Rutinitas Yang Kosong Akan Makna

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Jiwa manusia seperti sebuah lampu. Lampu itu bisa mahal, indah, dan berdesain mewah (seperti status sosial, pencapaian, kekayaan). Tapi tanpa aliran listrik (makna), lampu itu tidak akan pernah menyala. Akibatnya, ruangan tetap gelap, meski lampunya mewah. Itulah yang dirasakan seseorang yang berkata, “Saya capek… tapi entah capek karena apa.” Karena walaupun hidupnya terlihat “terisi” dari luar, di dalamnya gelap dan kosong. Dan jiwa manusia memang dirancang untuk menyala oleh makna – bukan hanya oleh pencapaian.

Menurut Victor Frankl, makna adalah alasan mengapa kita terus hidup, meskipun dalam penderitaan. Ketika kita tahu “untuk apa” kita hidup, kita bisa menanggung hampir “bagaimana” pun hidup itu. Lantas, mengapa kekosongan makna bisa terjadi? Pertama, Hidup dalam Rutinitas tanpa Kesadaran. Banyak orang hari ini menjalani hidup seperti robot: bangun pagi, bekerja seharian, makan, lalu tidur – hanya untuk mengulang hal yang sama keesokan harinya. Segala aktivitas dilakukan karena dianggap sebagai kewajiban sosial, bukan sebagai bentuk kesadaran, pengabdian, apalagi panggilan jiwa. Makan agar kenyang, kerja agar gajian, ibadah agar “aman” – tanpa benar-benar hadir secara batin dalam apa yang dilakukan.

Dalam psikologi eksistensial, fenomena ini disebut oleh Viktor Frankl sebagai “existential vacuum”, yaitu kekosongan batin yang muncul ketika hidup dijalani tanpa makna dan tanpa orientasi nilai. Orang bisa saja terlihat sibuk dan bertanggung jawab secara sosial – shalat lima waktu, bekerja keras, membesarkan anak – namun tetap merasa hampa di dalam. Makna tidak otomatis hadir hanya dari aktivitas, tapi dari kesadaran dan orientasi jiwa saat melakukannya. Ketika tindakan dipisahkan dari tujuan spiritual dan kesadaran batin, hidup terasa seperti mesin: berjalan, tapi tidak benar-benar hidup. Ini menjelaskan mengapa sebagian orang bisa merasa lelah, kosong, bahkan putus asa – meski dari luar hidupnya tampak baik-baik saja.

Kedua, Terlalu Fokus pada Pencapaian Duniawi. Banyak orang menjadikan kesuksesan duniawi sebagai tujuan utama hidup – ingin menjadi kaya, terkenal, punya prestasi yang diakui. Tidak salah mengejar hal-hal itu, tetapi ketika semua energi dan arah hidup hanya diarahkan ke sana, maka muncul risiko serius: kekosongan setelah pencapaian.

Fenomena ini dikenal sebagai post-success emptiness, yakni perasaan hampa yang muncul justru setelah seseorang meraih apa yang dulu ia impikan. Ia bisa saja punya rumah besar, mobil mewah, dan pengikut media sosial ribuan, tapi tetap merasa gelisah, tidak puas, atau kehilangan arah. Mengapa? Karena manusia tidak hanya diciptakan untuk “memiliki”, tapi juga untuk “menjadi” – menjadi makhluk yang tumbuh secara ruhani, sadar akan nilai, dan makna hidup.

Penelitian oleh Michael Steger dan rekan-rekannya (2006) menunjukkan bahwa gaya hidup yang berorientasi pada materi dan hedonisme justru berkorelasi negatif terhadap kebermaknaan hidup. Artinya, semakin seseorang mengejar kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama, semakin rentan ia merasa hidupnya tidak berarti. Dengan kata lain, pencapaian tanpa arah nilai dan kesadaran batin adalah seperti memanjat tangga tinggi hanya untuk menyadari bahwa tangganya bersandar di dinding yang salah. Kesuksesan duniawi bisa memberi kenyamanan, tapi bukan makna. Dan ketika makna absen, jiwa pun merasa kosong meski dompet penuh.

Ketiga, Budaya Modern yang Mengikis Makna. Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan hidup saat ini, banyak orang justru terjebak dalam budaya yang mengikis makna. Budaya konsumtif, media sosial, dan gaya hidup instan mendorong manusia untuk mencari validasi eksternal – seperti pujian, likes, pengakuan, atau pencapaian fisik – alih-alih menggali makna dari dalam diri. Akibatnya, hidup menjadi serba cepat, penuh distraksi, tapi minim perenungan mendalam tentang siapa kita, untuk apa kita hidup, dan apa yang benar-benar penting.

Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut era ini sebagai “masyarakat cair” (liquid society), yaitu kondisi sosial dimana nilai-nilai moral menjadi luntur, relasi antar individu menjadi dangkal, dan manusia kehilangan “jangkar makna”yang bisa menuntun arah hidupnya. Segalanya terasa fleksibel, tapi juga rapuh; kita mudah terhubung secara digital, tapi sulit merasakan koneksi emosional yang tulus dan dalam. Contohnya jelas terlihat: seseorang bisa punya ribuan pengikut di media sosial, tapi tetap merasa kosong secara emosional, karena hubungan digital tidak bisa menggantikan kebutuhan manusia akan koneksi batin yang sejati – hubungan yang didasarkan pada kehadiran, kejujuran, dan makna bersama. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan keterhubungan sosial tidak otomatis menghadirkan makna. Justru, tanpa kesadaran dan nilai yang kokoh, budaya modern bisa membuat manusia kehilangan arah – sibuk, terhibur, tapi tak benar-benar hidup.

Keempat, Tidak Mengenali Jati Diri dan Potensi Ruhani. Salah satu krisis terdalam dalam kehidupan manusia modern adalah hilangnya kesadaran akan jati diri sejati. Ketika seseorang tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, dari mana ia berasal, dan ke mana tujuan akhirnya, maka ia cenderung hidup dalam kebingungan eksistensial – merasa hidup, tapi tidak sungguh-sungguh mengerti untuk apa hidup itu dijalani.

Tanpa makrifat diri atau kesadaran ruhani (self-awareness), manusia seperti terputus dari jiwanya sendiri. Ia menjalani hari-harinya hanya berdasarkan tuntutan luar: pekerjaan, kewajiban, rutinitas, atau ekspektasi sosial – namun di dalam, ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Dalam tradisi spiritual, dikenal ungkapan: “Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.” Ini menunjukkan bahwa makna terdalam hidup manusia hanya bisa ditemukan saat ia menyadari siapa dirinya di hadapan Sang Maha Sempurna.

Tanpa kesadaran ini, manusia kehilangan akar keberadaannya. Ia bisa berada di tengah keramaian, dikelilingi banyak orang, namun tetap merasa kesepian – bukan karena tidak ada teman, tetapi karena ia belum pulang kepada dirinya sendiri, dan belum menyambung kembali hubungan dengan Sang Sumber. Krisis ini bukan sekadar masalah psikologis, tapi menyentuh wilayah ruhani terdalam manusia. Pemulihannya bukan hanya soal pencapaian atau terapi, tapi tentang perjalanan pulang menuju keutuhan diri – menyadari bahwa di balik tubuh dan pikiran, ada jiwa yang rindu untuk dikenal.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *