Catatan: Syahril Syam *)
Perjalanan eksistensial adalah proses perubahan dan pendakian jiwa manusia dalam realitas keberadaannya – dari tingkat yang paling rendah (terikat duniawi dan nafsu) menuju tingkat yang paling tinggi (kedekatan dengan Sang Maha Sempurna dan kesempurnaan spiritual). Dalam bahasa sederhana, perjalanan eksistensial berarti bagaimana diri kita “menjadi” secara hakiki, bukan hanya “melakukan” sesuatu. Bukan sekadar tentang apa yang kita kerjakan setiap hari, tapi tentang siapa sebenarnya diri kita. Ini bukan soal sibuk bekerja, belajar, atau mencapai sesuatu di luar diri, melainkan tentang bagaimana kita bertumbuh sebagai manusia secara sejati. Ini adalah perjalanan untuk menemukan jati diri kita yang sesungguhnya – bukan sekadar peran atau tugas yang kita jalani, tapi tentang menjadi pribadi yang sadar, utuh, dan selaras dengan nilai-nilai terdalam dalam hati kita. Jadi, ini bukan sekadar “melakukan banyak hal”, tapi lebih kepada “menjadi” versi terbaik dari diri kita yang paling dalam.
Dalam pandangan filsafat Islam, jiwa manusia dipahami sebagai sesuatu yang hidup dan terus berkembang. Bukan seperti benda mati yang diam dan tidak berubah, jiwa itu seperti benih yang tumbuh menjadi pohon besar – selalu bergerak dan berubah ke arah yang lebih baik. Jiwa adalah diri kita sendiri, yang sifatnya spiritual, bukan fisik.
Perjalanannya dimulai dari kondisi paling dasar, seperti kehidupan tumbuhan yang hanya bisa tumbuh dan berkembang secara fisik, lalu terus naik ke tingkat yang lebih tinggi, seperti hewan yang punya perasaan, lalu manusia yang bisa berpikir dan merenung, sampai akhirnya mencapai kedewasaan spiritual yang tinggi, yaitu keadaan terang batin atau cahaya jiwa. Gerakan ini disebut “gerak substansial”, yaitu perubahan dari potensi atau kemungkinan menjadi kenyataan. Jadi, jiwa manusia tidak pernah diam, tapi terus bergerak – dari kegelapan ketidaktahuan menuju cahaya kesadaran dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Jiwa (nafs) adalah substansi spiritual yang mengalami perjalanan vertikal melalui gerak batin. Artinya, jiwa satu secara esensi (dzati), tapi bisa berubah secara kondisi atau maqam (perubahan eksistensial) tergantung pada arah dan kualitas hidupnya. Analoginya seperti air – satu zat, tapi bisa dalam bentuk uap (ringan), cair (netral), atau beku (berat). Perubahannya tergantung kondisi, bukan karena airnya berubah menjadi zat lain.
Setiap manusia pada dasarnya hanya memiliki satu jiwa, tapi kondisi batinnya bisa berbeda-beda tergantung bagaimana ia menjalani hidup dan menanggapi dorongan-dorongan dari dalam dirinya. Ada tiga tingkat utama dalam perkembangan jiwa ini. Pertama, ada jiwa yang masih dikuasai oleh hawa nafsu, disebut nafs ammarah. Ini adalah kondisi ketika seseorang cenderung mengikuti keinginan-keinginan rendah tanpa pertimbangan, seperti amarah, keserakahan, atau keinginan sesaat, sehingga jiwanya menjadi kotor dan jauh dari ketenangan.
Kedua, nafs lawwamah, yaitu jiwa yang mulai sadar dan mengalami pergolakan batin. Dalam tahap ini, seseorang mulai merasa gelisah karena ada konflik antara dorongan untuk berbuat baik dan tarikan hawa nafsu. Ia mulai menyesali kesalahan dan ingin berubah, meski belum sepenuhnya stabil.
Ketiga, nafs mutma’innah, yaitu jiwa yang tenang. Ini adalah keadaan jiwa yang sudah damai, tidak lagi dikuasai oleh hawa nafsu, dan dekat dengan Sang Maha Sempurna. Pada tahap ini, kita hidup dengan penuh kesadaran, ikhlas, dan tidak mudah terguncang oleh keadaan luar. Perjalanan jiwa ini bisa berubah-ubah, tergantung bagaimana kita menjaga dan mengarahkan hidup setiap hari.
Tahap paling rendah dalam perkembangan jiwa manusia disebut nafs ammarah, yang berarti “jiwa yang memerintah kepada keburukan”. Dalam bahasa Arab, kata “ammarah” berarti memerintah atau menyuruh. Jadi, jiwa ini bukan hanya memiliki dorongan untuk melakukan hal buruk, tetapi juga bersikap seperti penguasa batin yang terus-menerus memberi perintah kuat dan mendesak agar seseorang mengikuti hawa nafsunya.
Dalam keadaan ini, seseorang biasanya dikuasai oleh nafsu rendah, seperti keinginan duniawi yang berlebihan, egoisme, keserakahan, kemarahan, dan keinginan untuk membalas dendam. Jiwa ini cenderung tidak merasa bersalah saat berbuat salah, bahkan bisa menikmatinya atau menganggapnya biasa saja. Bisa dibilang, pada tahap ini hati masih tertutup dan belum tersentuh oleh cahaya kesadaran, sehingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Jika tidak disadari dan dikendalikan, jiwa ini akan menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kebaikan dan kedamaian sejati. “Sesungguhnya nafs itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafs yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (QS 12:53).
Ketika seseorang berada dalam kondisi jiwa yang dikuasai oleh nafs ammarah, dorongan untuk melakukan keburukan bukan hanya kuat, tapi juga bisa menjadi sangat licik dan tampak rasional. Jiwa ini tidak sekadar mendorong seseorang untuk berbuat zalim, tapi juga pintar membuat pembenaran-pembenaran agar perbuatan itu terlihat wajar atau bahkan terpuji. Misalnya, seorang pemimpin yang zalim bisa berkata, “Saya menindas demi menjaga stabilitas negara”, seolah-olah tindakannya adalah bentuk tanggung jawab, bukan kezaliman. Atau seorang koruptor berkata, “Semua orang juga korupsi, ini bagian dari sistem”, sehingga merasa tidak bersalah atas perbuatannya.
Dalam kondisi ini, seseorang mungkin terlihat cerdas dan penuh logika, padahal akalnya sedang diperalat oleh hawa nafsu. Inilah bahaya dari nafs ammarah – ia tidak hanya mengajak manusia pada kejahatan, tapi juga membungkus kejahatan itu dengan dalih-dalih yang membuat pelakunya merasa benar dan tidak menyesal. Akibatnya, hati menjadi tumpul, sulit menerima kebenaran, dan semakin jauh dari cahaya kesadaran.
Inti terdalam dari sifat “memerintah” ini adalah keinginan jiwa untuk menjadi seperti “tuhan kecil” bagi dirinya sendiri. Artinya, jiwa ini tidak mau diatur, tidak mau tunduk pada perintah Sang Maha Sempurna atau nilai kebaikan yang sejati. Ia ingin berkuasa atas hidupnya sendiri tanpa peduli mana yang benar dan salah.
Ketika nafs ammarah menguasai, seseorang cenderung menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat segalanya – yang penting adalah apa yang dia inginkan, bukan apa yang benar menurut Sang Maha Sempurna. Meskipun tahu mana yang baik dan benar, dia tetap memilih mengikuti hawa nafsu dan menjadikan itu sebagai penentu keputusan, bukan wahyu, akal sehat, atau suara hati.
Dalam keadaan seperti ini, manusia seolah-olah menyingkirkan Sang Maha Sempurna dari hidupnya dan menjadikan keinginannya sendiri sebagai satu-satunya hukum. Ini yang membuat nafs ammarah begitu berbahaya, karena ia bisa membungkam kebenaran dengan kesombongan batin yang halus tapi dalam. “Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?” (QS 45:23).
Ketika jiwa masih berada pada tahap ammarah, artinya ia sedang terjebak dalam cengkeraman dunia materi. Segala perhatian dan keinginannya hanya tertuju pada hal-hal yang bersifat lahiriah, seperti harta, kekuasaan, kenikmatan fisik, dan pengakuan dari orang lain. Dalam keadaan ini, jiwa tidak mampu tumbuh atau berkembang secara batiniah, karena hanya sibuk memuaskan nafsu duniawi. Padahal, jiwa seharusnya bergerak naik secara mendalam menuju kesempurnaan diri – menuju kedewasaan spiritual dan kedekatan dengan Sang Maha Sempurna.
Namun karena terus-menerus terpaku pada hal-hal yang rendah, jiwa menjadi stagnan, tidak berkembang, bahkan mundur secara eksistensial. Ia seperti benih yang tidak pernah tumbuh karena terkubur dalam tanah yang keras dan gelap. Akibatnya, potensi tinggi dalam diri dirinya tidak terwujud, dan kehidupan batin terasa kosong, gelisah, dan jauh dari makna sejati. Jadi “memerintah” di sini bukan sekadar dorongan psikologis, tapi lebih dalam, yaitu pemberontakan eksistensial terhadap posisi hamba di hadapan Sang Maha Sempurna. Nafs ammarah membuat manusia mengangkat dirinya menjadi “raja” atas dirinya sendiri, menggantikan perintah Sang Maha Sempurna dengan perintah hawa nafsu.
@pakarpemberdayaandiri











