Oleh: Syahril Syam *)
Salah satu prinsip dasar transformasi diri adalah semakin intens suatu perasaan, maka semakin mendominasi sikap dan tindakan kita. Karena semenjak lahir kita telah membawa program dasar jasmaniah berupa kecenderungan untuk makan, minum, seks, dan menginginkan sesuatu, maka telah tertanam kuat di bawah sadar kita terkait perasaan yang berkaitan dengan itu semua.
Perasaan adalah energi penggerak dan setiap perasaan selalu memiliki konsep, sehingga ketika muncul rasa lapar maka perasaan yang hadir akan menjadi penggerak dan beriringan dengan konsep “lapar dan ingin makan”. Rasa lapar akan mendorong kita untuk bergerak sesuai konsep yang mengiringinya, yaitu lapar dan kebutuhan akan makanan.
Berbagai perasaan dari kecenderungan jasmaniah ini begitu kuat tertanam pada diri kita dikarenakan telah kita bawa semenjak lahir. Dan karena perasaan yang dirasakan sangat intens, maka tindakan dan kehidupan manusia senantiasa digerakkan oleh perasaan-perasaan dari kecenderungan jasmaniah ini. Tidak jarang seseorang didoktrin untuk sekolah tinggi-tinggi, hanya untuk bisa mendapatkan pekerjaan mapan hanya untuk memenuhi rasa lapar, haus, seks, dan keinginan lainnya.
Kebanyakan manusia bertindak dan menjalani hidup hanya sekadar memenuhi hasrat jasmaniahnya semata. Bahkan tidak jarang seseorang mesti marah, bertengkar, dan menuntut hanya demi pemuasan rasa lapar, haus, seks, dan berbagai keinginan. Daya amarahnya digunakan hanya untuk melindungi kepentingan egois jasmaniahnya semata.
Hidup dengan didominasi oleh perasaan-perasaan dari kecenderungan jasmaniah, akan membuat seseorang rawan stres kronis. Rasa lapar, haus, seks, dan berbagai keinginan, cenderung membuat seseorang mudah khawatir ketika tidak terpenuhi. Makanya jangan heran, orang miskin yang kesulitan makan akan sama perasaan khawatirnya dengan orang kaya yang masih didominasi akan perasaan menginginkan sesuatu.
Orang miskin khawatir dan cemas karena sulit memperoleh makanan, sedangkan orang kaya juga khawatir dan cemas karena masih banyak hasrat keinginannya yang mesti dipenuhi. Pola keduanya sama, yaitu mengalami stres kronis karena sering khawatir dan cemas demi memenuhi hasrat jasmaniahnya, dan merasa cemas dan takut kehilangan sesuatu yang telah dimiliki.
Selama masih perasaan dari kecenderungan jasmaniah yang mendominasi seseorang, maka tidak ada bedanya antara si miskin dan si kaya. Keduanya rentan terhadap stres kronis. Bisa dibayangkan model kehidupan seperti apa jika terus didominasi oleh perasaan dari kecenderungan jasmaniah ini. Akan mudah muncul perasaan iri, dengki, kekhawatiran, kecemasan, ketakutan, sakit hati, kemarahan yang berlebihan, dan berbagai perasaan destruktif lainnya.
Oleh sebab itu, kita mesti menyadari bahwa perasaan-perasaan dari kecenderungan jasmaniah yang telah kita bawa semenjak lahir, semua itu adalah ujian bagi kita. Kita mesti berusaha dengan kehendak dan kesadaran untuk menciptakan perasaan-perasaan yang terkait dengan konsep-konsep konstruktif.
Jika perasaan dari kecenderungan jasmaniah membuat kita menjadi ego dan mempertuhankan hawa nafsu, maka kita mesti melatih diri untuk meyakini dan merasakan kehadiran Sang Maha Sempurna dan kemudian menjalani hidup dengan mengikuti kepengaturan-Nya. Sehingga perasaan-perasaan yang mesti dilatih kehadirannya adalah perasaan cinta, bersyukur, memberi, peduli, toleransi, kasih sayang, dan berkeadilan.
Semua perasaan konstruktif ini tentu saja akan saling melawan dengan perasaan ego dan destruktif. Akan ada tarik-menarik kepentingan perasaan. Namun di sinilah makna dari menjalani kehidupan ini, yaitu melatih diri agar bisa semakin manusiawi (tidak ego dan mempertuhankan hawa nafsu). Dan karena hidup ini adalah melatih diri agar semakin manusiawi, maka ujiannya adalah melawan diri sendiri (perasaan egois dan destruktif), yaitu mengontrol semua perasaan-perasaan akan makan minum, seks, dan menginginkan sesuatu untuk berada di bawah kendali perasaan syukur, sabar, kepedulian, kasih sayang, kemanusiaan, dan keadilan
@Pakar Pemberdayaan Diri











