Keberanian Menerima Kenyataan Hidup – Ridha dan Acceptance Sebagai Pilar Ketahanan Emosional

Foto ilustrasi

Oleh: Syahril Syam *)

Mari kita lihat satu contoh, seseorang yang sedang berdiri di tengah hujan deras, tapi ia terus-menerus berteriak marah pada langit, “Kenapa harus hujan sekarang?! Kenapa ini terjadi padaku?!” Ia tidak segera mencari tempat berteduh atau membuka payung. Ia hanya terpaku di situ, basah kuyup, marah, dan semakin kedinginan. Itulah gambaran orang yang tidak mau menerima kenyataan hidup. Ia terus-menerus terjebak dalam pertanyaan yang tak punya jawaban pasti, seperti “Mengapa ini terjadi padaku?” Pertanyaan itu seperti pusaran air yang menariknya ke dalam, membuat emosi destruktif seperti marah, sedih, atau kecewa semakin lama tinggal di dalam hati.

Penolakan terhadap kenyataan bukan mengurangi rasa sakit, justru membuatnya semakin berat. Seperti luka yang tak diberi obat karena dianggap tak seharusnya ada, penderitaan pun menjadi panjang, berlarut-larut, dan melelahkan. Padahal, terkadang kekuatan sejati muncul saat kita berhenti melawan hujan, membuka payung, dan berkata, “Baiklah, ini kenyataannya. Sekarang, apa yang bisa kulakukan?” Menerima kenyataan hidup adalah gerbang pertama dari kedewasaan emosional dan spiritual. Ia bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan batin untuk melihat hidup apa adanya, lalu tetap memilih melangkah dengan sadar.

Menerima kenyataan hidup adalah kemampuan untuk mengakui dan menghadapi peristiwa, emosi, dan keadaan sebagaimana adanya, tanpa penolakan, penghindaran, atau perlawanan emosional, meskipun keadaan tersebut tidak sesuai dengan harapan atau keinginan pribadi. Penerimaan ini tidak sama dengan menyukai kenyataan itu, melainkan tidak melawan fakta bahwa kenyataan itu ada, serta memilih untuk merespons dengan bijak, bukan reaktif. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai bagian dari acceptance-based coping dan menjadi inti dalam pendekatan dari Acceptance and Commitment Therapy (ACT).

Menerima kenyataan hidup adalah pintu awal dari perjalanan menuju ridha, sedangkan ridha adalah maqam tinggi dimana hati tidak hanya berhenti melawan kenyataan, tetapi juga mencintai dan merasa tenteram dengan kehendak Sang Maha Sempurna dalam segala bentuknya. Ridha adalah tingkat tertinggi dari penerimaan, yang tidak hanya pasrah, tetapi juga menemukan ketenangan dan cinta dalam keputusan Sang Maha Sempurna, bahkan terhadap hal-hal yang tidak disukai. Maka, semua orang yang ridha pasti menerima kenyataan, tapi tidak semua yang menerima kenyataan pasti telah mencapai maqam (level) ridha.

Secara bahasa, ridha berarti: senang, puas, atau rela terhadap sesuatu. Secara teologis, ridha adalah keadaan jiwa yang rela dan tenang terhadap keputusan Sang Maha Sempurna, disertai keyakinan bahwa apapun yang ditentukan-Nya adalah kebaikan mutlak bagi hamba tersebut, meskipun tampak menyakitkan atau bertentangan dengan keinginan nafsu.

Seseorang yang belum mencapai kondisi ridha seringkali tampak seolah-olah menerima keadaan secara lahiriah, namun di dalam hatinya masih menyimpan gelombang penolakan yang halus tapi nyata. Ia mungkin berkata, “Saya terima”, namun ucapan itu belum sepenuhnya selaras dengan isi hatinya, sebab diam-diam masih ada amarah, keluhan, atau protes tersembunyi terhadap takdir yang menimpa. Dalam ilmu psikologi, ini bisa disebut sebagai bentuk incongruity antara ekspresi luar dan kondisi batin, yang bila dibiarkan terus-menerus dapat menimbulkan stres emosional tersembunyi.

Salah satu ciri lain dari belum tercapainya ridha adalah ketidakmampuan untuk melihat makna atau hikmah dari peristiwa yang terjadi. Segala sesuatu yang tidak sesuai harapan dianggap sebagai kesialan semata, bukan bagian dari proses pertumbuhan atau pelajaran hidup. Akibatnya, individu cenderung terjebak dalam siklus ketidakpuasan yang berkepanjangan, meskipun secara kasat mata terlihat “menerima”.

Sebaliknya, orang yang telah mencapai ridha menunjukkan tanda penerimaan yang tenang, jernih, dan penuh keyakinan terhadap apapun yang terjadi dalam hidupnya, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ia tidak menyimpan kebencian, penolakan, atau protes tersembunyi terhadap takdir, karena dalam dirinya tumbuh kesadaran bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari proses pembentukan jiwa dan pendewasaan spiritual.

Dalam pandangan psikologi, kondisi ini mencerminkan penerimaan batiniah yang utuh (inner acceptance), yang mampu meredakan konflik internal dan menumbuhkan ketenangan emosional. Dalam istilah para arif, ridha adalah keadaan ketika antara kehendak manusia dan kehendak Sang Maha Sempurna tidak lagi berselisih – hati tidak lagi menginginkan sesuatu yang berbeda dari apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Dengan begitu, orang yang ridha bukan hanya “tunduk” secara pasif, melainkan bersatu secara aktif dan sadar dengan arus ketetapan Ilahi, yang justru memperkuat daya tahan mental dan spiritualnya dalam menghadapi hidup

Secara psikologis, konsep ini memiliki padanan (serupa tapi tak sama) yang disebut acceptance dalam berbagai aliran psikologi kontemporer. Acceptance didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengizinkan pengalaman hidup yang tidak diinginkan (seperti kesedihan, kegagalan, atau kemarahan) hadir tanpa berusaha menolaknya, mengubahnya, atau bereaksi negatif terhadapnya. Dalam Acceptance and Commitment Therapy (ACT), sikap ini dipandang sebagai elemen penting dalam kesehatan mental, karena ia memungkinkan individu untuk tetap bertindak selaras dengan nilai-nilainya, meskipun di tengah kondisi yang sulit.

Ketika seseorang tidak menerima kenyataan hidup, baik dalam perspektif teologis maupun psikologis, maka yang muncul adalah perlawanan batin yang menguras energi psikis. Dalam psikologi barat, hal ini dikenal sebagai non-acceptance of emotional responses, salah satu indikator dari gangguan regulasi emosi, yang dapat menyebabkan depresi, kemarahan intens, bahkan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Ketika seseorang menolak kenyataan hidup, berbagai konsekuensi negatif dapat muncul.

Secara spiritual, ia kehilangan kepercayaan kepada Sang Maha Sempurna, sulit bersabar, dan larut dalam keluhan. Secara psikologis, individu tersebut menjadi lebih mudah marah, cemas, atau depresi. Mereka terjebak dalam pola pikir “seharusnya ini tidak terjadi”, yang hanya memperpanjang penderitaan. Dalam psikologi, kondisi ini disebut experiential avoidance, yaitu usaha keras untuk menghindari kenyataan emosional yang tidak menyenangkan, yang justru memperparah tekanan batin.

Penelitian yang dilakukan oleh Shallcross, Troy, Boland, dan Mauss (2010) dalam Journal of Behaviour Research and Therapy menunjukkan bahwa individu yang terbiasa menerima emosi negatif – daripada menghakiminya atau menolaknya – memiliki respons emosional yang lebih tenang dalam menghadapi stres. Mereka tidak hanya lebih resilien secara emosional, tetapi juga lebih mampu pulih dari pengalaman traumatik.

Ini menunjukkan adanya konsistensi antara konsep ridha dengan konsep acceptance yang dipahami dalam terapi psikologis: keduanya mengarah pada penguatan daya tahan batin. Menerima kenyataan hidup bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan spiritual dan mental yang telah terbukti dalam ajaran Islam dan dibuktikan oleh ilmu psikologi modern.

Dengan demikian, ridha dan acceptance dapat dipandang sebagai pilar ketahanan emosional yang saling menguatkan dari dua pendekatan berbeda – spiritual dan ilmiah. Keduanya menuntut kesadaran penuh terhadap kenyataan, penerimaan terhadap keterbatasan kendali, serta orientasi pada tindakan yang bernilai. Orang yang ridha tidak berhenti berjuang; ia justru lebih tenang dalam berjuang, karena tidak dibebani oleh perlawanan batin terhadap apa yang sudah terjadi. Ia tidak jatuh karena musibah, melainkan berdiri dengan keyakinan bahwa ada kebijaksanaan Sang Maha Sempurna yang sedang bekerja. Ridha membebaskan jiwa dari pemberontakan batin, sementara acceptance membebaskan pikiran dari reaktivitas emosional – dan keduanya membawa kita menuju ketenangan, kejelasan, dan pertumbuhan yang sejati.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *