Oleh: Syahril Syam *)
Hidup ini seperti kita sedang menjalani masa sekolah. Di sekolah, kita punya buku pelajaran, ruang kelas, ujian harian, tugas, dan waktu belajar. Semua itu mewakili dunia – tempat kita menjalani proses, mengalami suka dan duka, belajar dari kesalahan, dan tumbuh. Lalu, tujuan utama kita sekolah apa? Bukan sekadar duduk di kelas atau mengisi buku latihan, tapi kelulusan, ijazah, dan masa depan setelah lulus, dan inilah gambaran dari akhirat. Jadi pertanyaannya: apakah kita belajar hanya 50% untuk masa depan, dan 50% sisanya untuk menikmati duduk di kelas atau menghias buku catatan? Tentu tidak. Kita belajar 100% demi masa depan kita, hanya saja semua prosesnya terjadi di dalam sekolah itu.
Dalam kehidupan ini, sebenarnya tidak ada satu pun aktivitas duniawi yang benar-benar terpisah dari nilai-nilai akhirat. Segala sesuatu yang kita lakukan di dunia – seperti bekerja, menikah, atau bahkan sekadar makan – bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam jika dilandasi dengan niat yang benar, yaitu niat karena Sang Maha Sempurna atau niat Ilahi. Artinya, meskipun kegiatan tersebut tampak seperti urusan dunia, ia tetap bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual kita menuju kebaikan yang abadi.
Ketika seseorang bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk menafkahi keluarga dengan penuh tanggung jawab, maka pekerjaannya menjadi amal. Ketika menikah diniatkan untuk menjaga kehormatan diri dan membangun keluarga yang diridhai Sang Maha Sempurna, maka pernikahan itu menjadi ibadah. Bahkan makan pun bisa bernilai akhirat jika tujuannya untuk menjaga kesehatan agar bisa terus beribadah dan berbuat baik. Dengan kata lain, dunia dan akhirat bukan dua hal yang sepenuhnya terpisah. Dunia bisa menjadi jalan menuju akhirat, selama hati kita menanamkan niat yang tepat dan sadar akan tujuan hidup yang lebih tinggi.
Alam dunia memang merupakan jenjang terendah dalam tingkatan eksistensi, jika dibandingkan dengan alam ruh, alam malakut, atau alam akhirat. Namun, justru dunia inilah satu-satunya tempat dimana jiwa manusia bisa benar-benar mengaktualkan potensinya.
Dunia adalah medan ujian, tempat latihan, dan arena perjuangan spiritual yang sangat penting. Karena itu, dunia bukan sesuatu yang harus ditolak atau dianggap rendah tanpa makna. Sebaliknya, dunia harus dipandang sebagai wasilah, yaitu sarana atau alat untuk mencapai tujuan yang jauh lebih tinggi: kedekatan dengan Sang Maha Sempurna dan kesempurnaan ruhani. Melalui pengalaman hidup di dunia ini – suka, duka, tantangan, dan nikmat – manusia punya kesempatan untuk menyempurnakan dirinya, memperbaiki hatinya, dan tumbuh secara spiritual.
Segala hal yang kita jalani di dunia ini memang penting dan tidak bisa diabaikan. Melalui berbagai peran dan pengalaman itu, kita belajar menjadi pribadi yang lebih sabar saat menghadapi ujian, lebih ikhlas dalam memberi dan menerima, lebih bersyukur atas nikmat kecil maupun besar, lebih pemaaf terhadap kesalahan orang lain, dan lebih bijaksana dalam menyikapi kehidupan. Inilah inti dari kehidupan dunia: bukan sekadar untuk bertahan atau menikmati, tapi untuk menjadi – menjadi pribadi yang semakin matang secara ruhani. Oleh karena itu, dunia ini bukan tempat tinggal abadi, melainkan tempat pembentukan diri, tempat jiwa dilatih agar layak mendekat kepada Sang Maha Sempurna.
Dalam pandangan yang lebih utuh tentang hidup, setiap aspek duniawi memiliki tempat dan fungsi yang lebih dalam daripada sekadar pemuas keinginan. Tubuh, misalnya, bukan sesuatu yang harus disembah atau dijadikan pusat perhatian, melainkan dijaga dan dirawat agar tidak mengganggu perjalanan jiwa dalam mencapai tujuan spiritualnya. Uang pun bukan tujuan hidup, tapi sarana penting yang bisa digunakan untuk mengaktualkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, kemurahan hati, dan ketulusan. Keluarga bukan sekadar tempat mencari kenyamanan emosional, tetapi sebuah madrasah ruhani – tempat dimana jiwa-jiwa ditempa dengan cinta, kesabaran, dan tanggung jawab.
Ilmu seharusnya tidak menjadi sumber kesombongan, melainkan cahaya yang menerangi jalan pencerahan dan memperluas kesadaran. Kekuasaan juga bukan simbol kehormatan pribadi, tapi amanah yang berat untuk menjaga keadilan dan keberlangsungan kehidupan secara eksistensial. Bahkan kegagalan, kesedihan, dan ujian tidak perlu dianggap sebagai kutukan atau nasib buruk, melainkan sebagai cermin transendensi – momen-momen penting yang mengajak kita melihat ke dalam, bertumbuh, dan mendekat kepada makna hidup yang lebih tinggi. Semua ini menegaskan bahwa dunia adalah ladang latihan jiwa, bukan panggung glamor ego.
Kita menjalani dunia sepenuhnya, tapi bukan untuk dunia itu sendiri. Kita bekerja, menikah, belajar, dan berjuang bukan karena dunia adalah tujuan akhir, melainkan karena semua itu adalah bagian dari proses mendewasakan jiwa agar kita layak meraih “kelulusan sejati”, yaitu kedekatan dengan Sang Maha Sempurna dan kebahagiaan abadi di akhirat. Jadi, akhirat adalah 100% tujuan dan dunia adalah 100% alat untuk tujuan itu. Maka, hidup yang sejati bukan tentang memilih antara dunia atau akhirat, melainkan menggunakan dunia sepenuhnya sebagai jalan menuju akhirat. Siapapun yang menjadikan dunia sebagai alat, ia akan naik dan siapapun yang menjadikannya sebagai tujuan, ia akan jatuh.
@pakarpemberdayaandiri






