Kebahagiaan Ruhani

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Salah satu teori yang mengupas tentang kebahagiaan adalah teori hedonisme, yang merupakan pandangan filosofis dan psikologis yang berfokus pada pencarian kesenangan sebagai tujuan utama dalam hidup dan cara utama untuk mencapai kebahagiaan. Konsep dasar hedonisme – bahwa kesenangan adalah tujuan utama dalam hidup – dapat ditelusuri kembali ke filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Aristippos dari Cyrene (c. 435 – 356 SM) dan Epicurus (341 – 270 SM).

Menurut hedonisme klasik, kebahagiaan diidentifikasi dengan pengalaman positif yang maksimal dan pengalaman negatif yang minimal. Dalam praktiknya, ini sering diukur dengan cara mengkalkulasi keseimbangan antara emosi positif dan negatif. Dengan kata lain, hedonisme sering diartikan sebagai pencarian kesenangan dan penghindaran rasa sakit sebagai motivasi utama dalam perilaku manusia.

Ini berimplikasi bahwa kebahagiaan dapat diukur berdasarkan jumlah kesenangan yang dialami seseorang dibandingkan dengan rasa sakit. Jeremy Bentham (1748 – 1832) adalah seorang filsuf dan ekonom Inggris yang mengembangkan prinsip hedonisme dalam konteks utilitarianisme. Ia memperkenalkan gagasan bahwa tindakan moral adalah yang menghasilkan “kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar”.

Ada juga John Stuart Mill (1806 – 1873), seorang filsuf dan ekonom Inggris, yang melanjutkan pengembangan teori hedonisme Bentham dengan menambahkan dimensi kualitatif pada konsep kesenangan. Ia berargumen bahwa beberapa bentuk kesenangan lebih tinggi daripada yang lain (misalnya, kesenangan intelektual lebih tinggi daripada kesenangan fisik).

Walaupun Mill berfokus pada kualitas pengalaman sebagai faktor penting dalam menentukan kebahagiaan, namun konsep kebahagiaan yang dibangun oleh pandangan ini hanya berfokus pada kecenderungan jasmaniah manusia semata, yaitu makan, minum, seks, dan menginginkan sesuatu tanpa batasan. Ada begitu banyak hal yang dilakukan manusia, ternyata hanya berpusat pada pemenuhan kesenangan jasmaniah.

Maka wajar jika Malaikat protes kepada Sang Maha Sempurna terkait kepenciptaan manusia. (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui (QS 2:30). Bahwa ada dua hal yang manusia cenderung melakukannya, yaitu melakukan kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah. Kedua hal ini terjadi karena hanya sekadar menginginkan kebahagiaan hedonis, yaitu demi memuaskan hasrat makan, minum, seks, dan hasrat keinginan tanpa batas. Demi pemuasan jasmaniah, kebanyakan manusia rela merusak di muka bumi dan puncaknya pada menumpahkan darah.

Namun Sang Maha Sempurna sangat jelas memberikan isyarat bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah kebahagiaan hedonis; bukan kebahagiaan yang dibangun di atas berbagai bentuk pengrusakan dan penumpahan darah. Isyaratnya adalah “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagiaan yang dibangun atas dasar amanat. Bukankah manusia ingin dijadikan sebagai pemegang amanat sejati? Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh (QS 33:72).

Amanat secara luas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang diserahkan kepada diri kita untuk dipelihara dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya serta berusaha maksimal untuk tidak menyia-nyiakannya. Apapun bentuk amanat itu, ia harus dipertanggungjawabkan oleh penerima kepada pemberi amanat.

Bahwa manusia yang bahagia adalah manusia yang berjalan di atas bumi dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab karena ada amanat yang diemban. Makanan dan minuman bukan hanya sekadar kebutuhan jasmani, melainkan juga amanat bagi kita untuk menggunakan semua itu untuk kebaikan sosial. Bukankah penelitian ilmiah juga telah membuktikan bahwa memberi (berbagi) dengan penuh kesadaran kepada sesama dan juga makhluk lainnya, akan membuat kita bahagia? Bukankah telah banyak penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa menjaga keluarga dan mendidik anak sebagai sebuah amanat bisa mendatangkan kebahagiaan?

Jadi, segala yang ada bersama kita adalah amanat. Mulai dari pasangan, orangtua, anak, teman, masyarakat, dan makhluk lainnya. Pekerjaan dan bisnis yang kita kerjakan, semuanya adalah amanat. Dan yang memberi amanat adalah Sang Maha Sempurna untuk dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Sehingga kebahagiaan ruhani ini bisa juga disebut sebagai kebahagiaan teologis karena didasari atas kesadaran menjalankan amanat dari Sang Maha Sempurna. Dan yang sudah pasti tidak bisa merasakan kebahagiaan ruhani ini adalah orang-orang yang zalim (menganiaya diri sendiri dan menindas orang lain), karena sulit mengemban amanat.

Begitu pula mereka yang kurang pemahamannya akan makna-makna kehidupan adalah orang yang cenderung tidak peduli dengan adanya amanat. Mereka hanya tahu memuaskan kesenangan hedonnya dengan melakukan kerusakan di muka bumi, yang bisa berujung pada penumpahan darah. Semoga kita terhindar dari menjadi orang yang zalim lagi bodoh, agar bisa merasakan kebahagiaan ruhani.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *