Oleh: Syahril Syam *)
Bayangkan Anda sedang duduk di tengah keramaian, tapi entah mengapa, rasanya seperti bukan benar-benar ada di sana. Suara-suara terdengar jauh, tubuh Anda terasa ringan atau malah seperti bukan milik Anda. Anda melihat diri sendiri seolah dari luar – seperti penonton dalam film kehidupan Anda sendiri. Aneh, ya? Tapi pengalaman semacam ini nyata dan bisa terjadi pada siapa saja. Inilah yang disebut dengan disosiasi.
Disosiasi adalah cara otak kita bertahan saat hidup terasa terlalu berat untuk dihadapi. Misalnya, saat seseorang mengalami kejadian yang sangat menekan atau menyakitkan – seperti kehilangan, kecelakaan, atau trauma masa kecil – otak bisa menekan tombol “darurat”, dan memutuskan sejenak hubungan dari kenyataan. Tujuannya sederhana: melindungi kita dari rasa sakit yang terlalu intens. Ini seperti ketika komputer “hang” karena terlalu banyak beban kerja – ia berhenti sebentar, agar tidak rusak total.
Kadang disosiasi hanya berlangsung sebentar – hitungan menit atau jam. Tapi untuk sebagian orang, kondisi ini bisa terus muncul, menjadi bagian dari keseharian yang membuat mereka merasa seperti “asing” di tubuh sendiri, atau bahkan tidak bisa merasakan emosi samasekali. Di balik semua ini, neurosains menunjukkan bahwa mekanisme disosiasi bukanlah tanda kelemahan, tapi justru bentuk perlindungan yang sangat canggih dari otak kita. Ia bekerja diam-diam, mencoba menjaga kita tetap utuh di tengah badai emosi. Namun, seperti payung yang terlalu lama dipakai meski hujan telah reda, disosiasi bisa menjadi penghalang kita untuk terhubung kembali dengan kehidupan. Maka penting bagi kita untuk mengenali tanda-tandanya, menghargai cara otak kita melindungi kita, dan secara perlahan – dengan bantuan yang tepat – belajar membuka kembali diri kita pada pengalaman hidup yang utuh.
Otak manusia bekerja seperti sebuah jaringan besar yang penuh dengan bagian-bagian yang saling terhubung, masing-masing punya tugas khusus dalam mengatur emosi, memori, dan kesadaran diri. Saat seseorang mengalami disosiasi, koneksi antara bagian-bagian ini terganggu, sehingga muncul perasaan terputus dan kosong secara batin. Salah satu bagian penting adalah Korteks Prefrontal (PFC), yang terletak di bagian depan otak, tepat di belakang dahi. PFC berfungsi sebagai “pengatur emosi” dan pusat pengambilan keputusan serta pengendalian diri.
Pada saat disosiasi terjadi, aktivitas di PFC menurun, sehingga kita jadi sulit hadir sepenuhnya secara emosional dan memahami apa yang sedang berlangsung di sekitar. Inilah mengapa banyak orang yang mengalami disosiasi merasa seolah-olah mati rasa secara emosional atau mengalami kekosongan pikiran.
Bagian lain yang sangat berperan adalah amigdala, yang merupakan “detektor ketakutan” otak. Amigdala memproses rasa takut dan ancaman. Saat disosiasi, aktivitas amigdala bisa berfluktuasi secara ekstrem: jika terlalu aktif, ia dapat memicu kilas balik trauma dan rasa terancam yang berlebihan; sebaliknya, jika kurang aktif, respon emosional menjadi tumpul, sehingga orang merasa dunia di sekitarnya tidak nyata (derealization) atau bahkan merasa terpisah dari dirinya sendiri (depersonalization). Kemudian ada hipokampus, yang berperan sebagai “penjaga ingatan”.
Hipokampus bertugas menyusun dan menyimpan memori, termasuk kenangan traumatis. Pada kondisi disosiasi, fungsi hipokampus terganggu, sehingga memori trauma menjadi terputus-putus, sulit disusun menjadi cerita utuh, atau bahkan sulit diingat dengan jelas. Akibatnya, seseorang kesulitan memahami pengalaman traumatis yang dialaminya secara menyeluruh.
Terakhir, jaringan yang dikenal sebagai Default Mode Network (DMN) juga memiliki peranan penting. DMN aktif ketika kita merenungkan diri sendiri atau mengenang pengalaman hidup. Saat disosiasi terjadi, gangguan pada DMN menyebabkan hilangnya rasa keterhubungan dengan identitas dan tubuh sendiri. Ini sering dialami oleh orang dengan gangguan identitas disosiatif (DID), yang merasa seperti “menjadi orang lain” di dalam tubuhnya sendiri. Dalam memahami disosiasi, kita tak hanya perlu melihat bagian-bagian otak yang terlibat, tapi juga memperhatikan “bahasa kimiawi” yang dipakai otak untuk berkomunikasi.
Otak menggunakan berbagai senyawa kimia, seperti neurotransmiter dan hormon, agar segala proses di dalamnya berjalan seimbang dan lancar. Saat disosiasi terjadi, keseimbangan kimia ini juga ikut terganggu, memengaruhi bagaimana kita merasakan dan bereaksi terhadap dunia di sekitar.
Dua neurotransmiter utama yang saling berlawanan perannya adalah glutamat dan GABA. Glutamat berfungsi sebagai “gas” otak, yaitu zat yang merangsang aktivitas saraf agar berjalan aktif. Di sisi lain, GABA adalah “rem” yang menenangkan aktivitas tersebut.
Saat disosiasi terjadi, glutamat bisa menjadi terlalu aktif, membuat beberapa bagian otak menjadi terlalu terpicu, seperti saat seseorang mengalami kilas balik trauma yang sangat intens. Namun, jika GABA gagal menyeimbangkan glutamat, otak bisa mengalami dua reaksi ekstrem: bisa terlalu “panas” dan gelisah, atau sebaliknya, mati rasa total, seperti yang terjadi dalam kondisi depersonalisasi dimana seseorang merasa terputus dari dirinya sendiri.
Selain itu, hormon kortisol, yang dikenal sebagai hormon stres, juga berperan penting dalam disosiasi. Ketika tubuh menghadapi tekanan, kortisol dilepaskan untuk mempersiapkan kita “melawan atau lari”. Namun, pada mereka yang sering mengalami disosiasi, produksi kortisol bisa menjadi tidak stabil. Bisa jadi tubuh memproduksi terlalu banyak kortisol, sehingga otak jadi sangat waspada dan mudah terpicu, atau justru sebaliknya, kortisol menurun drastis hingga tubuh kehilangan kemampuan untuk merespons stres dengan baik.
Tidak kalah penting adalah sistem opioid alami dalam otak, yaitu zat kimia yang berfungsi sebagai pereda nyeri alami. Sistem ini aktif selama disosiasi untuk mengurangi rasa sakit, baik yang bersifat emosional maupun fisik. Inilah alasan mengapa banyak orang yang mengalami disosiasi melaporkan perasaan mati rasa, bukan hanya secara emosional, tapi juga secara fisik – seolah tubuh dan pikiran mereka “mati rasa” agar tidak merasakan sakit yang terlalu dalam.
Pengalaman di masa kecil sangat berpengaruh besar terhadap cara otak kita berkembang, terutama bagian-bagian yang mengatur emosi dan respons terhadap stres. Bayangkan seorang anak yang tumbuh dengan rasa aman dan dicintai oleh orang tuanya, maka dalam kondisi seperti ini, sistem otak seperti Korteks Prefrontal (PFC) bisa berkembang dengan baik dan sehat. PFC ini ibarat “komandan” otak yang membantu kita mengendalikan emosi dan membuat keputusan yang baik.
Namun, jika seorang anak mengalami trauma seperti kekerasan, penelantaran, atau kehilangan orang yang sangat berarti, hal itu bisa mengganggu perkembangan otak. Otak yang mengalami luka batin seperti ini jadi lebih mudah “memutus koneksi” atau mengalami disosiasi sebagai cara untuk melindungi diri dari rasa sakit yang terlalu berat. Disosiasi menjadi semacam pelindung otomatis agar anak tersebut tidak harus merasakan seluruh beban emosional secara penuh.
Masa remaja juga merupakan masa yang sangat penting karena otak sedang menjalani proses “remodeling” besar. Bagian-bagian seperti PFC, amigdala, dan hipokampus sedang matang dan membentuk kemampuan kita untuk mengatur emosi dan menghadapi stres. Jika trauma juga terjadi di masa ini, proses pematangan otak bisa terganggu, sehingga kemampuan mengendalikan perasaan menjadi lebih sulit dan risiko mengalami disosiasi meningkat.
Dengan kata lain, pengalaman awal yang penuh luka tidak hanya meninggalkan bekas di hati, tapi juga mengubah cara otak bekerja dalam jangka panjang. Ini menjelaskan mengapa banyak orang yang mengalami disosiasi memiliki akar dari pengalaman masa kecil yang sulit.
Meskipun disosiasi sebenarnya berfungsi sebagai mekanisme perlindungan yang membantu kita bertahan dalam situasi sulit untuk sementara waktu, jika kondisi ini berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa sangat merugikan dalam kehidupan sehari-hari.
Disosiasi yang menetap membuat seseorang sulit hadir sepenuhnya dalam momen saat ini, sehingga hubungan dengan orang lain pun menjadi terganggu. Perasaan terputus dari diri sendiri dan lingkungan sekitar dapat membuat interaksi sosial terasa hambar atau bahkan menimbulkan rasa kesepian yang dalam.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mendapatkan terapi yang tepat – terutama terapi yang fokus pada pelepasan emosi destruktif – agar proses pertahanan diri ini tidak terus berlanjut tanpa kendali. Dengan terapi yang tepat, kita dapat belajar menghadapi dan mengelola emosi secara sehat, sehingga disosiasi tidak lagi menjadi “pelarian” yang mengganggu, melainkan sebuah fase yang bisa diselesaikan untuk hidup yang lebih utuh dan bermakna.
@pakarpemberdayaandiri




