Oleh: Syahril Syam *)
Hidup ini seperti sebuah arus sungai yang terus mengalir. Semua yang ada di dalamnya bergerak maju. Tidak ada yang benar-benar berhenti atau berjalan mundur. Tubuh kita, misalnya, terus mengalami perubahan. Ia bisa tumbuh sehat bila diberi asupan gizi yang cukup, atau justru menjadi lemah jika kekurangan nutrisi, seperti pada kasus busung lapar. Perubahan ini menunjukkan bahwa tubuh tidak pernah “mundur” ke kondisi sebelumnya; ia selalu bergerak menuju tahap berikutnya, entah itu perkembangan atau kemunduran fungsi.
Hal yang sama juga berlaku pada jiwa. Jiwa tidak pernah diam atau statis. Ia terus berkembang dan bertransformasi, baik menuju kedewasaan dan kebijaksanaan, atau sebaliknya, tergelincir ke arah yang kurang baik. Dengan kata lain, tubuh dan jiwa kita adalah bagian dari proses yang dinamis, selalu bergerak ke depan, dan setiap pilihan serta pengalaman kita ikut menentukan arah pergerakannya.
Kalau kita lihat sepintas, sakit itu seolah-olah seperti “mundur” dari kondisi sehat. Tapi secara ilmiah, tubuh kita tidak pernah benar-benar bergerak mundur. Waktu selalu berjalan maju, dan tubuh pun ikut bergerak mengikuti alur waktu itu. Hanya saja, yang berubah adalah arah kualitas pergerakannya. Saat sehat, tubuh bergerak maju ke kondisi yang lebih baik; sedangkan ketika sakit, tubuh juga tetap bergerak maju dalam waktu, tetapi menuju kondisi yang kualitasnya menurun. Jadi, sakit bukan berarti kita kembali ke titik sebelumnya, melainkan maju ke titik baru yang kebetulan lebih rendah kualitasnya daripada sebelumnya.
Begitu pula dengan pergerakan jiwa, bisa naik atau turun, tergantung dari “asupan” yang kita berikan. Kalau jiwa kita dipenuhi ilmu, kesadaran, niat tulus, dan perbuatan baik, maka ia akan maju naik, menjadi lebih halus, lebih bercahaya, dan berada pada tingkat eksistensi yang lebih tinggi. Tapi kalau yang masuk adalah kebencian, keserakahan, kebiasaan buruk, dan kelalaian, jiwa juga tetap bergerak maju, hanya saja arahnya turun.
Secara lahiriah, orang seperti ini terlihat “turun level” – misalnya dari pribadi yang santun menjadi kasar. Namun secara metafisika, ia sebenarnya sedang melangkah ke titik eksistensi yang lebih rendah, mendekati sifat-sifat makhluk nabati atau hewani, meskipun tetap berada dalam arus waktu yang maju.
Pertambahan usia adalah bukti paling sederhana bahwa tubuh kita terus bergerak maju dalam waktu. Meskipun kondisi fisik bisa membaik atau menurun – misalnya dari sehat menjadi sakit – pergerakan itu tetap menuju titik baru di masa depan. Jadi, “maju” di sini bukan soal kualitasnya saja, tapi juga arah perjalanan yang tidak pernah mundur: dari detik ini ke detik berikutnya, dari muda menuju tua, dari awal kehidupan menuju akhir hayat.
Pertambahan usia hanya menjamin tubuh bergerak maju dalam waktu, tapi tidak otomatis membuat kedewasaan diri ikut naik. Kedewasaan – dalam arti kemampuan memahami diri, mengelola emosi, dan bertindak bijak – tergantung pada “asupan” yang diterima jiwa: pengalaman yang diolah dengan refleksi, ilmu yang dipraktikkan, niat yang disucikan, dan kebiasaan baik yang dibangun. Kalau usia bertambah tapi jiwa justru diisi kemarahan, keserakahan, atau kelalaian, yang terjadi bukan kematangan, melainkan penurunan kualitas jiwa, walau tubuh tetap terus maju dalam waktu.
Seseorang bisa saja berusia 60 tahun secara biologis, tetapi jika perhatiannya hanya berpusat pada kebutuhan nabati – seperti makan dan tidur – atau pada dorongan hewani – seperti amarah dan keserakahan – maka pergerakan substansi jiwanya tidak mengalami kenaikan. Bahkan, ia bisa bergerak turun ke tingkat eksistensi yang lebih rendah. Itulah sebabnya kedewasaan sejati tidak bisa diukur dari jumlah lilin di kue ulang tahun, melainkan dari sejauh mana jiwa mampu mengendalikan dan mengintegrasikan daya-daya rendah (nafsu dan amarah) untuk diarahkan menuju daya-daya tinggi (akal dan rohani). Kedewasaan adalah soal kualitas transformasi batin, bukan sekadar bertambahnya angka usia.
Dalam tinjauan neurosains, usia biologis – yaitu umur tubuh – tidak selalu sejalan dengan usia neurologis atau psikologis, yang mencerminkan kematangan otak dan kepribadian. Jika seseorang jarang menggunakan dan melatih prefrontal cortex – bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri, empati, dan perencanaan – maka area limbik yang lebih primitif dan reaktif akan tetap mendominasi, meskipun usianya sudah dewasa secara fisik. Otak membentuk dan memperkuat jalur saraf berdasarkan kebiasaan berpikir dan merespons emosi, bukan berdasarkan jumlah tahun hidup. Inilah sebabnya kita bisa menemukan remaja yang sudah mampu berpikir bijak, sementara ada pula orang tua yang reaksi emosinya masih seperti anak-anak.
Umur adalah ukuran waktu yang telah dilalui tubuh sejak lahir, sedangkan kedewasaan mencerminkan tingkat perkembangan jiwa dan sejauh mana daya akal, amarah, dan nafsu dapat terintegrasi secara harmonis. Kenaikan “usia batin” tidak terjadi secara otomatis seiring bertambahnya umur, melainkan melalui proses yang disengaja: latihan kesadaran, refleksi diri yang jujur, pembiasaan berbuat baik, serta penguatan kesadaran spiritual.
Inilah faktor-faktor yang membuat kita benar-benar bertumbuh secara batin, bukan sekadar bertambah tua secara fisik. Itulah sebabnya, kedewasaan diri tidak selalu sejalan dengan pertambahan usia karena yang bertambah otomatis hanyalah umur tubuh, bukan kualitas jiwa. Waktu memang menggerakkan tubuh maju, tapi jiwa hanya akan naik level jika diasupi hal-hal yang menguatkan akal, melatih pengendalian diri, dan menumbuhkan kesadaran spiritual.
@pakarpemberdayaandiri






