Oleh: Syahril Syam *)
Banyak orang memandang kehidupan dunia sebagai arena untuk mencari kenyamanan, keamanan, kesenangan, atau keberhasilan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Islam tidak melarang manusia mencari rezeki, membangun keluarga, menikmati keindahan, atau menciptakan kehidupan yang lebih baik. Namun pertanyaannya adalah: apakah semua itu merupakan tujuan akhir keberadaan manusia?
Jika kenyamanan adalah tujuan utama, maka setiap kesulitan akan tampak sebagai kegagalan. Jika kesenangan adalah tujuan utama, maka penderitaan menjadi sesuatu yang tidak memiliki makna. Padahal realitas kehidupan menunjukkan bahwa kesulitan, kehilangan, tantangan, dan ketidakpastian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kehadiran semua itu menunjukkan bahwa dunia tampaknya tidak dirancang semata-mata untuk membuat manusia nyaman, melainkan untuk membentuk dan mengembangkan dirinya.
Dalam perspektif Islam, tujuan yang lebih mendasar dari kehidupan adalah perjalanan penyempurnaan jiwa menuju Allah. Dunia adalah ruang pertumbuhan, bukan tujuan akhir. Ia merupakan tempat dimana potensi-potensi yang masih tersembunyi dalam diri manusia diberi kesempatan untuk muncul dan berkembang menjadi kenyataan.
Seseorang mungkin memiliki potensi kesabaran, tetapi kesabaran tidak akan pernah menjadi nyata tanpa ujian. Ia mungkin memiliki potensi keberanian, tetapi keberanian tidak akan pernah teraktualisasi tanpa rasa takut yang harus dihadapi. Ia mungkin memiliki potensi kasih sayang, tetapi kasih sayang tidak akan berkembang tanpa kehadiran orang lain yang membutuhkan perhatian dan pengorbanan.
Dengan kata lain, banyak kualitas luhur tidak lahir dalam keadaan serba mudah. Justru melalui berbagai peristiwa kehidupan, potensi-potensi jiwa bergerak dari kemungkinan menjadi kenyataan. Apa yang sebelumnya hanya tersimpan sebagai kapasitas batin perlahan berubah menjadi karakter yang nyata.
Karena itu, nilai sebuah peristiwa tidak hanya terletak pada apa yang terjadi, tetapi pada apa yang sedang dibentuk oleh peristiwa tersebut dalam diri manusia. Kesuksesan dapat melahirkan syukur atau kesombongan. Kegagalan dapat melahirkan keputusasaan atau kebijaksanaan. Kekuasaan dapat melahirkan kezaliman atau tanggung jawab. Peristiwa yang sama dapat menghasilkan manusia yang berbeda karena yang menentukan bukan hanya keadaan eksternal, melainkan respons internal terhadap keadaan tersebut.
Di sinilah makna penting kebebasan memilih. Dunia menjadi bermakna karena manusia tidak sekadar bereaksi terhadap keadaan, tetapi memiliki kemampuan untuk menentukan sikap batinnya. Pilihan-pilihan inilah yang secara bertahap membentuk kualitas jiwanya. Setiap keputusan, sekecil apapun, ikut menentukan arah pertumbuhan dirinya.
Dari sudut pandang ini, kehidupan bukan hanya rangkaian kejadian yang harus dilewati. Kehidupan adalah proses pembentukan diri. Manusia tidak hanya mengalami dunia, tetapi juga sedang membangun siapa dirinya melalui pengalaman-pengalaman itu. Dunia menjadi semacam “ruang pendidikan eksistensial” dimana jiwa terus ditempa, diuji, dan disempurnakan.
Karena itu, pertanyaan terpenting dalam hidup bukan hanya, “Apa yang terjadi kepadaku?” tetapi juga, “Menjadi pribadi seperti apa aku melalui apa yang terjadi kepadaku?” Pertanyaan pertama berfokus pada peristiwa, sedangkan pertanyaan kedua berfokus pada pertumbuhan jiwa.
Pada akhirnya, yang menentukan nilai kehidupan seseorang bukan semata-mata banyaknya harta yang dikumpulkan, kenyamanan yang dinikmati, atau keberhasilan yang diraih. Yang paling menentukan adalah kualitas jiwa yang terbentuk selama perjalanan hidup tersebut. Sebab dunia pada hakikatnya bukan hanya tempat untuk hidup, melainkan tempat untuk menjadi.
Dan dalam proses “menjadi” itulah manusia bergerak menuju tujuan terdalam keberadaannya: semakin menyempurnakan dirinya sebagai hamba dan semakin mendekat kepada Allah. Dengan demikian, setiap peristiwa kehidupan bukan sekadar sesuatu yang dialami, tetapi juga kesempatan untuk mengaktualkan potensi-potensi terbaik yang telah Allah titipkan dalam jiwa manusia.
@pakarpemberdayaandiri






