Oleh: Syahril Syam *)
Kita semua mengenal AI (Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan). AI berusaha meniru atau mensimulasikan kemampuan kognitif manusia untuk membuat keputusan, memecahkan masalah, dan belajar dari pengalaman. Namun secanggih apapun AI, ia tidak memiliki kesadaran sendiri, yang dimana ia bisa mengambil keputusan secara sadar untuk bertindak.
Dalam bukunya yang berjudul “The Hidden Spring: A Journey to the Source of Consciousness”, Mark Solms yang merupakan seorang neurosaintis dan psikoanalis, menuturkan bahwa ada beberapa fungsi pemrosesan informasi tingkat tinggi, seperti mengubah input dari mata menjadi pengenalan bentuk visual, yang bisa dengan mudah dibayangkan terjadi tanpa kesadaran (dan AI bisa melakukan ini), namun ada satu fungsi otak yang tidak dapat kita bayangkan selain sebagai kesadaran, yaitu perasaan.
Dalam konteks neurosains dan psikologi, perasaan disebut sebagai afek, yaitu elemen inti dari suasana hati dan pengalaman emosional. Ini mencakup perasaan dan emosi yang kita rasakan dan berfungsi untuk menyampaikan informasi tentang keadaan internal kita. Solms mengajukan argumen bahwa afek – yang mencakup suasana hati dan emosi – adalah elemen inti dari kesadaran. Solms berpendapat bahwa pengalaman afek selalu bersifat sadar dan tidak mungkin ada tanpa kesadaran. Banyak fungsi pemrosesan informasi dalam otak dapat terjadi tanpa kesadaran. Namun, afek atau perasaan adalah satu-satunya aspek yang secara intrinsik memerlukan kesadaran.
Kesadaran bukan hanya tentang proses kognitif atau pemrosesan informasi, tetapi juga tentang bagaimana kita merasakan dan mengalami keadaan emosional kita. Afek dianggap sebagai penyampai informasi tentang keadaan internal. Afek muncul dari ketidaksesuaian antara kebutuhan saat ini – untuk rasa lapar, istirahat, perlindungan, koneksi sosial – dengan keadaan saat ini. Perasaan negatif muncul dari “tidak cukup” dan perasaan positif muncul dari kebutuhan yang terpenuhi. Kita memilikinya karena perasaan membantu merangkum apa yang diproses tubuh kita tentang keadaan internal kita. Perasaan membantu membimbing kita menuju tindakan yang menghindari ancaman dan memanfaatkan peluang.
Kita rela bekerja pagi hingga malam hari, tentu demi secercah harapan dan hal ini bisa terjadi jika secara emosional kita tahu bahwa harapan itu bisa kita genggam. Kehilangan perasaan pada aspek ini, akan membuat seseorang tak bisa menemukan makna lagi dalam pekerjaannya. Ia tak akan mampu mendapatkan alasan (secara emosional) kenapa ia mesti bekerja keras.
Menurut Solms kita membutuhkan perasaan karena perasaan membantu kita memutuskan tindakan apa yang harus diambil selanjutnya. Perasaan positif dan konstruktif adalah cara singkat tubuh untuk mengkomunikasikan “tebakan terbaik” bahwa suatu tindakan akan bermanfaat, sementara perasaan negatif dan destruktif adalah singkatan untuk “jangan lakukan itu!”
Perasaan internal (seperti rasa lapar, kelelahan, atau emosi) memengaruhi cara kita merasakan dan berinteraksi dengan dunia. Klaim Solms juga didukung oleh penelitian neurosains. Prof. Antonio Damasio yang meneliti pasien yang otak bagian depannya rusak parah, menemukan bahwa secara kognitif pasien tersebut masih memiliki kemampuan memersepsi, mengingat masa lalu, ingatan jangka pendek, pembelajaran hal-hal baru, kemampuan berbahasa, dan kemampuan aritmatika. Namun ia laksana zombie, manusia tanpa perasaan dan kesadaran. Tahu melakukan berbagai hal, tapi hanya seperti robot yang melakukan tugas-tugas namun tanpa kesadaran dan perasaan. Damasio menemukan benang merahnya bahwa otak bagian depan, selain berfungsi untuk kerja intelektual, juga berfungsi untuk penciptaan visi akan masa depan dengan mengambil keputusan di saat ini yang melibatkan pengendalian emosi.
Tanpa afek, tidak ada sinyal ringkas yang memungkinkan pengambilan keputusan dan mengapa kita mengambil keputusan tersebut. Solms berkata bahwa kesadaran “secara mendasar bersifat afektif.” Inti dari kesadaran adalah penilaian ringkas tubuh dan pikiran tentang apa yang akan dan tidak akan bermanfaat. Pemikiran Solms ini sepertinya agak mirip dengan pandangan Mulla Shadra tentang kesadaran, yang diartikan sebagai proses aktif di mana jiwa manusia tidak hanya merefleksikan dunia luar tetapi juga mengalami perubahan internal.
@pakarpemberdayaandiri











