Oleh: Syahril Syam *)
Salah satu daya (kekuatan) yang dianugerahi kepada diri kita adalah daya amarah. Daya ini bahkan telah teraktual di saat kita masih usia pra TK. Perhatikanlah seorang anak pra TK. Mereka akan marah ketika diganggu, atau ditekan oleh orang tuanya. Saat orang tua menyuruh anaknya untuk membagikan kuenya, ia menolak. Ketika dipaksa, maka anak pun marah atau menangis. Daya amarah membantu anak-anak untuk melindungi dirinya dari tekanan.
Itulah sebabnya, daya amarah adalah kekuatan yang ada pada diri kita dan berfungsi sebagai perlindungan diri dari berbagai tekanan atau penindasan. Jadi jangan heran ketika berhasil menguasai orang atau sesuatu akan merasa senang, dan ketika dikuasai, ditindas, atau ditekan akan merasa marah. Karena daya amarah ketika terpenuhi (berhasil menguasai) akan merasa senang, dan ketika tidak terpenuhi atau ditekan (dikuasai) akan menjadi marah. Tentu saja, daya amarah yang konstruktif adalah ketika tidak ditekan dan juga tidak menindas (berada dalam posisi moderat).
Karena kebanyakan anak-anak cenderung sering ditekan bahkan ditindas, maka daya amarahnya menjadi lebih sering aktif untuk memproteksi dirinya. Hal ini biasanya mulai terjadi ketika anak telah berusia pra TK, dimana kebanyakan orangtua cenderung mulai memaksakan kehendaknya kepada anak. Karena daya amarah adalah sesuatu yang hadir secara alami pada setiap manusia, maka kehendak orangtua yang cenderung memaksa akan dirasa sebagai tekanan oleh bawah sadar anak. Hasilnya adalah anak akan mulai mempertahankan dirinya dengan pertama-tama menolak kehendak tersebut. Dan jika terus dipaksakan, anak kemudian akan mulai menangis.
Seringkali kita temukan orangtua yang mencoba mengajarkan anaknya untuk berbagi, cenderung memaksakan anaknya untuk berbagi kuenya atau mainannya kepada teman sebayanya. Maksud orangtua memang baik, namun jika maksud baik ini dilakukan dengan cara yang bersifat memaksakan kehendak, maka yang terjadi adalah anak akan merespons dengan kemarahan sebagai bentuk proteksi diri. Hal ini memang terlihat sepele, namun jika pemaksaan kehendak kepada anak cenderung sering dilakukan, maka pada dasarnya orangtua justru telah melatih anaknya untuk lebih sering menggunakan daya amarahnya.
Saat proses ini berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya, maka respons anak akan lebih banyak berupa kemarahan dibandingkan toleransi dan saling pengertian. Kondisi anak yang seperti ini akan semakin parah ketika tidak ada ruang bagi anak untuk curhat dan menyampaikan keluh kesahnya. Akhirnya, selama bertahun-tahun terjadi penumpukan kemarahan. Maka jangan heran ketika anak mulai beranjak remaja dan dewasa, hal-hal sepele cenderung membuatnya mudah marah. Itu karena telah tersimpan penekanan amarah selama bertahun-tahun dan telah tercipta jalur saraf memori (bahwa saya mesti memproteksi diri) yang terkait dengan daya amarah.
Seyogyanya daya amarah adalah karunia bagi kita untuk bisa tampil asertif (tidak ditindas dan juga tidak menindas), malah yang terjadi akhirnya daya amarah berubah menjadi destruktif. Karena seringkali seseorang yang mudah marah karena merasa ditindas dan ingin membela dirinya, namun ketika mereka punya kekuatan justru berubah menjadi penindas dengan menggunakan daya amarahnya untuk menguasai orang lain.
@pakarpemberdayaandiri











