Oleh: Syahril Syam *)
Robert M. Sapolsky adalah seorang ilmuwan Amerika yang ahli di bidang neuroendokrinologi dan primatologi. Dalam bukunya “Behave: The Biology of Humans at Our Best and Worst”, Sapolsky menguraikan bagaimana berbagai proses biologis – mulai dari aktivitas otak sesaat sebelum suatu perilaku terjadi, hingga faktor evolusi yang berlangsung ribuan tahun – berperan dalam membentuk perilaku manusia, baik yang terbaik maupun yang terburuk.
Dengan menggabungkan ilmu dari berbagai disiplin seperti neurosains, psikologi, antropologi, dan biologi evolusi, Sapolsky memberikan gambaran yang menyeluruh tentang mengapa kita bertindak seperti yang kita lakukan.
Dalam penelitiannya, kita dapat mengetahui bagaimana otak kita terbentuk, yang kemudian dengan itu menjadi dasar akan lahirnya perilaku kita. Sapolsky menyelidiki dasar-dasar awal yang membentuk otak dan sistem emosional manusia dengan menyoroti betapa krusialnya periode prenatal (masa dalam kandungan) dan masa bayi dalam “pemrograman” otak yang nantinya memengaruhi bagaimana kita merespons, berinteraksi, dan mengatur emosi seumur hidup.
Sapolsky menjelaskan bahwa lingkungan dalam rahim – termasuk kondisi stres yang dialami oleh ibu – dapat memengaruhi kadar hormon seperti kortisol yang beredar dalam tubuh janin. Paparan kortisol yang tinggi secara kronis dapat mengubah perkembangan struktur otak, terutama di area yang berkaitan dengan pengaturan emosi seperti amigdala dan hipokampus.
Dengan kata lain, ketika seorang ibu sering merasa cemas atau tertekan karena masalah pekerjaan, keuangan, atau pertengkaran rutin bersama pasangan, maka kadar kortisol yang tinggi bisa membuat bayi yang sedang berkembang menjadi lebih sensitif terhadap stres. Ketika anak itu tumbuh, ia cenderung lebih mudah merasa cemas atau gelisah karena “pengaturan” otaknya sudah diubah sejak dalam kandungan.
Setelah lahir, bayi mulai membangun hubungan dengan orang tua atau pengasuh melalui proses attachment (pembentukan hubungan). Sapolsky menekankan bahwa cara orang tua atau pengasuh merespons tangisan, memberikan kehangatan, dan menyediakan stimulasi sosial tidak hanya memuaskan kebutuhan dasar bayi, tetapi juga mengukir pola kerja otak.
Interaksi yang konsisten dan penuh kasih membantu membentuk sistem limbik – bagian otak yang mengatur emosi – serta memengaruhi perkembangan korteks prefrontal, yang penting untuk kontrol impuls dan pengambilan keputusan emosional. Respons awal yang diterima bayi, seperti sentuhan, suara, dan kontak mata, menciptakan fondasi bagi kemampuan bayi untuk mengenali dan mengatur emosi.
Pengalaman ini menetapkan “template” dalam otak, yang kemudian akan menentukan bagaimana seseorang mengelola stres, merespons rasa sakit emosional, dan membentuk hubungan interpersonal di kemudian hari. Misalnya, bayi yang rutin mendapatkan respons hangat dan konsisten cenderung mengembangkan sistem pengaturan emosi yang lebih stabil dan kemampuan untuk mengembangkan empati. Sebaliknya, anak yang tumbuh dengan pengasuhan yang tidak konsisten mungkin akan lebih rentan terhadap masalah seperti kecemasan, depresi, atau kesulitan membentuk hubungan yang sehat.
Walaupun otak memiliki kemampuan untuk belajar dan berubah seiring waktu (disebut neuroplastisitas), pengalaman-pengalaman awal ini meninggalkan bekas yang sangat mendalam dan sulit diubah. “Pemrograman” yang terjadi sejak dalam kandungan dan masa bayi menetapkan kerangka dasar yang memengaruhi respons terhadap stres, kecenderungan terhadap kecemasan, dan bahkan potensi untuk mengembangkan gangguan psikologis.
Dengan kata lain, pengalaman awal tidak hanya bersifat sementara, melainkan meninggalkan “jejak” yang dapat memengaruhi pola perilaku dan kecenderungan emosional sepanjang hidup. Ibarat fondasi sebuah rumah: jika fondasinya kuat, rumah akan tahan lama, tetapi jika fondasinya retak, akan sulit untuk memperbaikinya nanti.
Oleh sebab itu, Sapolsky mulai mempertanyakan peran kehendak bebas. Sapolsky lebih cenderung kepada determinisme dalam perilaku manusia. Artinya, jika struktur otak dan dasar-dasar emosional telah dipengaruhi oleh pengalaman yang terjadi jauh sebelum seseorang memiliki kapasitas untuk memilih secara sadar, maka banyak aspek dari apa yang kita anggap “kehendak bebas” sebenarnya sudah dibentuk sejak dini.
Hal ini menimbulkan pertanyaan etis tentang sejauh mana seseorang bertanggung jawab atas tindakan mereka, mengingat banyaknya faktor awal yang telah menentukan predisposisi (kecenderungan untuk menerima atau menolak sesuatu berdasarkan pengalaman dan norma yang dimiliki) mereka. Dengan kata lain, banyak dari apa yang kita anggap sebagai kepribadian dan kemampuan mengendalikan emosi sebenarnya sudah “diatur” jauh sebelum kita sadar.
Menurut Sapolsky, apa yang kita anggap sebagai “kehendak bebas” sebenarnya merupakan hasil dari interaksi kompleks antara proses-proses biologis (seperti aktivitas neuron, pelepasan hormon, dan faktor genetika), pengalaman perkembangan sejak dalam kandungan hingga masa remaja, serta pengaruh lingkungan dan budaya. Ini menjelaskan mengapa dua orang bisa memiliki reaksi yang sangat berbeda terhadap situasi yang sama, tergantung pada pengalaman awal mereka.
Hanya saja, jika kita mengikuti argumen deterministik ini, pertanyaan tentang tanggung jawab dapat ditelusuri ke belakang tanpa akhir, mencakup pengaruh orang tua, kakek-nenek, dan seterusnya. Bayangkan setiap keputusan atau tindakan yang kita ambil seperti sebuah rantai yang sangat panjang.
Menurut argumen deterministik, apa yang kita lakukan saat ini bukanlah hasil dari keputusan yang muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil dari rangkaian sebab-akibat yang dimulai jauh sebelum kita lahir. Misalnya, cara kita bertindak sekarang dipengaruhi oleh bagaimana orang tua kita mendidik kita, bagaimana mereka merespons kebutuhan kita, bahkan bagaimana pengalaman yang diteruskan dari kakek-nenek kita memengaruhi sikap dan kepribadian kita
Jadi, jika kita menelusuri kembali, setiap tindakan kita bisa ditelusuri ke faktor-faktor yang terjadi berabad-abad yang lalu. Dengan kata lain, pertanyaan tentang siapa yang bertanggung jawab atas tindakan kita menjadi sangat rumit. Karena segala sesuatu yang terjadi pada kita – dari pengalaman dalam kandungan, pola asuh, hingga warisan genetik – sudah membentuk kita sejak lama, sulit untuk menentukan titik awal di mana tanggung jawab moral itu benar-benar dimiliki oleh seseorang.
Memang benar bahwa apa yang terjadi di dalam kandungan dan model pengasuhan dini ikut mengambil peran dalam membentuk diri kita. Akan tetapi, itu bukanlah sebab utama dalam membentuk diri kita, karena setiap penciptaan senantiasa memiliki maksud dan tujuan yang baik. Artinya, manusia adalah ciptaan yang senantiasa berproses untuk melakukan penyempurnaan kemanusiaannya. Dan hal ini menyiratkan adanya potensi inheren dalam diri manusia untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan.
Meski kita mungkin lahir dengan predisposisi tertentu akibat faktor genetik atau pola asuh, namun manusia memiliki kemampuan untuk merenung, belajar, dan memilih tindakan yang mendekati nilai-nilai kebaikan. Manusia memiliki “ruang” untuk berproses – bukan hanya diatur oleh masa lalu, melainkan juga terus menerus diperbaiki melalui interaksi dengan lingkungan dan refleksi internal. Kita tidak boleh terjebak pada determinisme semata, tetapi juga mengakui bahwa dalam setiap individu terdapat benih-benih potensi untuk berbenah, belajar dari kesalahan, dan berkembang menjadi versi yang lebih baik.
Selain itu, penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Lisa Feldman Barrett menunjukkan bahwa otak tidak sekadar menyalin apa yang terjadi di dunia luar, tetapi secara aktif “membangun” pengalaman kita. Otak menciptakan model internal tentang dunia berdasarkan pengalaman masa lalu, konteks saat ini, dan harapan ke depan. Meskipun model realitas yang dibentuk otak didasarkan pada data masa lalu, otak juga memiliki kemampuan untuk memperbarui dan mengubah prediksinya berdasarkan informasi baru. Inilah yang memungkinkan kita untuk belajar dari pengalaman dan mengubah perilaku.
Dengan kata lain, meskipun banyak aspek dari apa yang kita alami merupakan hasil dari proses otomatis, otak tidak terkunci dalam satu pola. Ia dapat mengadaptasi dan mengubahnya sesuai konteks yang berubah. Karena otak bekerja dengan membuat prediksi, kita secara sadar dapat menjadi “pengamat” dari prediksi tersebut. Kita memiliki kesempatan untuk mengevaluasi apakah prediksi yang dibuat oleh otak sudah tepat atau perlu diperbarui. Dengan kata lain, meskipun banyak proses terjadi secara otomatis, kita bisa mengintervensi – misalnya, melalui refleksi atau pembelajaran – untuk memilih respon yang lebih sesuai dengan nilai dan tujuan kita.
Artinya, meskipun otak kita bekerja dengan prediksi dan konstruksi realitas – proses yang didorong oleh pengalaman dan faktor biologis – proses tersebut tidak sepenuhnya mekanistik. Kemampuan otak untuk mengadaptasi, memperbarui, dan bahkan mengubah prediksi berdasarkan refleksi dan konteks baru memberikan ruang bagi apa yang kita sebut sebagai kehendak bebas.
Hidup di dunia memberi kita kesempatan untuk terus berkembang dan menyempurnakan kemanusiaan kita. Meskipun faktor-faktor awal seperti pengalaman dalam kandungan dan pola asuh memainkan peran penting dalam membentuk siapa kita, namun kita tidak ditakdirkan untuk selamanya terjebak dalam kondisi tersebut.
Berkat kehendak bebas – sebuah “karunia” yang memungkinkan kita membuat keputusan sadar – kita memiliki peluang untuk mengubah, memperbaiki, dan bahkan melampaui predisposisi yang telah terbentuk sejak dini. Salah seorang filosof berkata bahwa kehendak bebas adalah kemampuan kita untuk mengendalikan dorongan-dorongan dalam diri – seperti rasa takut, marah, atau senang – dengan menggunakan akal secara rasional. Artinya, meskipun kita memiliki banyak keinginan dan naluri yang muncul secara otomatis, seharusnya kita bisa memilih untuk tidak langsung mengikuti dorongan itu, melainkan mengaturnya agar tidak menguasai tindakan kita.
Walau kenyataannya banyak orang kehilangan kebebasan ini karena lebih sering membiarkan dorongan itu yang menentukan perilaku mereka daripada keputusan sadar yang diambil oleh diri sendiri, bukan berarti kehendak bebas itu tidak ada pada diri kita. Itulah sebabnya, melalui kehendak bebas kita mesti menaklukkan diri kita sendiri agar benar-benar menjadi manusia merdeka (mampu mengendalikan segala dorongan dan tendensi psikologis – seperti ketakutan, kebencian, kesenangan, dan lain-lain).
@pakarpemberdayaandiri











