Oleh: Syahril Syam *)
Kebanyakan orang memulai aktivitasnya hingga akhirnya tidur di malam hari secara otomatis. Setiap pikiran, perasaan, dan tindakannya, sebagian besar dilakukan secara otomatis. Dan karena umpan balik yang tercipta sejak kecil di kenyataan mental mereka lebih banyak bersifat destruktif, maka hidup otomatis yang dijalani pun selalu cenderung mengarah pada kemarahan, kekesalan, kekecewaan, sakit hati, stres hingga depresi. Hidup tidak lagi terasa indah, melainkan seperti berada di neraka (sebuah hiperbola yang berlebihan, mengingat belum pernah ada yang ke neraka dan kemudian kembali menggambarkan rasanya berada di neraka).
Sistem Saraf Otonom (SSO) mengontrol semua fungsi otomatis yang terjadi di luar kesadaran otak. Bagian dari sistem saraf yang secara otomatis bertugas mencerna makanan, mengeluarkan hormon, mengatur suhu tubuh, mengontrol gula darah, menjaga detak jantung, membuat antibodi yang melawan infeksi, memperbaiki sel yang rusak, dan segudang fungsi lain dari tubuh kita, dan diyakini sebagian besar ilmuwan tidak memiliki kendali sadar. Sistem Saraf Otonom adalah sistem operasi bawah sadar tubuh dan terhubung dengan otak tengah (otak limbik) kita. Pada dasarnya, SSO membuat kita tetap hidup. Tugas utamanya adalah menciptakan keteraturan dan homeostasis, yang menyeimbangkan otak dan pada akhirnya tubuh.
Karena kebanyakan orang memiliki kenyataan mental yang cenderung destruktif, maka hidup yang dijalaninya secara otomatis ini membuat tubuhnya seringkali kehilangan keseimbangan. Secara nyata hadir pada dirinya bahwa ia adalah seorang pemarah, pendengki, pendendam, dan berbagai perasaan yang dirasakan dimana ia merasa bahwa ia layak dan memang seperti itulah diri. Dirinya adalah yang sesuai dengan berbagai emosi destruktif tersebut. Karena kenyataan mental dan diri kita tidak mengalami keterpisahan, maka setiap perasaan yang dirasakan, akan terasa bahwa seperti itulah diri kita. Keadaan inilah yang kemudian membuat SSO simpatik (dan bukan SSO parasimpatik) menjadi aktif dan menciptakan tubuh menjadi semakin destruktif. Tubuh menjadi kehilangan kesetimbangan dan perlahan-lahan menjadi rusak (sakit).
Karena kita tidak bisa mengontrol secara sadar SSO ini, maka satu-satunya cara agar bisa menyelinap ke dalam sistem operasi dan memengaruhi SSO adalah dengan mengubah kenyataan mental kita secara teratur. Mengubahnya dari destruktif menjadi konstruktif. Secara sadar kita melakukan pemrograman ulang diri kita melalui penciptaan dan kreasi di kenyataan mental kita. Mengubah perasaan dan gambaran mental kita dari destruktif menjadi konstruktif.
Saat kita mulai melakukan perubahan di kenyataan mental kita, maka kita mulai tidak terkoneksi dengan kenyataan hidup (realitas eksternal). Hal ini mengakibatkan kesadaran kita bergerak keluar dari otak neokorteks yang berpikir dan masuk ke otak tengah (otak limbik), dan di sana terhubung dengan sistem saraf otonom. Ini adalah saat Sistem Saraf Otonom masuk dan mulai menyembuhkan tubuh, karena kesadaran kita menyatu dengan kesadarannya. Karena kenyataan mental menjadi penentu atas sikap dan tindakan kita, maka melakukan pemrograman ulang di kenyataan mental akan berefek pada dua hal, yaitu pertama, keseimbangan pada tubuh kita yang membuat kita menjadi sembuh dari penyakit dan menjadi lebih sehat; kedua, kita juga dapat mengubah perilaku, keyakinan, dan kebiasaan yang membatasi diri yang tidak diinginkan menjadi perilaku, keyakinan, dan kebiasaan yang lebih produktif dan konstruktif.
@pakarpemberdayaandiri











