KINERJAEKSELEN.co, Yogyakarta – Meskipun ada larangan studi tur yang diberlakukan di beberapa daerah, Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta tetap optimistis bahwa kunjungan wisatawan ke kota ini akan tetap tinggi.
Larangan tersebut memang dapat memengaruhi jumlah wisatawan, terutama dari kalangan pelajar yang selama ini menyumbang porsi signifikan dalam kunjungan ke Jogja. Namun, daya tarik Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang kaya akan budaya, sejarah, dan keunikan lainnya diyakini mampu menjaga angka kunjungan tetap stabil.
Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Jogja Muhammad Zandaru mengatakan, adanya larangan kegiatan study tour dapat dipastikan berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Sebab wisatawan yang berasal dari kategori pelajar menyumbang cukup besar kunjungan ke Kota Jogja.
“Pasti akan berpengaruh pada capaian target karena memang salah satu yang menyumbangkan cukup besar adalah study tour. Hanya kami tetap optimis,” ujar Zandaru, Kamis (3/4/2025).
Pihak Dinas Pariwisata menilai bahwa Jogja memiliki ciri khas yang kuat dan reputasi sebagai salah satu tujuan wisata utama di Indonesia, baik untuk wisatawan domestik maupun internasional.
Selain itu, berbagai upaya terus dilakukan untuk menarik pengunjung, seperti pengembangan destinasi wisata baru, peningkatan promosi, dan diversifikasi kawasan wisata agar tidak hanya terpusat di satu titik, seperti kawasan Malioboro atau Kraton. Misalnya, kawasan seperti Kotagede, Pakualaman, dan Kotabaru sedang dikembangkan untuk memperluas pilihan wisatawan dan mengurangi kepadatan di pusat kota.
Menurutnya, kawasan Tugu Malioboro dan Kraton (Gumaton) sampai saat ini masih menjadi kawasan destinasi wisata favorit wisatawan. Sehingga upaya memecah keramaian wisatawan di kawasan tersebut pun terus dilakukan.
Zandaru menyatakan, pihaknya sudah merencanakan pengembangan kawasan cagar budaya sebagai destinasi wisata. Misalnya seperti kawasan Kotagede, Pakualaman, serta Kotabaru.
“Karena kalau Gumaton saja pasti juga kapasitasnya terbatas, sehingga destinasi wisata favorit sudah mulai kami kembangkan,” katanya.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, kunjungan wisatawan ke Jogja mencapai 10 juta orang, jauh melampaui target awal sebesar 5 juta. Untuk tahun 2025, Dinas Pariwisata menargetkan 5,5 juta kunjungan, dan angka ini masih realistis meski ada larangan studi tur.
Optimisme ini juga didukung oleh kolaborasi dengan pelaku usaha wisata, seperti penyedia jasa transportasi dan pemandu wisata, untuk memastikan pemerataan kunjungan ke berbagai destinasi.
Dengan strategi ini, Jogja diharapkan tetap menjadi magnet bagi wisatawan, terlepas dari tantangan yang ada.
Pewarta: Widodo
Editor : Jagad N









