Sentimen Manufaktur Menguat, AMRO Naikkan Proyeksi Pertumbuhan RI 5,3% Berkat Arus Investasi AI

Foto ilustrasi CNN Indonesia

JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Memasuki Triwulan IV-2026, perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketangguhan yang solid di tengah volatilitas pasar global. Fondasi makroekonomi nasional kian diperkokoh oleh kembalinya aktivitas manufaktur ke zona ekspansi serta masifnya aliran modal masuk di sektor teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Data terbaru menunjukkan laju inflasi tahunan (yoy) per September 2026 tetap terkendali pada tingkat 3,28%. Momentum positif ini diperkuat oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang melonjak ke level 52,4. Angka ini menandai kembalinya geliat industri dalam negeri ke zona ekspansi setelah sempat tertahan di kuartal sebelumnya, sekaligus mencerminkan tingginya optimisme pelaku usaha terhadap penyerapan pasar domestik maupun ekspor.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menegaskan bahwa sektor industri tetap menjadi tumpuan utama sebagai daya ungkit pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja baru. Langkah hilirisasi strategis yang konsisten dijalankan pemerintah terbukti mampu mendongkrak performa ekspor industri pengolahan hingga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 6,62%. Keberhasilan ini sekaligus menjaga tren surplus neraca perdagangan Indonesia tetap berlanjut.

AMRO Upayakan Proyeksi Pertumbuhan RI 5,3% Didorong Investasi AI

Sentimen positif domestik ini linier dengan pandangan lembaga riset internasional. Dalam laporan Quarterly Update terbarunya, ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) secara resmi merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,3%, meningkat dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 5%.

AMRO menggarisbawahi bahwa lompatan pertumbuhan di kawasan regional kini didorong oleh akselerasi investasi kecerdasan buatan (AI) yang masif. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama aliran modal hijau dan digital ini, yang secara langsung memicu pembangunan infrastruktur teknologi canggih seperti jaringan konektivitas mutakhir serta pusat data (data center) skala besar di tanah air.

Masuknya modal global di sektor AI terbukti memberikan efek pengganda (multiplier effect) bagi berbagai sektor turunan bisnis korporasi dan industri lokal. Sinergi antara penguatan aktivitas fisik manufaktur dan transformasi digital berbasis AI ini diyakini akan menjadi modal utama Indonesia untuk menjaga stabilitas fundamental ekonomi sekaligus mengakselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan hingga akhir tahun.

Penulis: Jagad N

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *