Oleh: Syahril Syam *)
Stres kronis seringkali muncul ketika seseorang terlalu terjebak dalam bayangan masa lalu atau terlalu khawatir tentang masa depan. Ia menjadi sulit untuk benar-benar hadir di “saat ini”, seolah-olah pikirannya terus berputar tanpa henti. Banyak orang menyebutnya sebagai “gagal move on”, tetapi sebenarnya ini lebih dari sekadar perasaan sulit melupakan sesuatu. Ini adalah kondisi dimana hati dan pikiran seseorang tidak bisa lepas dari beban yang sudah berlalu atau ketidakpastian yang belum terjadi, sehingga tubuh terus berada dalam mode stres.
Ketika seseorang tidak bisa melepaskan perasaan atau pikiran yang mengganggu, tekanan emosional itu akan terus menumpuk. Seperti tumpukan barang di gudang yang semakin penuh, pikiran dan tubuh juga bisa kelelahan karena terus-menerus membawa beban yang sama. Akibatnya, sistem saraf tetap dalam keadaan siaga, menyebabkan stres yang berkepanjangan dan berdampak negatif pada kesehatan fisik maupun mental.
Pikiran dan perasaan yang senantiasa terikat pada suatu masalah yang telah berlalu atau yang akan datang inilah yang menyebabkan terjadinya stres kronis. Dimana tekanan hidup yang terus-menerus hadir tanpa ada kesempatan untuk benar-benar beristirahat. Misalnya, pekerjaan dengan deadline ketat dan target tinggi membuat seseorang merasa terburu-buru setiap hari. Masalah finansial, seperti utang atau pengeluaran yang tidak seimbang dengan pemasukan, bisa menciptakan kecemasan yang berkepanjangan.
Konflik dalam hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, maupun teman, jika dibiarkan berlarut-larut, akan menambah beban emosional. Selain itu, kondisi kesehatan yang menurun atau penyakit kronis juga bisa menjadi sumber stres yang terus-menerus, terutama jika disertai ketakutan akan masa depan. Bahkan pengalaman traumatis di masa lalu, seperti kecelakaan atau pelecehan, jika tidak terselesaikan, dapat menjadi bayangan yang terus menghantui dan memperpanjang stres. Semua faktor ini membuat tubuh dan pikiran selalu dalam mode bertahan, seakan tidak pernah mendapat kesempatan untuk bernapas lega dan benar-benar merasa tenang.
Stres terjadi ketika sistem saraf simpatik menjadi aktif, yaitu saat seseorang mengalami situasi darurat. Misalnya, saat seseorang merasa takut atau cemas, maka tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat, otot siap untuk bergerak, dan pernapasan menjadi lebih cepat. Dan tubuh akan selalu berada dalam mode “siaga”, sampai tubuh merasa telah keluar dari situasi yang dianggap mengancam, dimana sistem saraf parasimpatik menjadi aktif, yang bertugas untuk menenangkan tubuh dan mengembalikannya ke kondisi istirahat setelah situasi stres berlalu.
Ketika sistem ini aktif, jantung melambat, pencernaan berjalan normal, dan tubuh merasa rileks. Keseimbangan antara sistem saraf simpatik (yang mengatur respons “fight-or-flight”) dan parasimpatis (yang mengatur respons relaksasi) terjadi ketika kedua sistem ini bekerja bersama secara harmonis untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.
Dalam kondisi normal, kedua sistem ini saling bergantian atau bekerja secara simultan untuk mengatur fungsi tubuh. Misalnya, ketika kita sedang beristirahat, parasimpatis mendominasi sehingga jantung berdetak dengan ritme yang lebih lambat dan pernapasan menjadi lebih teratur. Namun, jika tiba-tiba ada situasi stres, sistem simpatik akan cepat aktif untuk mempersiapkan tubuh menghadapi ancaman, dan setelah situasi tersebut selesai, parasimpatis akan segera mengambil alih untuk menenangkan tubuh.
Saat kita duduk santai menikmati secangkir teh, tubuh kita berada di bawah pengaruh parasimpatis – jantung berdetak lambat, pernapasan dalam dan stabil, sehingga kita merasa tenang. Namun, jika tiba-tiba kita mendengar suara keras yang mengejutkan, sistem simpatik akan cepat aktif sehingga jantung kita meningkat, dan kita merasakan sensasi “jantung berdegup kencang”. Setelah kejadian itu berlalu, parasimpatis kembali aktif untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan normal.
Dengan kata lain, keseimbangan antara kedua sistem ini sangat penting agar tubuh tidak selalu dalam kondisi “siaga” (stres) ataupun terlalu lambat merespons situasi yang membutuhkan tindakan cepat. Keduanya harus bekerjasama agar tubuh dapat merespons dengan cepat saat dibutuhkan, dan juga cepat pulih ke keadaan istirahat ketika situasi darurat berakhir.
Keseimbangan adalah kemampuan tubuh untuk menggunakan kedua sistem secara adaptif – meningkatkan respon saat dibutuhkan (melalui simpatis) dan menenangkan diri ketika situasi sudah aman (melalui parasimpatis). Ini adalah tanda sistem saraf yang fleksibel dan sehat, memungkinkan kita untuk beradaptasi dengan cepat terhadap berbagai situasi.
Ketika seseorang tidak bisa melepaskan perasaan dan pikiran yang mengganggu, maka terjadilah stres kronis (tubuh selalu berada dalam mode “siaga”). Emosi yang muncul seharusnya diproses dan dilepaskan secara alami, namun jika terus memikirkannya tanpa solusi atau melepaskannya, emosi itu menumpuk seperti bola salju yang semakin besar. Oleh sebab itu, kunci keseimbangan mental dan tubuh adalah ketika kita mampu melepaskan keterikatan pikiran dan hati atas peristiwa yang sudah berlalu maupun yang belum terjadi.
Belajar melepaskan bukan berarti kita mengabaikan masalah atau berhenti peduli, tetapi lebih kepada menerima kenyataan dengan kesadaran penuh. Ini adalah kemampuan untuk menghadapi apa yang terjadi, memproses emosi dengan sehat, dan kemudian melanjutkan hidup dengan lebih ringan.
@pakarpemberdayaandiri











