendongnya, menenangkannya, dan berusaha memahami kebutuhannya. Peristiwa ini mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika terjadi berulang kali selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun, otak anak sedang membangun fondasi penting tentang kehidupan dan tentang dirinya sendiri. Ada proses pembelajaran yang sangat mendalam sedang berlangsung di dalam diri anak.

Pada tingkat yang paling dasar, yaitu tingkat tubuh, sistem saraf anak mulai belajar bahwa ketegangan dapat mereda dan rasa tidak nyaman tidak berlangsung selamanya. Tubuh belajar bahwa ketika terjadi gangguan, ada kemungkinan untuk kembali tenang. Pengalaman ini membantu sistem saraf membangun kemampuan regulasi diri; mudah kembali ke kondisi seimbang setelah mengalami stres. Anak tidak memahami proses ini secara intelektual, tetapi tubuhnya merekamnya.

Pada tingkat emosi, anak mulai belajar bahwa ketika ia takut, sedih, atau tertekan, ada seseorang yang hadir untuk menolongnya. Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Sedikit demi sedikit terbentuk pengalaman emosional bahwa dirinya layak mendapatkan perhatian dan dukungan. Pengalaman ini menumbuhkan rasa aman secara emosional yang sangat mendalam.

Pada tingkat makna, otak mulai menyusun kesimpulan-kesimpulan yang tidak disadari. Anak mulai merasakan bahwa dunia cukup aman untuk dijelajahi dan bahwa orang lain pada umumnya dapat dipercaya. Kesimpulan ini belum berbentuk kalimat yang jelas di dalam pikirannya, tetapi sudah menjadi cara bawah sadar dalam memandang kehidupan. Ini tidak lahir dari proses berpikir yang rumit, melainkan dari pengalaman yang terus berulang.

Setelah pengalaman semacam itu terjadi selama bertahun-tahun, terbentuklah tingkat yang lebih dalam lagi, yaitu identitas. Anak mulai membawa keyakinan implisit seperti, “Saya layak diperhatikan,” “Saya pantas dicintai,” atau “Kehadiran saya memiliki nilai.” Dalam teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, pola-pola keyakinan ini disebut internal working model, yaitu cetak biru batin yang digunakan seseorang untuk memahami dirinya dan hubungannya dengan orang lain. Dalam pendekatan terapi emosi yang dikembangkan oleh Leslie Samuel Greenberg, pola tersebut kemudian menjadi bagian dari apa yang disebut emotion scheme.

Namun proses yang sama juga dapat terjadi dalam arah yang berbeda. Seorang anak menangis, tetapi yang diterimanya adalah bentakan, penolakan, atau pengabaian. Ia mendengar kalimat seperti, “Diam!”, “Jangan cengeng!”, atau “Kamu merepotkan!” Bahkan dalam bentuk yang lebih halus, ia mungkin tidak benar-benar didengar, tidak diperhatikan, atau tidak dianggap penting. Jika pengalaman seperti ini hanya terjadi sekali atau dua kali, dampaknya mungkin tidak besar. Namun jika berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, proses pembelajaran yang sama tetap terjadi, hanya hasilnya berbeda.

Pada tingkat tubuh, sistem saraf mulai belajar bahwa ancaman bisa berlangsung lama dan tidak ada jaminan pertolongan akan datang. Tubuh menjadi lebih waspada dan lebih mudah bereaksi terhadap tekanan. Anak hidup dalam kondisi siaga yang lebih tinggi dibandingkan anak yang merasa aman. Ia lebih mudah merasa cemas, tegang, atau sensitif terhadap ancaman.

Pada tingkat emosi, ia mulai belajar bahwa kesedihan, ketakutan, dan kebutuhan emosionalnya tidak diterima. Pesan yang diterima bukan melalui kata-kata, melainkan melalui pengalaman berulang bahwa emosinya tidak dianggap penting. Emosi yang muncul dalam dirinya tidak menemukan tempat yang aman untuk diekspresikan. Karena itu, ia mungkin mulai menekan, menyembunyikan, atau bahkan tidak mengenali emosinya sendiri.

Pada tingkat makna, muncul kesimpulan-kesimpulan tersembunyi seperti, “Ada sesuatu yang salah dengan diri saya,” atau “Kebutuhan saya terlalu banyak.” Sekali lagi, ini bukan hasil pemikiran sadar, melainkan makna yang perlahan terbentuk dari pengalaman hidup.

Setelah bertahun-tahun, makna tersebut berkembang menjadi identitas. Anak mulai memandang dirinya sebagai orang yang tidak penting, tidak cukup baik, atau tidak layak dicintai. Yang penting untuk dipahami adalah bahwa tidak ada anak yang suatu hari duduk dan memutuskan secara sadar, “Saya akan menjadi orang yang merasa tidak berharga.” Identitas seperti itu muncul secara perlahan dari akumulasi pengalaman emosional yang berulang.

Inilah alasan mengapa Greenberg menggunakan istilah emotion scheme. Menurutnya, yang tersimpan di dalam diri manusia bukan sekadar pikiran atau keyakinan yang berdiri sendiri. Sebuah skema emosional merupakan paket lengkap yang berisi emosi, sensasi tubuh, memori, keyakinan, dan pola perilaku yang saling terhubung. Misalnya seseorang memiliki keyakinan, “Saya tidak cukup baik.” Di balik keyakinan tersebut biasanya terdapat emosi seperti malu, takut, dan sedih.

Ada pula sensasi fisik seperti dada terasa sesak, tenggorokan tercekat, atau perut menegang. Selain itu terdapat memori pengalaman masa lalu ketika ia dipermalukan atau ditolak. Semua itu kemudian memengaruhi perilakunya, misalnya menjadi perfeksionis, selalu berusaha menyenangkan orang lain, atau menghindari situasi yang berisiko membuatnya gagal. Jadi yang tersimpan bukan hanya sebuah pikiran, melainkan keseluruhan pengalaman hidup yang terorganisasi menjadi satu pola.

Mengapa pola ini begitu kuat? Salah satu jawabannya datang dari penelitian neurosains modern. Otak manusia pada dasarnya adalah mesin prediksi. Setiap saat otak berusaha memperkirakan apa yang kemungkinan akan terjadi berdasarkan pengalaman masa lalu. Jika seseorang berulang kali mengalami penolakan selama masa pertumbuhannya, otak mulai menganggap bahwa penolakan adalah sesuatu yang normal dan akan terus terjadi.

Akibatnya, ketika menghadapi situasi yang ambigu, otak cenderung menafsirkannya melalui lensa pengalaman lama tersebut. Misalnya ketika seseorang tidak segera membalas pesan, fakta yang sebenarnya hanyalah “pesan belum dibalas”. Namun bagi seseorang yang memiliki skema penolakan, peristiwa itu bisa langsung ditafsirkan sebagai, “Dia tidak menyukai saya,” meskipun belum tentu demikian.

Karena itu Greenberg menemukan bahwa perubahan yang mendalam tidak cukup dicapai hanya dengan mengganti pikiran. Seseorang dapat mengulang afirmasi “Saya berharga” ribuan kali, tetapi jika tubuh, emosi, dan pengalaman terdalamnya masih menyimpan keyakinan “Saya tidak berharga,” maka perubahan biasanya tidak bertahan lama. Perubahan yang sesungguhnya terjadi ketika skema emosional lama memperoleh pengalaman emosional baru yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.

Misalnya seseorang yang sepanjang hidup merasa ditolak akhirnya mengalami hubungan yang penuh penerimaan, didengarkan dengan sungguh-sungguh, dipahami, dan dihargai. Melalui pengalaman baru yang berulang, tubuh mulai belajar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diketahui: mungkin dirinya tidak seburuk yang selama ini diyakini. Karena itulah Greenberg terkenal dengan prinsipnya bahwa emosi tidak berubah terutama melalui logika, tetapi melalui pengalaman emosional baru. Singkatnya, emotion changes emotion.

Jika diterjemahkan ke dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), pengalaman yang berulang membentuk apa yang dapat disebut sebagai “realitas hati”. Hati di sini bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat pengalaman batin seseorang. Jika seseorang terus-menerus hidup dalam ketakutan, rasa malu, iri hati, atau dendam, maka kondisi batin tersebut lambat laun menjadi cara utama ia memandang dunia. Sebaliknya, jika seseorang berulang kali melatih syukur, penerimaan, kehadiran penuh, kasih sayang, dan kesadaran diri, maka struktur batinnya juga akan berubah. Cara ia memandang dirinya, orang lain, dan kehidupan akan ikut berubah.

Hal yang paling menarik adalah bahwa pada dasarnya anak tidak belajar kalimat “Saya dicintai.” Yang sebenarnya dipelajari anak adalah sesuatu yang jauh lebih mendalam, yaitu “Bagaimana rasanya menjadi diri saya.” Ini adalah pengalaman yang jauh lebih dalam daripada sekadar harga diri (self-esteem) atau konsep diri (self-concept). Yang sedang dibentuk adalah pengalaman eksistensial tentang keberadaannya sebagai manusia.

Ketika seorang anak berulang kali diterima, dipahami, dan dihargai, lahirlah pengalaman mendalam bahwa aman menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika ia berulang kali ditolak, dipermalukan, atau diabaikan, muncul pengalaman bahwa menjadi dirinya sendiri adalah sesuatu yang berbahaya. Pengalaman eksistensial inilah yang kemudian terorganisasi menjadi emotion schemes dan akhirnya menjadi bagian dari diri yang ia bawa hingga dewasa.

Oleh karena itu, Greenberg tidak mengatakan bahwa diri manusia terutama dibentuk oleh pikiran tentang diri. Ia menekankan bahwa diri dibentuk oleh pengalaman emosional yang berlangsung terus-menerus. Jauh sebelum seseorang mampu mengucapkan, “Saya berharga,” atau “Saya tidak berharga,” ia telah bertahun-tahun merasakan seperti apa rasanya hidup sebagai dirinya sendiri. Dan dari pengalaman itulah yang perlahan menjadi fondasi identitasnya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *