Fokuslah Pada 40 %

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Banyak orang bertanya-tanya, dari mana asalnya angka 50% kebahagiaan ditentukan oleh genetik yang sering disebut dalam buku “The How of Happiness” karya Sonja Lyubomirsky. Angka ini sebenarnya berasal dari berbagai penelitian ilmiah tentang kembar identik (yang genetiknya 100% sama). Bayangkan dua anak kembar yang sejak bayi dipisahkan – satu dibesarkan di kota kecil yang tenang, satunya lagi tumbuh di kota besar yang penuh hiruk-pikuk.

Mereka menjalani hidup yang sangat berbeda: sekolah berbeda, keluarga angkat berbeda, bahkan budaya yang berbeda. Tapi anehnya, ketika dewasa dan bertemu kembali, para peneliti menemukan bahwa mereka memiliki tingkat kebahagiaan yang hampir sama. Mereka sama-sama optimis atau sama-sama mudah cemas, meski hidup mereka tak bersinggungan selama puluhan tahun. Kisah seperti ini bukan hanya satu atau dua. Ratusan bahkan ribuan pasangan kembar telah diteliti oleh para ilmuwan seperti David Lykken dan Auke Tellegen. Hasilnya mengejutkan: ternyata gen kita berperan besar dalam menentukan seberapa bahagia kita secara alami – sekitar 50 persen, menurut hasil-hasil studi tersebut.

Pernahkah ada yang bertanya, kenapa ada orang yang tampak selalu ceria meskipun hidupnya penuh tantangan, sementara yang lain mudah merasa sedih bahkan saat semuanya terlihat baik-baik saja? Sonja Lyubomirsky, seorang peneliti kebahagiaan, mencoba menjawab misteri ini lewat konsep yang disebut “set-point theory of happiness”. Ia menggambarkannya seperti sebuah pie chart kebahagiaan, semacam bagan yang menunjukkan dari mana sebenarnya kebahagiaan kita berasal.

Menurut Lyubomirsky, sekitar 50% kebahagiaan seseorang berasal dari faktor genetik, yang disebut “set point”. Ini seperti titik keseimbangan emosional bawaan. Ada orang yang secara alami punya suasana hati yang cenderung cerah, mudah bangkit setelah jatuh, dan bisa melihat sisi baik dari keadaan. Tapi ada juga yang secara alami lebih sensitif atau mudah terpengaruh oleh stres. Bayangkan seperti termostat emosi dalam diri kita. Meskipun suhu kebahagiaan bisa naik atau turun karena peristiwa hidup, kita akan cenderung kembali ke “suhu dasar” itu setelah beberapa waktu. Itulah yang disebut set point.

Tapi kabar baiknya, meskipun 50% itu sudah “dibawa dari lahir”, kita tidak sepenuhnya terikat olehnya. Masih ada bagian lain dari pie chart yang bisa kita bentuk sendiri. Dan itulah ruang dimana harapan, niat baik, dan kebiasaan positif bisa bertumbuh.

Hidup ini bukan hanya soal kartu yang dibagikan, tapi bagaimana kita memainkan kartu itu. Lyubomirsky menyebut bahwa masih ada 40% bagian dari pie chart kebahagiaan yang sepenuhnya ada di tangan kita, dan di ruang inilah harapan bisa tumbuh, niat baik bisa berakar, dan kebiasaan positif bisa menjadi cahaya yang menyinari hari-hari kita. Inilah tempat dimana kita bisa memilih untuk bersyukur meski tidak sempurna, untuk memberi meski sedang kekurangan, dan untuk menciptakan makna bahkan dari luka. Di sinilah kebahagiaan tidak lagi sekadar warisan dari gen, tapi juga hasil dari pilihan sadar yang kita buat setiap hari.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan dalam 40% bagian yang bisa kita bentuk sendiri ini? Sonja Lyubomirsky menyebutnya sebagai “aktivitas disengaja”, yaitu hal-hal sederhana tapi bermakna yang kita pilih untuk lakukan setiap hari. Misalnya, ketika kita memilih untuk bersyukur, bukan karena hidup selalu mudah, tapi karena kita sadar bahwa masih ada hal kecil yang layak disyukuri. Atau saat kita memilih untuk berbuat baik, bukan karena kita sedang tidak punya masalah, tapi justru karena kita ingin menjadi bagian dari solusi bagi orang lain. Bahkan ketika kita duduk tenang sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu merenungkan makna hidup – kita sedang melatih diri untuk hidup lebih sadar dan terhubung. Ini bukan aktivitas besar yang butuh banyak waktu atau uang, tapi kebiasaan kecil yang diulang dengan kesadaran, yang lama-lama memperkuat otot kebahagiaan di dalam diri kita.

Dalam ruang 40% inilah kita punya kendali. Di sinilah kita menulis ulang kisah kita sendiri. Kita mungkin tidak bisa memilih masa lalu atau gen kita, tapi kita selalu bisa memilih cara kita merespons hidup hari ini. Di ruang 40% inilah letak kebebasan kita yang sesungguhnya. Bayangkan hidup seperti sebuah buku. Memang, bab awalnya – genetik kita, masa kecil kita, keadaan yang menimpa kita – bukan kita yang menulisnya. Tapi mulai dari halaman ini, kitalah penulisnya. Di ruang 40% ini, kita bisa memilih bagaimana ingin merespons. Mau tetap terjebak dalam cerita lama, atau mulai menulis lembaran baru dengan suara hati yang lebih jujur dan arah hidup yang lebih sadar.

Kita memang tak bisa mengubah gen kita. Kita juga tak bisa membalik waktu atau menghapus luka. Tapi kita selalu bisa memilih: memilih untuk bangkit, untuk bersyukur, untuk memaafkan, untuk terus melangkah meski perlahan. Inilah kekuatan yang sering kita lupakan – kemampuan untuk menciptakan makna, bahkan dari kekacauan. Dan dari situlah, kebahagiaan yang sejati mulai tumbuh – bukan karena hidup selalu ada kemudahan, tapi karena kita memutuskan untuk hadir sepenuhnya di dalamnya.

Kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari hidup yang mulus tanpa luka. Ia justru tumbuh dari keputusan-keputusan kecil untuk tetap hadir – menyapa pagi dengan syukur, menerima luka dengan lapang, dan terus melangkah meski pelan. Sekali lagi, bukan karena hidup selalu ada kemudahan, tapi karena kita memilih untuk hidup sepenuhnya di dalamnya.

Oh iya, 10% sisanya ditentukan oleh keadaan eksternal. Meliputi faktor seperti status sosial ekonomi, tempat tinggal, penampilan fisik, jenis kelamin, dan peristiwa kehidupan besar. Meskipun sering dianggap penting, penelitian menunjukkan bahwa kontribusinya terhadap kebahagiaan relatif kecil. Ya, hanya sepuluh persen. Kita sering mengejarnya seakan-akan itulah sumber utama kebahagiaan, padahal efeknya hanya sebentar. Rumah baru akan terasa biasa. Gaji besar pun bisa cepat menjadi “standar baru”. Dan penampilan fisik? Itu bisa berubah, seiring waktu. Bukan berarti keadaan luar tidak penting. Tapi ternyata, apa yang ada di dalam diri kitalah yang paling menentukan – cara kita berpikir, merasa, dan merespons hidup setiap hari.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *