Oleh Syahril Syam *)
Para peneliti membedakan antara emosi dan perasaan. Emosi adalah respons fisik dan psikologis yang terjadi di dalam tubuh kita, sementara perasaan adalah kesadaran atau pengalaman subjektif kita terhadap emosi tersebut. Dengan kata lain, emosi adalah apa yang dirasakan tubuh kita, sedangkan perasaan adalah bagaimana kita merasakannya secara sadar.
Maka dapat dikatakan bahwa perasaan merujuk pada pengalaman subjektif atau penafsiran yang kita berikan terhadap emosi yang dirasakan. Kita bisa saja merasakan emosi takut ketika berada di ketinggian tertentu, tapi perasaan setiap orang bisa saja berbeda dalam menafsirkan rasa takut tersebut.
Terkait hal itu, ada penelitian menarik dari Paul McKenna, pakar hipnoterapi, bahwa ada dua jenis pemikir ketika terkait dengan kekayaan. Pertama, pemikir kaya, dan yang kedua, pemikir miskin. Dan perbedaan keduanya adalah pada apa yang mereka rasakan. Pemikir kaya akan selalu merasa kaya tanpa peduli berapapun jumlah rekening bank mereka saat ini. Karena mereka merasa kaya dan berkelimpahan, maka mereka akan selalu mencari peluang dan menjalani hidup sesuai dengan keinginan mereka. Jika mereka kekurangan uang, hal itu tidak akan berlangsung lama.
Sebaliknya, para pemikir miskin akan selalu merasa ketakutan walau memiliki rumah mewah dan tabungan yang banyak. Mereka senantiasa merasa takut dan khawatir, jangan-jangan suatu ketika semua kekayaan mereka akan lenyap. Ketakutan mereka selalu terkait dengan kekhawatiran akan masa depan, dan karenanya mereka selalu berusaha melindungi segala yang mereka miliki dan berusaha mengambil lebih banyak dari orang lain. Harta melimpah tapi selalu diliputi perasaan takut dan khawatir. Makanya mereka akan merasa tidak baik-baik saja ketika seluruh harta mereka lenyap seketika.
Kedua pemikir di atas tentu merasakan emosi yang sama terkait uang dalam kaitannya dengan masa depan. Bahwa ada kekhawatiran akan kemungkinan lenyapnya uang mereka di masa depan. Akan tetapi, perasaan kedua pemikir ini jelas berbeda. Pemikir kaya menafsirkan emosi takut sebagai perasaan syukur dan berkelimpahan. Sedangkan pemikir miskin justru semakin tenggelam ke dalam emosi takut yang dirasakannya.
Dan ini bukan hanya tentang uang dan kekayaan. Ini tentang perasaan kita terkait apapun. Kita boleh saja sedih, marah, kecewa, jengkel, bahkan bahagia, namun semua emosi yang hadir tersebut sebagai akibat dari interaksi kita dengan orang dan segala hal di sekitar kita, mesti kita rasakan dengan perasaan yang seharusnya bersifat konstruktif.
Kita boleh sedih karena mengalami kegagalan, tetapi perasaan yang kita rasakan seharusnya menjadikan perasaan sedih itu sebagai pendorong untuk menjadi lebih baik. Begitu pula ketika kita merasakan emosi marah, kecewa, dan jengkel. Bahkan disaat kita bahagia pun, kita mesti merasa bahwa kebahagiaan ini layak untuk disyukuri dan bukan merasa terlena dan lupa diri dengan keadaan yang menyenangkan tersebut.
@pakarpemberdayaandiri











