Oleh: Syahril Syam *)
Neville Goddard dalam bukunya “The Power of Awareness” menjelaskan kesadaran sebagai satu-satunya realitas yang menciptakan pengalaman hidup kita. Ia menekankan bahwa keadaan kesadaran seseorang menentukan apa yang ia alami dalam hidup. Kesadaran bukan hanya tentang “mengetahui”, tetapi mengalami dan memahami lebih dalam. Ini berarti bahwa kesadaran sejati bukan sekadar memahami konsep atau informasi, tetapi juga merasakan dan mengalaminya langsung dalam kehidupan.
Sebagai contoh, ada tiga orang yang belajar tentang api dengan cara yang berbeda. Orang pertama hanya membaca buku tentang api, memahami bahwa api itu panas dan bisa membakar, tetapi tidak pernah melihat atau merasakannya secara langsung. Orang kedua melangkah lebih jauh dengan mengamati api secara langsung, melihat bagaimana nyalanya berkobar dan membakar benda-benda di sekitarnya. Sementara itu, orang ketiga benar-benar mendekatkan tangannya ke api, merasakan panasnya yang menyengat, dan melalui pengalaman langsung, ia memahami sepenuhnya bahwa api bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang nyata dan dapat dirasakan.
Ada seseorang yang membaca buku dan memahami bahwa kesabaran adalah hal yang baik. Ia mengetahui konsepnya, tetapi belum benar-benar mengalaminya. Suatu hari, ia terjebak dalam kemacetan parah. Jika hanya sekadar “mengetahui” kesabaran, ia akan tetap merasa kesal meskipun sadar bahwa ia seharusnya bersabar. Namun, jika ia benar-benar mengalami dan memahami kesabaran, ia akan menerima situasi itu dengan tenang, tanpa frustrasi. Seiring waktu, setelah menghadapi berbagai ujian hidup, ia semakin menyadari bahwa kesabaran bukan sekadar teori, tetapi sebuah jalan menuju ketenangan dan kebijaksanaan yang sesungguhnya.
Kesadaran bukan hanya tentang mengerti dengan pikiran, tetapi juga merasakan, mengalami, dan menyatu dengan pengetahuan itu dalam kehidupan nyata. Dengan kata lain, menjadi satu dengan pemahaman tersebut sehingga itu bukan hanya konsep, tetapi bagian dari keberadaan diri kita sendiri. Itulah sebabnya, kesadaran adalah aspek integral dari eksistensi dimana eksistensi itu sendiri bersifat bertingkat – semakin tinggi tingkat kesadaran kita, semakin dalam pula pemahaman kita tentang realitas.
Kesadaran adalah hakikat jiwa yang terus bertumbuh, bukan sesuatu yang statis. Ia berakar dalam kesatuan antara pemikir dan yang dipikirkan, dimana kita tidak hanya memahami sesuatu secara eksternal, tetapi juga menyatu dengan pengetahuan itu. Dengan kata lain, kesadaran sejati terjadi ketika kita tidak hanya “mengetahui” sesuatu, tetapi juga “menjadi” pengetahuan tersebut, mengalaminya secara langsung dalam diri kita.
Semakin kita sadar, semakin besar perubahan dalam hidup kita. Kesadaran itu seperti perjalanan naik tangga. Kita semua punya kesadaran, tetapi levelnya berbeda-beda. Semakin tinggi kesadaran kita, semakin luas cara kita melihat kehidupan dan semakin dekat kita dengan kebenaran sejati (Sang Maha Sempurna). Kesadaran level rendah ketika melihat hujan akan berpikir, “Aduh, hujan! Jalanan becek, bajuku basah, menyebalkan!” Yang lebih tinggi lagi kesadarannya akan berpikir, “Hujan bagus, tanaman jadi segar, udara lebih sejuk.” Dan ada juga level kesadaran yang lebih tinggi lagi, yang berpikir, “Hujan adalah bagian dari keseimbangan alam yang sudah Tuhan atur dengan sempurna.”
Orang yang merasa kesal karena hujan, menggambarkan kesadaran yang terbatas pada tingkat fisik dan emosional. Dia terfokus pada pengalaman langsung (hujan membuat bajunya basah, jalanan becek) dan reaksi emosional negatif terhadap keadaan tersebut. Mereka lebih terikat pada pengalaman sensorik dan seringkali membiarkan emosi negatif menguasai mereka, yang berujung pada kebahagiaan yang dangkal dan tergantung pada kondisi eksternal.
Namun, ketika kita melihat hujan sebagai bagian dari keseimbangan alam – menganggapnya sebagai sesuatu yang bermanfaat, seperti menyegarkan tanaman dan membuat udara lebih sejuk, maka ini menunjukkan bahwa kita memiliki pandangan yang lebih rasional dan positif, dengan kesadaran tentang kehidupan yang lebih luas dan proses alam yang terus berjalan. Kita mulai melampaui reaksi emosional primitif dan mengembangkan pemahaman rasional tentang dunia, sehingga kebahagiaan kita lebih stabil dan terkondisi oleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam dan hubungan antara semua unsur di dalamnya.
Walaupun kita sudah melihat manfaat hujan secara rasional, kebahagiaan yang kita rasakan masih bersifat terbatas karena kita hanya memahami hujan dalam konteks keseimbangan alam, bukan dalam konteks spiritual yang lebih dalam. Ketika kita tidak hanya melihat hujan sebagai sesuatu yang bagus untuk tanaman atau udara, tetapi kita melihatnya sebagai bagian dari kehendak Sang Maha Sempurna, suatu proses yang sempurna dalam keselarasan dengan hukum alam semesta yang telah ditentukan oleh-Nya, maka, kita melihat hujan bukan hanya fenomena alam yang kebetulan terjadi, tetapi merupakan manifestasi dari kesempurnaan Sang Maha Sempurna dalam mengatur keseimbangan segala sesuatu di dunia.
Kebahagiaan adalah hasil dari kesadaran yang semakin tinggi, dari yang pertama (fisik dan emosional) ke yang kedua (rasional) hingga yang ketiga (spiritual), yang akhirnya membawa kita pada kedamaian batin dan penerimaan total terhadap realitas. Dengan demikian, semakin egois seseorang, semakin sulit bagi mereka untuk merasakan penerimaan total terhadap realitas.
Ketika menghadapi kesulitan atau peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan, ego akan cenderung menolak kenyataan dan merasa marah, kecewa, atau frustrasi. Dengan meniadakan ego dan mengembangkan kesadaran yang lebih tinggi, kita dapat mulai menerima kenyataan dengan lebih ikhlas, merasa damai, dan akhirnya merasakan kebahagiaan sejati yang tidak tergantung pada keadaan eksternal.
@pakarpemberdayaandiri











