Oleh: Syahril Syam *)
Mulla Sadra memandang manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses menjadi. Menurutnya, manusia bukanlah entitas yang statis atau tetap seperti benda mati. Jiwa manusia senantiasa bergerak dan berubah melalui apa yang disebut al-ḥarakah al-jawhariyyah atau gerak substansial. Yang dimaksud dengan gerak substansial bukan sekadar perubahan perilaku, suasana hati, atau sifat-sifat luar, melainkan perubahan yang terjadi pada tingkat keberadaan manusia itu sendiri.
Dengan kata lain, setiap pengalaman, pilihan, keyakinan, dan tindakan yang dilakukan seseorang ikut membentuk siapa dirinya pada tingkat yang paling mendasar. Karena itu, kehidupan bukan hanya rangkaian peristiwa yang dialami manusia, tetapi juga proses pembentukan jiwa yang berlangsung terus-menerus sepanjang hidup.
Dalam pandangan ini, manusia tidak sekadar memiliki karakter, tetapi sedang menjadi karakter tersebut. Ketika seseorang berulang kali memilih suatu cara berpikir, merawat keyakinan tertentu, memelihara niat tertentu, dan melakukan tindakan yang sama secara terus-menerus, semua itu tidak berhenti sebagai aktivitas psikologis semata. Pilihan-pilihan tersebut perlahan membentuk struktur batin yang semakin menetap. Oleh sebab itu, bagi Sadra, keputusan manusia memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menentukan hasil suatu tindakan. Setiap keputusan ikut menentukan arah perkembangan jiwa dan kualitas keberadaan seseorang.
Pandangan ini berbeda dari sebagian pendekatan psikologi modern yang umumnya memahami karakter sebagai pola perilaku yang relatif stabil. Dalam psikologi, seseorang disebut sabar karena sering menunjukkan perilaku sabar, atau disebut pemarah karena sering menunjukkan perilaku marah.
Namun bagi Mulla Sadra, karakter atau malakah tidak hanya merupakan kebiasaan psikologis yang tampak dari luar. Karakter yang terus-menerus diulang akan mengubah orientasi jiwa, memperkuat bentuk keberadaannya, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas ontologis manusia, yaitu bagian dari siapa dirinya pada tingkat eksistensi yang paling dalam. Dengan demikian, karakter bukan hanya sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang membentuk keberadaan manusia itu sendiri.
Karena itulah Mulla Sadra memperkenalkan konsep ishtidād al-wujūd atau intensifikasi wujud. Menurut konsep ini, jiwa manusia tidak hanya berubah, tetapi juga dapat mengalami penguatan atau pelemahan dalam tingkat keberadaannya. Jiwa dapat menjadi lebih matang, lebih luas, lebih sadar, dan lebih dekat kepada kesempurnaan. Sebaliknya, jiwa juga dapat menjadi semakin sempit, semakin terikat oleh ketakutan, hawa nafsu, atau ilusi tentang dirinya. Dengan kata lain, perubahan manusia bukan sekadar perubahan arah, tetapi juga perubahan kualitas keberadaan.
Jika ditanya apakah gerak jiwa hanya memiliki dua arah, secara umum jawabannya adalah ya. Namun Sadra tidak merumuskannya dalam bahasa moral yang sederhana seperti baik dan buruk. Ia menjelaskannya sebagai gerak menuju kesempurnaan wujud atau menjauh dari kesempurnaan wujud.
Dalam filsafatnya, sesuatu disebut baik karena menyempurnakan keberadaan, sedangkan sesuatu disebut buruk karena menghalangi atau melemahkan kesempurnaan keberadaan. Oleh karena itu, ukuran utama bukanlah label moral semata, melainkan apakah suatu pilihan membuat jiwa semakin berkembang atau justru semakin terperangkap dalam keterbatasan dirinya.
Dari sudut pandang SAT (Self Awareness Transformation), gagasan ini dapat dipahami melalui rantai proses yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Setiap manusia memiliki apa yang disebut klaim eksistensial, yaitu keyakinan tentang apa yang dianggap sebagai sumber nilai, keamanan, atau keberadaannya. Klaim ini kemudian melahirkan prediksi mental atau wahm, yaitu berbagai tafsiran dan asumsi tentang realitas.
Prediksi mental tersebut memunculkan emosi, emosi memengaruhi tindakan, tindakan yang diulang menjadi karakter, dan karakter yang terus berulang akhirnya membentuk struktur jiwa. Dengan demikian, karakter bukanlah titik akhir perjalanan manusia. Karakter hanyalah jembatan yang menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan pembentukan kualitas jiwa yang lebih mendalam.
Dalam kerangka ini, setiap peristiwa kehidupan sesungguhnya berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi jiwa. Kesulitan hidup seringkali menyingkap klaim eksistensial yang tersembunyi. Ketika seseorang merasa sangat marah, takut, cemas, atau kecewa, seringkali di balik emosi tersebut terdapat keyakinan tertentu yang sedang dipertahankan, misalnya keyakinan bahwa dirinya hanya berharga jika dihargai orang lain, hanya aman jika memiliki kekuasaan, atau hanya bernilai jika berhasil.
Menariknya, bukan hanya kesulitan yang dapat menyingkap klaim eksistensial. Kemudahan, keberhasilan, pujian, dan kenyamanan juga dapat memperlihatkan apa yang sebenarnya dijadikan sandaran oleh seseorang dalam hidupnya.
Pada titik inilah ujian kehidupan memainkan perannya. Setiap pengalaman memberikan kesempatan kepada manusia untuk merespons. Respons tersebut dapat memperkuat klaim eksistensial lama atau justru membantu melepaskannya. Jika seseorang terus-menerus merespons pengalaman dengan ketakutan, kemarahan, defensif, dan sikap yang berpusat pada ego, maka pola tersebut lambat laun menjadi karakter.
Sebaliknya, jika seseorang berulang kali merespons dengan kesadaran, refleksi, kehadiran batin, dan ketergantungan kepada Allah, maka pola tersebut juga akan berkembang menjadi karakter yang kuat. Karakter tidak terbentuk dalam satu kejadian besar, melainkan melalui pengulangan respons yang sama dari waktu ke waktu.
Seiring berjalannya waktu, karakter yang terus diulang akan membentuk kualitas jiwa. Jiwa yang terbiasa hidup dalam reaktivitas akan semakin mudah terjebak dalam kecemasan, ketakutan, dan konflik batin. Sebaliknya, jiwa yang terbiasa hidup dalam kesadaran dan kehadiran akan semakin stabil, tenang, dan terbuka terhadap realitas. Dengan demikian, setiap tindakan yang tampaknya sederhana sesungguhnya memiliki konsekuensi eksistensial. Apa yang dipilih hari ini perlahan menjadi siapa diri seseorang di masa depan.
Dari perspektif SAT yang terinspirasi oleh filsafat Mulla Sadra, manusia pada hakikatnya sedang mengalami gerak eksistensial setiap saat. Tidak ada momen yang benar-benar netral. Setiap pengalaman mengundang respons, setiap respons yang berulang membentuk karakter, karakter membentuk struktur jiwa, dan struktur jiwa membentuk kualitas keberadaan manusia.
Pada akhirnya, kualitas keberadaan inilah yang menentukan apakah seseorang semakin dekat kepada Allah sebagai Sumber Keberadaan atau semakin jauh dari-Nya. Kedekatan kepada Allah melahirkan keluasan, ketenangan, dan kebahagiaan yang dalam, sedangkan keterpisahan dari sumber keberadaan melahirkan penyempitan, kegelisahan, dan penderitaan. Dalam pengertian ini, surga dan neraka bukan hanya realitas yang akan datang, tetapi juga mulai terbentuk sejak sekarang melalui arah gerak jiwa yang dipilih manusia dalam setiap momen kehidupannya.
@pakarpemberdayaandiri






