Level Kesadaran Sebagai Level Diri [Jiwa]

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam*)

Adanya dua sisi emosi/perasaan – konstruktif dan destruktif – menunjukkan bahwa kesadaran kita akan selalu mengalami fluktuasi. Kesadaran kita akan selalu mengalami dinamika dan pergerakan dari sisi perasaan destruktif ke perasaan konstruktif ataupun sebaliknya.

Dan setiap perasaan yang dirasakan selalu membawa efek-efek pada pikiran, sikap, perilaku, tubuh, dan keadaan yang kita alami. Saat dipenuhi kemarahan, kekecewaan, sakit hati, kepanikan, dan sejenisnya, maka pada pikiran akan cenderung muncul segala hal yang membuat seseorang berpikir bahwa “hidup ini tidak adil”, “semua orang tidak memahamiku”, dan berbagai pikiran negatif yang berkecamuk di dalam mental.

Karena pikiran negatif dan destruktif yang lebih banyak muncul, maka sikap pun menjadi lebih terpusat hanya kepada diri sendiri (egois). Perilaku menjadi “semau gue”, dan tubuh pun mengalami kerusakan karena setiap sel tubuh juga menjadi egois dan tidak mau saling membantu, yang akhirnya membuat tubuh rawan sakit. Karena hal seperti itu yang dirasakan, dipikirkan, dan dialami pada tubuhnya, maka kondisi jiwanya pun semakin terpuruk, semakin turun derajatnya ke kegelisahan ekstrem. Level kesadaran yang rendah berarti level (diri) jiwanya pun rendah.

Kadar diri (jiwa) yang rendah akan membuat dirinya merasa bahwa apapun yang terjadi pada kehidupan ini akan selalu dipandang sebagai kehampaan dan derita. Mood menjadi semakin destruktif yang kemudian berefek pada hilangnya motivasi. Hidup akhirnya hanya sekadar dijalani. Dan karena derajat dirinya turun semakin rendah, maka ia pun semakin me-materi. Tubuhnya yang bersifat materi dan dipenuhi oleh hasrat egois menjadi penguasa atas dirinya (jiwa). Karena memang sifat tubuh adalah egois, maka setiap hasratnya (makan, minum, seks, menginginkan apapun) hanya berputar pada pemenuhan kepuasaan diri sendiri.

Akan tetapi, jika kita belajar untuk membersihkan hati kita dari berbagai perasaan-perasaan destruktif nan egois, dan kemudian belajar untuk mengisi hati kita untuk merasakan perasaan-perasaan seperti kasih sayang, kepedulian, rasa syukur, sabar, dan semua perasaan konstruktif yang jauh dari sifat egois, maka level kesadaran kita pun semakin tinggi. Tubuh kita yang egois tidak lagi menjadi penjara bagi jiwa kita, karena kesadaran yang semakin tinggi membuat diri (jiwa) kita pun semakin lepas dari pengaruh hasrat-hasrat tubuh. Dengan kata lain, semua hasrat tubuh hanya akan bekerja sesuai kendali kesadaran diri yang hanya tunduk pada nilai-nilai spiritual dari Sang Maha Sempurna.

Level kesadaran yang semakin tinggi ini akan membuat diri (jiwa) semakin bergerak naik ke derajat yang bersifat non materi. Tarikan tubuh yang bersifat materi akan semakin berkurang dan digantikan dengan tarikan Agung dari Sang Maha Sempurna. Tubuh pun akhirnya hanya berfungsi sebagai murni kendaraan jiwa di dunia ini. Seluruh kendali tubuh, sepenuhnya berada pada kendali diri (jiwa), dikarenakan jiwa tak lagi dikuasai oleh tubuh. Makan, minum, seks, dan hasrat keinginan hanyalah sebagai penopang kelangsungan kehidupan.

Namun kepuasan dan kenikmatan yang sesungguhnya hanya datang dari kenikmatan spiritual yang justru tak bertepi. Artinya, semakin tinggi level kesadaran, keadaan diri (jiwa) pun semakin tinggi, dan karena non materi tidak memiliki batasan, maka perjalanan dan tarikan spiritual menuju Sang Maha Sempurna adalah kepuasaan dan kenikmatan yang juga tak bertepi. Berbeda dengan kepuasan dan kenikmatan tubuh yang sifatnya hanya sesaat dan sementara.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *