Oleh: Syahril Syam *)
Ada penelitian menarik yang dilakukan oleh Ravindra Chitturi terkait perilaku konsumen, desain produk, dan keputusan emosional dalam pemasaran. Dia dikenal atas karyanya “Delight by Design: The Role of Hedonic versus Utilitarian Benefits in Influencing Consumer Responses to Products,” yang diterbitkan bersama dengan Rajagopal Raghunathan dan Vijay Mahajan. Penelitian Chitturi menunjukkan bahwa walaupun seseorang menerima manfaat praktis dari suatu produk, namun hal itu tidak cukup kuat dalam menanamkan merek ke dalam benak konsumen. Yang sangat kuat pengaruhnya sehingga sebuah merek dan produk tertanam di benak konsumen adalah jika produk itu menyenangkan, yaitu punya manfaat hedonis (berkaitan dengan kesenangan dan emosi positif), yang mengacu pada pengalaman kesenangan, kegembiraan, dan kepuasan emosional yang diberikan oleh produk atau layanan. Ini bisa berupa kenyamanan, kemewahan, desain yang estetis, atau pengalaman yang memuaskan secara sensorik.
Jadi produk yang melekat kuat di benak konsumen adalah ketika punya manfaat praktis dan juga manfaat hedonis. Artinya, ketika konsumen merasa bahagia atau puas karena suatu produk, mereka lebih mungkin untuk mengingat produk tersebut dan menunjukkan loyalitas merek yang lebih kuat. Karena semua manusia memiliki kecenderungan jasmaniah – berupa makan, minum, seks, dan berbagai hasrat keinginan – maka secara alamiah manusia lebih cenderung tertarik oleh berbagai kenikmatan duniawi yang memicu lahirnya manfaat hedonis (kesenangan, kegembiraan, dan kepuasan).
Maka menjadi wajar jika motivasi yang dialami oleh kebanyakan manusia adalah motivasi eksternal (ekstrinsik). Dalam konteks ini, motivasi ekstrinsik berarti dorongan untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan sesuatu yang ada di luar diri individu, seperti kenikmatan fisik atau kepuasan kebutuhan biologis. Motivasi ekstrinsik (jasmaniah) menghasilkan manfaat hedonis, yaitu kesenangan yang bersifat sementara dan fisik.
Hedonisme dalam pandangan ini terkait dengan kenikmatan yang dirasakan melalui pancaindra atau tubuh fisik. Ini selaras dengan pandangan bahwa manfaat hedonis seringkali datang dari kesenangan yang dirasakan dari dunia luar, seperti makanan lezat, hiburan, atau kenyamanan fisik.
Itulah sebabnya, banyak orang yang bekerja karena melihat pekerjaan sebagai pekerjaan (job). Seseorang yang melihat pekerjaannya sebagai “job” memandang pekerjaan tersebut sebagai alat untuk mendapatkan manfaat finansial atau memenuhi kebutuhan dasar. Pekerjaan ini tidak dianggap sebagai bagian penting dari identitas mereka, dan mereka cenderung bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti gaji, tunjangan, atau stabilitas ekonomi. Motivasi utama dalam pekerjaan ini adalah gaji dan manfaat material.
Orang-orang dalam kategori ini bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Mereka cenderung melihat pekerjaan sebagai sarana untuk mencapai hal-hal lain di luar pekerjaan, seperti rekreasi atau kehidupan keluarga. Mereka tidak terlalu merasa terlibat dengan pekerjaannya secara emosional atau makna yang mendalam. Pekerja dengan orientasi “job” akan merasa kurang puas atau berkomitmen pada pekerjaan mereka, karena fokus utamanya adalah imbalan eksternal.
Ketika seseorang hanya fokus pada kecenderungan jasmaniah yang memberikan manfaat hedonis, akan sangat sulit untuk merubah arah motivasinya menjadi motivasi internal (intrinsik). Tarikan kenikmatan duniawi yang menggoda kecenderungan jasmaniahnya begitu kuat sehngga ia bekerja hanya agar bisa hidup bersenang-senang semata. Padahal kita sebagai manusia juga memiliki kecenderungan ruhaniah yang bersumber dari dalam diri dan berorientasi pada pencapaian makna yang lebih mendalam, kebahagiaan yang abadi, dan hubungan dengan Sang Maha Sempurna.
Dalam konteks ini, motivasi kita bersifat internal (intrinsik) yang berkaitan dengan perasaan makna, pengembangan diri, atau rasa bahwa pekerjaan tersebut adalah bagian dari identitas diri. Kita merasa pekerjaan sebagai panggilan (calling). Pekerja dengan orientasi “calling” akan lebih tahan terhadap tantangan dan stres, karena pekerjaan itu sendiri memberikan makna dan kepuasan yang mendalam, terlepas dari hasil eksternal.
@pakarpemberdayaandiri











