Atas Nama Cinta

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam*)

Ada yang rela melakukan apapun demi menyenangkan kekasihnya. Ada yang memilih berkorban demi kekasihnya. Ada yang mengorbankan orang lain demi kekasihnya. Ada yang berupaya menghalangi yang lain mendekat kepada kekasihnya. Ada yang begitu ingin memiliki kekasihnya. Ada yang berusaha untuk tak memiliki kekasihnya. Ada yang cemburu karena kekasihnya

Walau berbeda-beda, semuanya dilakukan atas nama cinta. Di balik cinta ada ketaatan, kepatuhan, berkorban, melakukan apapun, dan hanya menginginkan satu-satunya di hati. Maka pantaskah semua sifat perbuatan ini ditujukan kepada makhluk? Layakkah semua sifat dan perbuatan atas nama cinta dilakukan demi makhluk?

Jika itu dilakukan demi makhluk, maka nilai baik dan buruk perbuatan hanya berdasarkan makhluk. Akhirnya, cinta yang mulia dan bernilai baik menjadi kotor hanya karena dilandasi penilaian makhluk yang dicintainya. Ketaatan, kepatuhan, berkorban, melakukan apapun, dan hanya mengingkan satu-satunya di hati akan bernilai subjektif, dan dibenarkan atas nama cinta.

Alih-alih memberikan cinta kepada makhluk, cinta kita sebagai makhluk justru mesti diberikan kepada Mahbub Sejati, Sang Maha Pencipta. Cinta ini akhirnya menemukan nilai kebaikannya. Karena ketaatan, kepatuhan, berkorban, melakukan apapun, dan hanya mengingkan satu-satunya di hati, semuanya dari penilaian-Nya. Dan karena Dia menciptakan alam semesta ini dengan Cinta-Nya, maka kasih sayang kita kepada orang tua, kepada pasangan, kepada anak, kepada sesama manusia, kepada makhluk lainnya adalah karena bukti cinta kita kepada Sang Maha Pencipta. Cinta ini akhirnya melahirkan perasaan yang kuat untuk bisa menjadi seperti-Nya, yang dengan itu kita mesti berakhlak sebagaimana akhlak-Nya. Yang memegang teguh kebenaran dan disaat yang sama tetap berlaku ramah, penuh kasih, dan toleransi kepada sesama manusia.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *