Menjelajah Cita Rasa Surakarta: Sensasi Berburu Kuliner Legendaris Solo dan Kisah Historis di Baliknya

Selat Solo [Foto liputan6.com]

SURAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Bagi para pencinta petualangan rasa, Kota Surakarta atau yang lebih akrab disapa Solo, adalah sebuah surga tersembunyi yang wajib dikunjungi. Berburu kuliner di kota ini bukan sekadar aktivitas memuaskan rasa lapar, melainkan sebuah perjalanan melintasi waktu.

Setiap suapan makanan khas Solo menyimpan narasi sejarah yang mendalam, mencerminkan perpaduan budaya keraton, tradisi rakyat jelata, hingga pengaruh akulturasi budaya asing yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Jika Anda berencana melakukan wisata kuliner di Solo, berikut adalah beberapa hidangan ikonik yang wajib masuk dalam daftar buruan Anda, lengkap dengan kisah historis yang melatarbelakanginya:

Nasi Liwet: Simbol Ketulusan Kuliner Rakyat

Perjalanan kuliner Solo belum sah tanpa mencicipi sepiring Nasi Liwet. Hidangan berupa nasi gurih yang dimasak dengan santan, disajikan bersama sayur labu siam pedas, suwiran ayam kampung, telur pindang, dan guyuran kumut (santan kental yang dikukus) ini menawarkan rasa gurih-manis yang khas.

Sisi Historis: Berbeda dengan kuliner keraton yang eksklusif, Nasi Liwet lahir dari kreativitas masyarakat jelata, tepatnya dari Desa Menuran, Sukoharjo. Pada masa lalu, warga desa ini membawa nasi liwet untuk dijajakan berjalan kaki ke dalam kota Solo. Kelezatannya yang memikat perlahan menembus tembok istana hingga akhirnya menjadi hidangan yang juga digemari oleh keluarga Keraton Kasunanan Surakarta. Nasi Liwet adalah bukti bagaimana kuliner rakyat mampu naik kelas dan diakui secara terhormat.

Selat Solo: Akulturasi Estetik Budaya Jawa-Eropa

Selat Solo adalah perpaduan unik antara steak daging sapi khas Barat dengan cita rasa lokal Jawa. Hidangan ini terdiri dari daging sapi has dalam yang dimasak semur, disajikan bersama sayur-sayuran seperti buncis, wortel, kentang goreng, telur pindang, dan disiram kuah encer manis gurih. Ciri khas utamanya adalah mustard lokal yang terbuat dari campuran kuning telur dan cuka.

Sisi Historis: Nama “Selat” berasal dari kata bahasa Belanda “Sladje” yang berarti selada atau salad. Pada abad ke-18 dan 19, pihak kolonial Belanda sering mengadakan pertemuan formal dengan raja-raja keraton Solo. Orang-orang Belanda menyukai hidangan berbahan daging sapi dengan sayuran, namun lidah para bangsawan keraton kurang cocok dengan saus mayo atau saus steak Eropa yang cenderung asam dan hambar. Akhirnya, para koki keraton memodifikasi hidangan tersebut menggunakan bumbu rempah lokal, kecap manis, dan sentuhan pala, sehingga terciptalah Selat Solo—sebuah simbol diplomasi budaya yang harmonis.

Timlo Solo: Sup Hangat Pengaruh Pecinan

Timlo Solo [Foto Tatarmedia]
Timlo adalah sup berkuah bening, segar, dan hangat yang berisi sup ayam, sosis solo (dadar telur berisi ayam suwir), telur pindang, dan kekian. Hidangan ini sangat cocok dinikmati sebagai sarapan atau kuliner malam hari untuk menghangatkan tubuh.

Sisi Historis: Timlo merupakan bukti nyata dari pengaruh budaya Tionghoa dalam lanskap kuliner Solo. Hidangan ini diadaptasi dari sup Kimlo khas Tionghoa yang biasanya menggunakan jamur kuping dan sedap malam. Masyarakat Solo memodifikasinya dengan memasukkan unsur lokal, salah satunya mengganti isian dengan Sosis Solo—camilan gurih yang juga terinspirasi dari lumpia dan meneer Belanda. Akulturasi ini melahirkan sup bening gurih tanpa sayuran yang kini menjadi identitas kuliner Solo yang tak tergantikan.

Tengkleng: Riwayat Kreativitas di Masa Sulit

Tengkleng khas Solo [Foto Google/ist]
Bagi pencinta daging kambing, Tengkleng Solo adalah menu wajib. Kembaran gulai ini memiliki kuah yang lebih encer dengan isian berupa tulang belulang, tetelan, kaki, hingga jeroan kambing. Sensasi menikmati tengkleng terletak pada seni menggerogoti daging yang masih menempel di tulang.

Sisi Historis: Kisah di balik Tengkleng sedikit menyayat hati namun mengagumkan. Pada masa penjajahan dan era feodal lama, daging kambing yang utuh dan empuk hanya boleh dikonsumsi oleh para bangsawan dan kaum kolonial. Masyarakat kecil hanya mendapatkan sisa-sisa berupa kepala, kaki, dan tulang belulang yang hampir bersih dari daging. Namun, keterbatasan itu memicu kreativitas. Tulang-tulang tersebut dimasak dengan bumbu rempah gulai yang kuat untuk menyamarkan bau prengus kambing. Siapa sangka, hidangan yang lahir dari masa sulit ini kini menjelma menjadi kuliner elite yang diburu oleh pejabat hingga wisatawan dari berbagai daerah.

Kesimpulan

Berburu kuliner di Solo mengajarkan kita bahwa makanan bukan sekadar soal rasa di lidah. Di dalam setiap mangkuk Timlo atau sepiring Selat, ada rekam jejak sejarah, kreativitas bertahan hidup, dan toleransi budaya yang terjaga rapi. Menikmati kuliner Solo dengan memahami sejarahnya akan memberikan pengalaman rasa yang jauh lebih ekselen dan bermakna.

[Memet]

Editor : Jagad N

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *