Luaskan Wadah Hati

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Para penonton bioskop itu samasekali tidak sadar bahwa mereka dijadikan subjek penelitian. Mereka hanya tahu bahwa masing-masing diberi sebotol minuman ringan dan sekotak popcorn gratis. Dan karena diberi gratis, maka mereka hanya diminta untuk tidak langsung pulang setelah menonton film karena perlu menjawab beberapa pertanyaan tentang makanan yang disajikan oleh gerai makanan yang ada di bioskop. Popcorn gratis yang mereka terima juga ternyata tidak seperti biasanya. Rasanya sangat tidak enak dan memang sengaja dibuat tidak enak. Popcornnya dibuat lima hari sebelumnya dan sudah sangat tidak segar, kerenyahannya pun juga hilang samasekali.

Setiap penonton mendapatkan masing-masing satu wadah popcornnya sehingga tidak perlu berbagi dengan temannya. Yang juga tidak disadari oleh para penonton tersebut adalah sebagian penonton mendapatkan popcorn gratis dalam ember kertas ukuran sedang. Dan sebagian lainnya mendapatkan popcorn yang sama dalam ember kertas ukuran besar yang ukuran ember kertasnya ternyata berukuran sangat besar. Para peneliti ingin mengetahui apakah orang yang mendapatkan wadah lebih besar makan lebih banyak.

Walaupun wadah yang satu berukuran sedang dan yang satunya lagi berukuran besar, namun pada dasarnya kedua wadah tersebut begitu besar sehingga tak seorang penonton pun mampu menghabiskan bagian popcornnya. Para peneliti diam-diam menimbang wadah-wadah itu sebelum dan sesudah film diputar, untuk mengetahui seberapa banyak popcorn yang telah dimakan oleh setiap orang. Ternyata orang yang mendapatkan popcorn dengan ukuran wadah yang lebih besar, makan lebih banyak popcorn dibandingkan dengan orang yang mendapatkan wadah ukuran sedang. Orang yang mendapatkan wadah ukuran besar makan 53 persen popcorn lebih banyak dari wadah yang ukuran sedang. Ini kira-kira setara dengan 21 kali mengambil popcorn lebih banyak.

Studi tentang popcorn ini telah diselenggarakan di banyak bioskop dan di berbagai negara bagian. Hasilnya selalu sama, yaitu orang makan lebih banyak ketika diberi wadah yang lebih besar. Mereka tidak makan dengan alasan mengejar kesenangan karena rasanya sangat tidak enak dan melempem. Tidak juga karena besarnya hasrat untuk menghabiskan jatah mereka karena kedua wadah tersebut (yang ukuran sedang dan besar) sama-sama besar sehingga tidak ada penonton yang bisa menghabiskan popcornnya. Dan yang lebih menarik lagi adalah tidak peduli orang tersebut sementara lapar atau kenyang, intinya wadah yang lebih besar berarti makan lebih banyak. Lucunya lagi karena semua penonton yang diberi popcorn tidak memercayai hasil penelitan tersebut (mereka diberitahu hasilnya setelah usai pertunjukan film tentang dua wadah dengan ukuran yang berbeda).

Penelitan di atas menunjukkan pola perilaku yang disebabkan oleh ukuran wadah makanan dalam kaitannya dengan kecenderungan jasmaniah berupa hasrat makan. Pola yang sama juga berlaku pada hati kita. Penelitian telah menunjukkan bahwa setiap sikap, perilaku, dan kebiasaan kita ditentukan oleh apa yang kita rasakan, maka hati kita laksana wadah pikiran dan perasaan kita. Saat perasaan seseorang cenderung eksklusif, egois, tidak toleran, kaku, sulit menerima pandangan orang lain, mudah tersinggung, dan mudah marah, maka ia akan merasakan hatinya terasa sempit. Hati yang sempit akan berdampak pada munculnya stres kronis, perilaku yang kurang toleran, dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan.

Hati yang sempit juga biasanya hanya diisi dengan sekadar memenuhi hasrat jasmaniah (makan, minum, seks, dan berbagai keinginan). Menggunakan kekuasaan, jabatan, ketokohan, dan berbagai fasilitas demi pemenuhan hasrat jasmaniah. Namun jika kita cenderung mengaktualkan potensi ruhani kita dan bergerak ke arah nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, menaikkan level kesadaran, dan hidup demi meraih Ridha Sang Maha Sempurna, maka hati yang sempit tadi akan berubah menjadi hati yang lapang dan luas. Dampaknya juga menjadi sangat positif bagi sikap, perilaku, dan kebiasaan kita. Juga pada perubahan tingkat kesehatan mental dan fisik kita.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *