Hipnosis, Meditasi dan Shalat

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Menurut US Department of Education, Human Services Division, hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu oleh pikiran bawah sadar. Berdasarkan definisi ini, maka jelas bahwa hipnosis adalah relaksasi mental dan bukan relaksasi tubuh.

Artinya tubuh kita bisa saja tetap dalam kondisi terjaga, namun pikiran kita berada dalam kondisi rileks. Hal ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hipnosis bukanlah keadaan tidur.

Dalam penelitian terkait gelombang otak, kondisi hipnosis adalah kondisi ketika terjadi perubahan dominan gelombang otak beta ke dominan gelombang otak alfa, theta, dan delta. Frekuensi gelombang beta menjadi sangat rendah, dan terjadi peningkatan frekuensi gelombang otak alfa, theta, dan delta.

Gelombang beta masih tetap aktif walau dalam frekuensi rendah, karena fungsi gelombang beta adalah menghubungkan diri internal kita dengan dunia eksternal. Tanpa gelombang beta, subjek hipnosis tidak akan bisa diajak berkomunikasi.

Hipnosis adalah kondisi kesadaran, dimana terdapat tingkatan kesadaran. Mulai dari level kedalaman dangkal, kedalaman menengah, level sangat dalam, hingga kedalaman ekstrim. Setiap level kesadaran hipnosis akan bercirikan hal-hal spesifik pada mental dan fisik kita.

Dengan mengutip artikel Adi W. Gunawan (lihat https://www.adiwgunawan.com/articles/meditasi-tak-kenal-maka-tak-sayang), kata “meditasi” berasal dari bahasa Inggris “meditation”, berakar kata Latin “meditari”, yang artinya (a) merenungkan, (b) berpikir secara mendalam tentang sesuatu, (c) menelaah secara cermat, penuh perhatian, dan mendalam tentang sesuatu hal dalam waktu lama. Bila ditilik dari akar katanya, meditasi sejatinya adalah aktivitas berpikir yang semua orang bisa lakukan dengan aman dan nyaman.

Dan sesuai maknanya, aktivitas berpikir ini bukanlah aktivitas biasa karena melibatkan proses berpikir mendalam, dilakukan secara sadar, untuk tujuan spesifik. Untuk dapat mengerti dan berdiskusi tentang meditasi, kita perlu menggunakan definisi sahih.

Dan tentunya definisi sahih wajib berasal dari pakar atau praktisi berpengalaman yang telah lama menggeluti meditasi. Meditasi, menurut Y.M. Sri Paññāvaro Mahathera, adalah kegiatan membawa pikiran dengan penuh kesadaran pada satu objek. Sementara menurut Anna Wise, meditasi adalah kondisi kesadaran dengan pola gelombang otak sangat spesifik. Kondisi meditatif ini dicapai dengan teknik sesuai.

Masih dengan mengutip Adi W Gunawan: Seturut definisi di atas, meditasi tidak berarti kita harus duduk berdiam diri memerhatikan objek tertentu. Benar, ini adalah salah satu cara bermeditasi. Kita luangkan waktu khusus untuk duduk, hening, menyadari dan fokus pada objek meditasi. Dan meditasi juga bisa dilakukan sambil berjalan. Meditasi bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun.

Meditasi adalah menyadari, sadar akan yang kita pikir, ucap, rasa, dan lakukan. Intinya adalah kita menyadari. Cara mudah untuk bermeditasi, seperti yang diajarkan oleh Y.M. Uttamo Mahathera, adalah dengan sering-sering bertanya pada diri sendiri, “Saat ini saya sedang apa?”

Pertanyaan sederhana ini segera membawa pikiran kita, yang semula sibuk memikirkan berbagai hal, kembali ke saat ini, dan menyadari apa yang sedang kita pikir, ucap, atau lakukan. Inilah esensi meditasi, sadar.

Dari kutipan di atas, kita mengetahui tentang konsep mindfulness (perhatian penuh), (masih mengutip Adi W. Gunawan di artikel https://www.adiwgunawan.com/articles/meditasi-mindfulness-hipnosis-dan-hipnoterapi), yang diartikan sebagai pengamatan atas pengalaman dan bagaimana pengalaman ini berlangsung tanpa memberi makna, menghakimi, menilai, memberi nama atau label, melibatkan emosi, atau berusaha dengan sesuatu cara mengubah pengalaman ini.

Ada dua jenis meditasi perhatian penuh (mindfulness): (1) samatha, menggunakan perhatian terfokus pada objek spesifik dan (2) vipassana yang menekankan pengamatan terbuka terhadap persepsi yang berlangsung.

Dari uraian singkat ini, maka terdapat kesamaan dan perbedaan antara hipnosis dan meditasi. Dengan mengutip Adi W. Gunawan: Bila ditilik dari kesadaran individu saat melakukan meditasi dan dalam kondisi hipnosis, terdapat kemiripan dan perbedaan. Walau individu yang melakukan meditasi maupun yang sedang mengalami kondisi hipnosis tampak sama tenang dan pasif, aktivitas kesadaran mereka sangat berbeda.

Terdapat dua aspek kesadaran dalam konteks mindfulness: perhatian (attention) dan kesadaran (awareness). Perhatian (attention) adalah proses pemusatan kesadaran, memberikan kepekaan yang tinggi pada rentang pengalaman terbatas. Kesadaran (awareness) berfungsi sebagai radar bagi kesadaran (consciousness), yang secara kontinu memonitor lingkungan di luar dan di dalam diri individu.

Kesadaran dan perhatian saling terhubung. Perhatian terus-menerus menarik “sosok” keluar dari “tanah” kesadaran, menahan mereka secara fokus untuk jangka waktu yang berbeda-beda. Hal ini memungkinkan individu untuk dapat menyadari suatu stimulus tanpa harus meletakkan stimulus tersebut sebagai pusat perhatian.

Dari dua tipe meditasi, samatha, mengembangkan kondisi tercerap, adalah praktik mindfulness yang memiliki kemiripan dengan kondisi hipnosis.

Samatha, bila dilatih secara konsisten, menuntun pada kondisi konsentrasi terpusat yang dikenal sebagai samadhi atau tercerap sepenuhnya pada objek.

Dalam meditasi samatha, pikiran sadar meditator tercerap, fokus, dan terkunci pada objek seperti napas. Sementara dalam hipnosis, pikiran sadar individu fokus pada suara, tuntunan terapis, sensasi fisik, dan pengalaman yang diungkap pikiran bawah sadar.

Lebih lanjut kutipan ini: Walau terdapat kesamaan, mindfulness dan hipnosis berbeda dalam mekanisme kognitif dan neurofisiologis tertentu. Hipnosis dapat menimbulkan atau meningkatkan disosiasi (mis: amnesia, depersonalisasi, kehilangan sensorik, dll.), bersama dengan pundarnya orientasi realitas umum (generalized reality orientation/GRO). GRO adalah fungsi pikiran yang mengawasi keadaan sekeliling. GRO tidak bekerja saat individu tidur. Dalam hipnosis, tingkat keaktifan GRO bergantung pada kedalaman hipnosis yang berhasil dicapai. Semakin dalam kondisi hipnosis, fungsi GRO semakin pudar. Dalam praktik mindfulness, khususnya vipassana, praktisi tetap sadar akan pengalaman eksternal dan internal. Bentuk-bentuk pikiran yang mengganggu dan sensasi sakit dikenali namun tidak diberi perhatian, bukan “terputus” seperti dalam disosiasi hipnotik. Dalam hipnosis, fungsi pemantauan terputus dari fungsi eksekutif .

Proses ini yang diperkirakan mengakibatkan terjadinya penghentian sementara dari fungsi penilai kritis terhadap realita, dalam hal ini GRO, dan memungkinkan sugesti hipnotik dan rekonstruksi memori dapat terjadi.

Dalam mindfulness (vipassana), yang terjadi adalah pola sebaliknya. Fungsi pemantauan dan fungsi eksekutif tetap aktif dan terhubung satu dengan lainnya, yang mengakibatkan kesadaran praktisinya meningkat, tidak mengalami penurunan seperti dalam kondisi hipnosis. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa mindfulness adalah serangkaian prosedur kognitif yang beragam memfasilitasi perhatian terpusat (samatha) atau pengawasan terbuka tanpa menghakimi (vipassana). Samatha menyerupai hipnosis dengan peningkatan dalam konsentrasi dan pencerapan. Sementara vipassana berbeda dengan hipnosis karena ia meningkatkan, tidak meredupkan kesadaran.

Jika hipnosis dan meditasi – pada sisi tertentu memiliki kesamaan – adalah tentang perhatian penuh kepada suatu objek, maka shalat adalah perhatian penuh kepada Allah SWT. Landasan utama shalat adalah Tauhid; bahwa secara objektif eksternal, satu-satunya Wujud Pencipta adalah Dia Yang Mahaagung. Dan shalat adalah tentang seluruh totalitas perhatian kita, kesadaran kita, dan bahkan kedirian kita hanya tertuju kepada-Nya semata.

Itulah sebabnya, ibadah, zikir, dan wirid hanya akan memberikan hasil yang sempurna bila semua itu mematrikan bentuk batin di dalam qalbu.

Akibatnya qalbu akan memiliki bentuk ubudiyyah (kesadaran penghambaan), terbebas dari segala nafsu dan ketidakpatuhan. Diterimanya segenap amal kita bergantung pada diterimanya shalat kita. Dan penerimaan shalat kita bergantung pada kehadiran qalbu (hati) kita. Sehingga bilamana qalbu tidak hadir dalam shalat, maka gugurlah shalat itu.

Kehadiran qalbu saat shalat berarti khusyuk ketika shalat. Penghalang utama kehadiran qalbu biasanya karena kebercabangan pikiran yang berasal dari diri kita sendiri. Seorang ulama sufi berkata bahwa ada 2 (dua) sebab penghalang hadirnya qalbu ketika shalat, yaitu: pertama, Burung Khayal.

Pada diri kita, burung khayal ini bersifat liar dan suka terbang dari satu dahan ke dahan lainnya. Ini tidak hanya terjadi karena cinta dunia semata, akan tetapi memang keliaran khayal ini cenderung menimpa siapapun.

Dalam penelitan gelombang otak dan kesadaran manusia, maka dalam konteks ini, khusyuk mirip dengan hipnosis dan meditasi (samatha). Yaitu kondisi fokus dan perhatian penuh yang membawa perhatian kita berpindah dari dunia eksternal (dan kebercabangan pikiran) ke dunia internal (ke dalam diri). Namun, seperti yang tadi disampaikan, bahwa perhatian penuh pada shalat berbeda dengan hipnosis dan meditasi. Pada shalat, perhatian penuh kita hanya kepada-Nya. Rasul SAW bersabda, “Sembahlah Allah seakan-akan kau melihat-Nya. Bila kau tidak (mampu) melihat-Nya, maka pasti Dia akan melihatmu.”

Dari perkataan Rasul SAW ini menunjukkan kepada kita bahwa fokus kesadaran diri kita, bahkan kedirian kita sendiri, mesti selalu terikat kepada Dia Yang Mahaagung.

Hadits ini menunjukkan bahwa ada 2 (dua) tingkatan qalbu. Pertama, tingkatan ketika seorang pesuluk (penapak spiritual) menyaksikan Keindahan Dzat Yang Mahaindah dalam pelbagai manifestasi-Nya, sehingga seluruh perhatiannya (pandangan qalbunya) dan seluruh kediriannya terbuka untuk semata-mata melihat Keindahan Dzat Mahaagung. Kedua, tingkatan yang lebih rendah dari yang pertama, yakni ketika seorang pesuluk menyadari dirinya hadir di hadapan-Nya dan memperhatikan seluruh adab dan tatacara kehadiran dirinya di hadapan-Nya.

Inilah faktor kedua yang menyebabkan tidak khusyuknya seseorang saat shalat, yaitu tidak mengikatkan qalbu (hati) hanya kepada Hak SWT.

Dari sini terlihat bahwa khusyuk sudah tidak lagi mirip dengan hipnosis. Karena seperti halnya meditasi vipassana, seseorang yang shalat tetap sadar akan pengalaman eksternal dan internal. Di satu sisi kita tetap sadar akan jumlah rakaat, gerakan, dan bacaan shalat; dan di sisi lainnya qalbu kita khusyuk dan terikat kepada Dia Yang Mahaagung.

Hipnosis meredupkan kesadaran, sedangkan meditasi vipassana dan shalat meningkatkan kesadaran. Namun jika pada hipnosis dan meditasi, fokus perhatian penuhnya kepada suatu objek, maka shalat fokus perhatian penuhnya hanya kepada Dzat Yang Mahaagung. Maka pada konteks ini pula, shalat juga berbeda dengan meditasi vipassana, karena tidak lagi terkait dengan peningkatan kesadaran diri dalam mengamati segala sesuatu, namun seluruh kesadaran dirinya lenyap dan hanya hadir dalam penyaksian ketunggalan Dzat Yang Mahaagung.

Dan kunci dari semua itu adalah khusyuk, yang di satu sisi memiliki pengertian yang mirip dengan hipnosis dan mindfulness/meditasi. Dan di sisi lain, memiliki pengertian yang samasekali berbeda dengan hipnosis dan mindfulness/meditasi. Karena tingkat kekhusyukkan kita berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan dan penghayatan qalbu kita akan Keagungan dan Kebesaran serta Keluhuran dan Keindahan Allah SWT. Walhasil, semuanya membutuhkan ketekunan dan latihan diri.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *