Adaptasi Hedonis

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Adaptasi Hedonis adalah fenomena psikologis dimana seseorang cepat terbiasa dengan perubahan dalam hidupnya, baik itu perubahan positif maupun negatif, sehingga emosi atau tingkat kebahagiaannya kembali ke tingkat yang stabil seiring waktu. Saat seseorang memenangkan undian dengan hadiah besar, maka pada awalnya, ia pasti merasa sangat bahagia dan hidupnya terasa lebih baik. Namun, setelah beberapa bulan atau tahun, kebahagiaan dari kemenangan itu memudar. Ia mulai terbiasa dengan kekayaan baru tersebut, dan akhirnya perasaan bahagia itu hilang, lalu kembali ke tingkat kebahagiaan yang sama seperti sebelum ia menang.

Adaptasi Hedonis bisa juga disebut sebagai Hedonic Treadmill atau Treadmill Hedonis. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh dua psikolog, Philip Brickman dan Donald T. Campbell pada tahun 1971. Treadmill Hedonis bisa diibaratkan seperti seseorang yang berjalan di atas treadmill. Tidak peduli seberapa cepat atau lambat seseorang berjalan, ia sebenarnya tidak bergerak ke mana-mana. Ini menggambarkan bahwa meskipun hidup seseorang berubah – misalnya mendapat promosi besar di pekerjaan, memenangkan undian – tingkat kebahagiaan yang ia rasakan hanya berubah sementara. Setelah beberapa waktu, ia akan kembali ke tingkat kebahagiaan yang kurang lebih sama seperti sebelum perubahan terjadi.

Dengan kata lain, kebahagiaan bukan hanya soal apa yang kita miliki atau apa yang terjadi pada kita. Jika kita mengandalkan barang-barang material atau pencapaian besar untuk merasa bahagia, maka kebahagiaan itu hanya sementara. Nikmatnya hanya sesaat dan kembali seperti semula. Ini juga menjadi alasan bahwa tidak gunanya “melarikan diri” dari masalah ke minum minuman keras atau ke tempat tertentu hanya agar suasana hati berubah. Karena pada saat itu, seseorang bisa saja telah melupakan masalahnya. Namun ketika ia kembali tersadar dari perasaan mabuknya, masalah itu seakan lebih keras menghimpit kepalanya.

Temuan Brickman dan Campbell memberikan wawasan penting tentang bagaimana kita seharusnya merespons perubahan dalam hidup. Ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan yang lebih permanen, kita perlu memperhatikan aspek-aspek lain dalam hidup kita, seperti hubungan sosial, pengalaman positif, dan cara berpikir yang konstruktif. Dengan memahami bahwa kebahagiaan sering kali bersifat sementara dan kita cepat beradaptasi, kita dapat lebih bijak dalam mengejar kebahagiaan. Daripada hanya mengejar barang-barang materi atau pencapaian besar, kita dapat fokus pada pengalaman yang lebih bermakna dan hubungan yang lebih dalam.

Kita mesti keluar dari identitas diri yang egois dan bersifat materi. Karena diri kita bukan hanya jasmani semata. Justru diri kita yang sejati adalah jiwa yang bersifat non materi. Dan karenanya memiliki perjalanan dan tujuan yang juga tidak bersifat indrawi. Kesadaran diri adalah bagian dari perjalanan menuju penyempurnaan diri. Kita semua sedang dalam perjalanan ini, mulai dari kesadaran yang fokus pada hal-hal duniawi hingga kesadaran yang semakin spiritual. Transformasi kesadaran diri akan membawa kita semakin dekat dengan pemahaman tentang siapa kita sebenarnya dan bagaimana kita terkait dengan Sang Maha Sempurna atau realitas yang lebih besar.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *