JAKARTA, KINERJAEKSELEN.co – Di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasar finansial dunia, ketahanan ekonomi domestik Indonesia kembali diuji. Langkah agresif atau sikap hawkish dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) terus memberikan tekanan kuat terhadap komoditas safe haven, termasuk jatuhnya harga emas global ke level terendah. Menanggapi situasi ini, sinergi antara Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter dan para pelaku usaha nasional menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas pasar dalam negeri.
Berdasarkan data makroekonomi terbaru, Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2026 tumbuh positif di angka 8,3 persen. Pertumbuhan likuiditas yang stabil ini menjadi bantalan moneter yang sangat krusial bagi industri domestik. Ketersediaan dana di pasar dalam negeri diharapkan mampu meredam guncangan eksternal sekaligus menjaga daya beli masyarakat dan arus modal tetap bergerak produktif.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya membangun ketahanan ekonomi nasional dari hulu ke hilir. Di bawah ketidakpastian global, para pelaku usaha didorong untuk fokus pada pemenuhan ketersediaan bahan baku dalam negeri, penguatan industri berbasis ekspor, serta optimalisasi sektor pangan dan energi terbarukan. Sektor riil harus mampu memanfaatkan likuiditas yang terjaga ini sebagai stimulus pembiayaan produktif.
Sinergi yang kolaboratif antara kebijakan moneter BI dan strategi eksekusi dunia usaha terbukti menjadi benteng pertahanan yang efektif. Kebijakan suku bunga dan pengelolaan nilai tukar yang terukur dari BI memberikan kepastian berusaha bagi para pengusaha. Di sisi lain, komitmen sektor swasta untuk terus berinvestasi pada hilirisasi industri dan penguatan rantai pasok lokal ikut menopang fundamental ekonomi tetap kokoh.
Menghadapi sisa kuartal tahun ini, tantangan terbesar bagi Indonesia adalah memastikan arus likuiditas tersebut benar-benar terserap oleh sektor riil secara merata hingga ke daerah. Dengan bantalan moneter yang kuat serta kolaborasi yang erat antara regulator dan pengusaha, Indonesia optimistis mampu menghadapi tekanan hawkish global dan mempertahankan tren pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
[KE/Red]









