Gemetar dan Kesulitan Berkomunikasi

Syahril Syam

Oleh : Syahril Syam *)

Ada seorang klien dewasa yang mahir berbahasa asing, tapi kesulitan berkomunikasi. Ia bahkan mampu menguasai bahasa asing dari beberapa negara, namun kadang ia merasa sulit menyampaikan sesuatu dengan bahasa Indonesia. Awalnya ia mengira bahwa mungkin terlalu banyak kosa kata asing di pikirannya, sehingga agak kesulitan menyampaikan sesuatu dengan bahasa Indonesia. Namun yang terjadi sesungguhnya adalah perasaan cemasnya cukup intens, dan hal inilah yang mengganggu proses pengolahan kata bahasa Indonesia di otaknya.

Ketika ia berbicara di depan umum, bisa dipastikan tubuhnya mengucurkan keringat dingin, tangannya gemetar, gugup saat berbicara, dan kehilangan kosa kata bahasa Indonesia sehingga tidak tahu apalagi yang mesti disampaikan. Semua ini sudah terjadi pada dirinya selama bertahun-tahun hingga di usianya yang sudah di atas 25 tahun. Karena semua anak yang lahir tidak membawa satupun program (pola perilaku, sifat, dan kebiasaan) semenjak lahir, maka sudah pasti program “gugupnya” memiliki akar masalah, yang merupakan sebab awal lahirnya program “gugup” ini.

Satu hal penting yang mesti disadari oleh semua orangtua adalah saat anak masih berusia 0 – 7 tahun, maka filter pikiran sadarnya belum aktif, sehingga semua input yang masuk melalui panca indranya akan langsung terekam di bawah sadar anak. Ibarat spons yang menyerap air, semuanya langsung terekam, tersimpan, dan dijalankan oleh bawah sadar sebagai suatu program (sifat, perilaku, keyakinan, dan kebiasaan).

Pikiran bawah sadar anak sangat aktif dalam menyerap informasi dan membentuk keyakinan dasar serta pola perilaku. Anak lebih mudah dipengaruhi oleh pengalaman, dan filter kritis mereka belum sepenuhnya berkembang. Anak belum memiliki kemampuan untuk secara aktif menyaring dan menilai informasi dengan cara yang terstruktur, sehingga anak-anak lebih cenderung mengandalkan pikiran bawah sadar mereka dalam memproses informasi.

Dan ternyata benar adanya, klien dewasa tersebut mulai mengalami tekanan dan kekerasan oleh orangtuanya sejak ia masih berumur 6 tahun. Dengan kata lain, di usia inilah ia pertama kali mendapat tekanan yang begitu besar dan kekerasan verbal maupun fisik. Hal ini membuat ia merasa tersakiti. Ia merasa bahwa orangtuanya tidak menyayanginya, ia sedih, marah, dan mulai gugup ketika berbicara. Terbentuknya pola destruktif ini disebabkan oleh perilaku yang kurang tepat dari kedua orangtuanya. Tentu saja kedua orangtuanya bermaksud baik padanya, namun cara mereka keliru sehingga meninggalkan luka batin pada diri anaknya.

Tekanan dan kekerasan yang ia rasakan merupakan ancaman bagi dirinya. Artinya, setiap kali orangtuanya melakukan hal tersebut, maka terasa sebagai sebuah ancaman pada diri anak. Dan karenanya terlahir respons keringat dingin, gemetar, dan gugup ketika berbicara (seolah semua kosakata Indonesia hilang dari memori). Pola destruktif inilah yang kemudian menjadi sebuah kebiasaan (dalam merespons) ketika menghadapi ancaman. Dan karena berbicara di depan umum terasa sebagai sebuah ancaman, maka secara otomatis respons destruktif tersebutlah yang hadir. Sehingga apapun yang dirasa oleh bawah sadar sebagai ancaman, maka respons yang hadir akan selalu sama (keringat dingin, gemetar, dan gugup ketika berbicara), walau kejadian buruk dari orangtuanya telah lama berlalu.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *