Daerah  

Buka PIT IAGI dan GEOSEA 2026, Sri Sultan Tegaskan Pentingnya Keseimbangan Ekonomi dan Mitigasi Bencana Geologi

Gubernur DIYSri Sultan HBX [Foto Humas Pemda Yogyakarta]

SLEMAN, KINERJAEKSELEN.CO — Kekayaan geologi yang dimiliki Indonesia menyimpan dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang: potensi besar untuk mendukung pembangunan ekonomi sekaligus ancaman bencana alam yang tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, pemanfaatannya membutuhkan perhitungan yang matang agar keuntungan materi tidak mengorbankan keselamatan manusia maupun kelestarian lingkungan.

Prinsip tersebut menjadi sorotan utama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat membuka Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) bersamaan dengan GEOSEA ke-19 Tahun 2026 yang digelar di RAH, Sleman, pada Selasa (03/11).

Integrasi Nilai Tri Satya Brata dan Mitigasi Bencana

Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya geologi harus menempatkan pemanfaatan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan pengurangan risiko bencana dalam satu kesatuan yang utuh. Kekayaan bumi tidak boleh dieksploitasi tanpa mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan keberlanjutan kehidupan masa depan.

Sri Sultan mengaitkan pengelolaan geologi ini dengan nilai luhur filosofi Tri Satya Brata, yang menempatkan kearifan manusia, keselamatan negara, dan keluhuran kemanusiaan sebagai satu kesatuan tanggung jawab.

Dalam konteks ilmu bumi, nilai tersebut mewajibkan manusia memelihara bumi secara bijaksana, menjadikan sains sebagai dasar kebijakan publik, serta memastikan pembangunan berorientasi jangka panjang demi generasi mendatang.

“Masa depan umat manusia ditentukan oleh kedalaman pengetahuannya dalam memahami bumi, dan terlebih lagi, oleh kearifannya menjaga kehidupan di atasnya,” ujar Sri Sultan.

Ia mencontohkan bagaimana masyarakat DIY selama ini hidup berdampingan secara harmonis dengan Gunung Merapi. Di satu sisi Merapi menghadirkan tanah yang subur, namun di sisi lain menyimpan potensi ancaman besar. Pengalaman ini membuktikan bahwa pemahaman mendalam terhadap karakteristik alam harus berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan dan kemampuan mengelola risiko.

Lebih lanjut, Sri Sultan meminta para ilmuwan agar hasil penelitian geologi tidak hanya mandek di laboratorium atau jurnal akademis.

“Pengetahuan ilmiah harus mampu melintasi batas laboratorium, menjangkau pemahaman warga, dan menjelma menjadi keputusan yang menyelamatkan,” tegasnya.

Badan Geologi Dorong Tiga Aspek Pengelolaan Terpadu

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa posisi Indonesia di pertemuan lempeng tektonik utama dunia memberikan limpahan sumber daya mineral, energi, panas bumi, dan air tanah yang luar biasa. Namun, konsekuensinya adalah tingginya risiko letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, hingga tanah longsor.

Lana menekankan bahwa pemanfaatan sumber daya, mitigasi bahaya, dan konservasi warisan geologi merupakan tiga aspek mutlak yang tidak dapat dipisahkan dalam perencanaan pembangunan kawasan maupun infrastruktur baru.

“Berinvestasi dalam pencegahan dan mitigasi selalu jauh lebih murah daripada memulihkan diri dari bencana,” ungkap Lana.

Badan Geologi saat ini terus memperkuat pemetaan serta eksplorasi wilayah yang belum banyak dikaji. Di sisi lain, Lana menyoroti pentingnya konsep konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan geopark. Salah satu contoh suksesnya adalah UNESCO Global Geopark Gunung Sewu yang membentang lintas provinsi di DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di mana pelestarian alam terbukti mampu berjalan beriringan dengan pertumbuhan sektor geowisata dan ekonomi lokal.

Gelaran PIT IAGI dan GEOSEA tahun 2026 ini menghadirkan sekitar 180 makalah teknis dari berbagai ahli. Forum internasional ini diharapkan melahirkan rekomendasi konkret bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan berbasis data geologi yang akurat.

“Geologi tidak berhenti di batas politik. Oleh karena itu, GEOSEA merupakan platform yang sangat berharga untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik di antara bangsa-bangsa kita,” pungkas Lana.

[KE/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *