Mengapa Hingga Bisa Egois

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Selfish berarti hidup berpusat pada diri sendiri: hanya memikirkan kebutuhan, keinginan, keuntungan, atau kenyamanan pribadi, meski harus mengorbankan orang lain atau nilai kebaikan. Tapi selfish bukan hanya soal tindakan lahiriah (seperti rakus, egois, sombong). Di balik itu, ada akar psikologis dan spiritual yang jauh lebih dalam. Akar pertama, Rasa Kurang (Inner Lack).

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang bersikap egois bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka merasa ada yang kurang di dalam diri mereka. Perasaan seperti “Saya belum cukup”, “Saya harus punya lebih agar aman”, atau “Kalau saya tidak ambil duluan, saya akan rugi”, seringkali muncul tanpa disadari. Ini adalah gejala dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu keyakinan tersembunyi bahwa ada kekosongan di dalam diri yang harus diisi dengan hal-hal dari luar, seperti uang, perhatian, atau kekuasaan.

Secara psikologis, pola pikir ini dikenal sebagai scarcity mindset atau pola pikir kekurangan. Banyak orang membawa pola ini sejak kecil, terutama jika mereka pernah mengalami penolakan, kurang kasih sayang, atau sering dibandingkan dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman ini menanamkan keyakinan bahwa dunia adalah tempat yang penuh persaingan, dimana hanya yang tercepat dan terkuat yang bisa bertahan. Akibatnya, mereka merasa harus terus berlomba mendapatkan sesuatu agar merasa aman dan cukup, meskipun dalam kenyataannya, rasa “cukup” itu tidak pernah benar-benar datang.

Sementara itu, dari sudut pandang spiritual, rasa kurang ini muncul karena kita lupa akan siapa diri kita sebenarnya. Ketika seseorang menjauh dari kesadaran bahwa dirinya adalah ciptaan Sang Maha Sempurna yang utuh, sempurna, dan berharga, maka ia mulai merasa hampa. Hatinya menjadi seperti lubang tak berdasar – tidak peduli seberapa banyak ia mengisi hidupnya dengan harta, pujian, atau cinta dari sesama manusia, perasaan kosong itu tetap ada. Semakin ia mencari di luar, semakin ia kehilangan kedamaian di dalam.

Dengan menyadari akar rasa kurang ini, kita bisa mulai mengubah cara pandang terhadap hidup. Bukan lagi berfokus pada apa yang tidak kita miliki, melainkan menyadari bahwa keberhargaan kita tidak tergantung pada pencapaian atau penilaian luar.

Akar Kedua, Takut. Sikap egois pada banyak orang terjadi karena dorongan rasa takut yang kuat di dalam diri mereka. Takut kehilangan sesuatu yang berharga, takut tidak punya cukup, takut tidak dihargai, takut disakiti, atau takut kalah dari orang lain.

Semua rasa takut ini membuat seseorang cenderung berpikir, “Lebih aman kalau saya utamakan diri sendiri dulu, daripada nanti saya yang rugi.” Tanpa disadari, rasa takut itu memicu dorongan untuk terus melindungi diri, meskipun dengan cara yang menutup hati terhadap orang lain.

Dalam psikologi, rasa takut seperti ini sering berakar dari luka masa lalu – baik itu karena sering dihina, mengalami kegagalan, diabaikan, atau tidak pernah merasa cukup aman secara emosional. Luka-luka tersebut membuat otak dan tubuh terbiasa berada dalam mode bertahan hidup (fight or flight).

Ketika berada dalam mode ini, seseorang tidak lagi berpikir panjang atau mempertimbangkan perasaan orang lain; yang ada hanyalah dorongan untuk menyelamatkan diri secepat mungkin. Di sinilah ego berperan sebagai “benteng pertahanan” – sebuah mekanisme perlindungan yang mendorong seseorang untuk memprioritaskan dirinya di atas segalanya.

Dari sudut pandang spiritual, rasa takut muncul ketika seseorang lupa bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam perlindungan dan pengaturan Sang Maha Sempurna. Ketika keyakinan akan kecukupan dan penjagaan Sang Maha Sempurna mulai goyah, seseorang akan mudah merasa cemas, gelisah, dan terdorong untuk mengendalikan segala sesuatu sendiri. Ia merasa harus bekerja keras untuk memastikan hidupnya aman, padahal ketenangan sejati justru hadir ketika seseorang percaya bahwa ia tidak berjalan sendiri.

Jika seseorang benar-benar yakin bahwa Sang Maha Sempurna mencukupinya, maka ia tidak akan merasa perlu bersikap egois hanya demi bertahan. Memahami bahwa akar egoisme bisa berasal dari ketakutan yang dalam, membantu kita lebih jujur dan lembut pada diri sendiri. Rasa takut bukan untuk ditolak, tapi untuk disadari dan disembuhkan.

Akar Ketiga, Haus Pengakuan. Salah satu alasan mengapa seseorang bisa bersikap egois adalah karena ia sangat haus akan pengakuan. Ia ingin dianggap hebat, ingin disukai, ingin dihargai, dan ingin terlihat penting di mata orang lain. Di balik sikap yang tampak ambisius atau percaya diri, sering tersembunyi dorongan kuat untuk diakui oleh dunia. Ia merasa harus membuktikan siapa dirinya, bahkan terkadang berjuang keras atau memaksa agar orang lain melihat dan mengaguminya.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai narcissistic wound, yaitu luka batin yang muncul karena tidak pernah merasa cukup dicintai, cukup dihargai, atau cukup diterima. Seseorang dengan luka ini mungkin terlihat sangat percaya diri di luar, tapi sebenarnya rapuh dan penuh kecemasan di dalam.

Ia menggantungkan harga dirinya pada pujian dan validasi dari orang lain. Sayangnya, semakin banyak pengakuan yang ia dapat, justru semakin besar rasa butuhnya. Karena pada dasarnya, pengakuan dari luar tidak pernah benar-benar bisa mengisi kekosongan di dalam. Secara spiritual, haus pengakuan ini mencerminkan keterputusan dari sumber harga diri yang sejati, yaitu Sang Maha Sempurna.

Ketika seseorang tidak sadar bahwa nilainya berasal dari Sang Pencipta, maka ia akan terus mencari nilai dirinya dari penilaian manusia. Akibatnya, hidupnya menjadi sangat bergantung pada apa kata orang – mudah terbang saat dipuji, dan mudah runtuh saat dicela. Dalam kondisi ini, seseorang menjadi seperti budak yang dikendalikan oleh pendapat dan pengakuan dari sekelilingnya.

Namun dalam perjalanan spiritual yang lebih dalam, diajarkan bahwa orang yang sungguh mengenal Sang Maha Sempurna tidak lagi menuntut tempat di hati manusia. Ia telah meleburkan ego (fana’) dan menemukan ketenangan dalam pandangan Sang Maha Sempurna saja. Ia tidak lagi perlu membuktikan dirinya, karena ia tahu bahwa dirinya sudah berharga sejak awal. Dan dari tempat inilah, seseorang bisa bersikap lebih tulus, tidak lagi sibuk dengan pencitraan, dan hidup dengan hati yang merdeka.

Dengan menyadari akar ketiga ini – haus pengakuan – kita belajar bahwa kebebasan sejati bukanlah saat semua orang mengenal kita, tapi saat kita tidak lagi bergantung pada pengakuan siapa pun untuk merasa utuh.

Jadi, selfish adalah gejala. Rasa kurang, takut, dan haus pengakuan adalah akar yang tersembunyi. Oleh sebab itu, selfless (mengutamakan kepentingan orang lain) adalah buah dari jiwa yang sembuh. Selfless bukan hanya sikap mulia, tapi hasil dari jiwa yang tidak lagi dikendalikan rasa kurang, karena tahu bahwa diri kita cukup. Bukan lagi dari jiwa yang dikendalikan ketakutan, karena bersandar pada Sang Maha Sempurna. Dan bukan lagi jiwa yang haus pengakuan, karena sadar bahwa nilai diri kita bukan dari mata manusia.

Kita tidak lagi merasa perlu untuk berebut, membuktikan diri, atau melindungi ego. Kita tahu bahwa diri kita aman, cukup, dan berharga dalam pandangan Sang Maha Sempurna. Maka memberi, membantu, dan mendahulukan orang lain bukanlah beban, melainkan pancaran dari hati yang telah sembuh.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *