Oleh: Syahril Syam *)
Dalam neurosains, kehampaan atau emptiness sering dipahami sebagai kondisi subjektif dimana seseorang merasakan kurangnya makna, tujuan, atau keterhubungan emosional dengan diri sendiri maupun lingkungan. Dalam beberapa kasus, perasaan ini bisa terkait dengan ketiadaan perasaan secara emosional atau kehilangan motivasi dan arah hidup.
Neurosains mengidentifikasi kehampaan ini sebagai pengalaman yang dipengaruhi oleh disfungsi atau ketidakseimbangan dalam area otak tertentu yang berhubungan dengan emosi, persepsi diri, dan reward (penghargaan). Dalam neurosains, perasaan hampa bisa diartikan sebagai keadaan dimana otak mengalami under-stimulation (kurang rangsangan) di area-area yang seharusnya memproses emosi positif, makna, dan koneksi sosial. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan otak dalam merasakan kepuasan, koneksi, atau kesenangan.
Beberapa area utama yang terlibat dalam perasaan hampa antara lain Prefrontal Cortex (PFC). Bagian otak ini berperan dalam pengaturan emosi, perencanaan, dan pengambilan keputusan. Ketika seseorang mengalami perasaan hampa, aktivitas di area ini sering berkurang, terutama pada mereka yang mengalami depresi atau gangguan suasana hati, yang juga mengurangi kemampuan mereka untuk merasa terhubung dengan lingkungan sekitar atau tujuan hidup.
Ada juga sistem limbik, khususnya amigdala yang sangat penting dalam memproses emosi. Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas yang terlalu tinggi atau rendah di area ini dapat menyebabkan perasaan mati rasa emosional atau ketidakmampuan untuk merasakan emosi yang mendalam, yang sering dikaitkan dengan perasaan hampa.
Default Mode Network (DMN) adalah jaringan otak yang aktif ketika seseorang tidak fokus pada dunia luar, misalnya saat merenung atau bermimpi. Pada beberapa orang, aktivitas berlebihan di DMN, terutama yang terlalu terfokus pada pikiran negatif atau ruminasi (memikirkan hal-hal negatif secara berulang), dapat meningkatkan perasaan hampa.
Sebaliknya, disfungsi di DMN yang menyebabkan kurangnya refleksi atau perhatian pada diri sendiri bisa menghambat seseorang merasakan makna dalam hidup. Begitu juga ketika ada masalah pada sistem reward, terutama yang diatur oleh dopamin yang memainkan peran besar dalam motivasi dan rasa senang. Ketika sistem ini tidak berfungsi dengan baik, seseorang cenderung sulit merasakan kepuasan atau kebahagiaan dari aktivitas sehari-hari, yang bisa menyebabkan perasaan hampa dan kehilangan arah.
Lantas apa yang menyebabkan penurunan aktivitas di bagian-bagian otak tersebut? Stres kronis yang berkelanjutan dapat dikatakan sebagai salah satu penyebab utama yang mengurangi aktivitas di bagian-bagian otak seperti Prefrontal Cortex (PFC), sistem limbik, dan jaringan otak lain yang berperan dalam mengatur emosi, makna, dan kepuasan.
Dampak stres kronis terhadap otak sangat signifikan dan dapat berujung pada perasaan hampa. Kortisol yang dilepaskan selama stres kronis menghambat fungsi PFC, menyebabkan kesulitan dalam mengontrol impuls, mengelola emosi, dan menjaga fokus pada tujuan hidup. Stres kronis berkontribusi pada kerusakan hipokampus, yang berperan dalam memori dan pengelolaan emosi.
Ketika hipokampus rusak, kemampuan untuk menyimpan kenangan positif dan mengolah emosi menjadi lebih terbatas. Ini bisa menyebabkan hilangnya perasaan keterhubungan emosional dengan pengalaman hidup dan menciptakan perasaan hampa. Amigdala, bagian dari sistem limbik, juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap respons negatif, yang memperburuk pengalaman emosional negatif.
Stres kronis seringkali membuat pikiran terjebak dalam pola ruminasi atau overthinking yang berlebihan, yang mengaktifkan Default Mode Network (DMN). DMN yang terlalu aktif berkontribusi pada pikiran negatif yang terus-menerus, berfokus pada kekurangan diri, atau mengulang-ulang pengalaman buruk, yang bisa memperdalam perasaan kosong atau hampa.
Stres kronis juga dapat mengurangi respons otak terhadap rangsangan positif, menghambat sistem reward atau penghargaan. Dan seperti yang kita ketahui bersama, stres kronis seringkali terjadi oleh fokus yang berlebihan pada hal-hal material atau kebutuhan eksternal, seperti pencapaian, kekayaan, status sosial, atau penilaian dari orang lain. Ketika seseorang terlalu fokus pada hal-hal ini, mereka dapat mengalami tekanan yang lebih besar untuk memenuhi standar yang sulit dicapai atau mempertahankan citra tertentu. Hal ini dapat menciptakan siklus stres kronis yang sulit diputus.
Dengan demikian, perasaan hampa dapat dihilangkan ketika kita memutus keterikatan dengan duniawi dan membangun koneksi yang kuat dengan Sang Maha Sempurna. Memutus keterikatan duniawi bukan berarti tidak makan, minum, menikah, atau bergaul secara sosial; melainkan tidak membiarkan hati kita dipengaruhi oleh semua hal itu. Memutus keterikatan berarti menjalani kehidupan dengan kesadaran penuh, dimana kebutuhan dasar seperti makan, menikah, atau mencari nafkah tetap dipenuhi. Namun, semuanya dilakukan tanpa keterikatan berlebihan atau perasaan bahwa kebahagiaan kita sepenuhnya bergantung pada pemenuhan keinginan ini.
Kita tetap melakukan aktivitas sehari-hari dan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi hati dan pikiran tetap fokus pada hal-hal yang memiliki nilai yang lebih abadi, sehingga kita tidak terombang-ambing oleh perubahan dunia yang sementara. Dan ketika kita memiliki hubungan yang dekat dan emosional dengan Sang Maha Sempurna, ternyata dapat memberikan efek yang mendalam pada otak, termasuk di area Prefrontal Cortex (PFC) dan bagian otak lain yang terlibat dalam regulasi emosi, rasa tenang, dan makna hidup. Hubungan spiritual yang kuat menciptakan kondisi mental yang mendukung fungsi otak yang sehat, terutama di PFC dan sistem limbik, yang semuanya berkontribusi pada perasaan kesejahteraan, makna, dan keterhubungan. Koneksi yang mendalam ini memberi kita semacam “penjaga” alami terhadap perasaan kosong atau hampa, karena otak terstimulasi dengan baik melalui pengalaman emosional yang bermakna dan terarah.
@pakarpemberdayaandiri











