Oleh : Syahril Syam *)
Telah tertanam pada diri setiap manusia untuk selalu menginginkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan. NLP (Neuro-Linguistic Programming) menyebutkan kedua hal ini sebagai motivasi dalam konteks dua arah utama, yaitu Moving Towards Value (Mendekati Tujuan) dan Moving Away Value (Menjauhi Hal Destruktif).
Moving Towards adalah motivasi yang didorong oleh keinginan untuk mencapai sesuatu yang positif atau diinginkan. Orang yang termotivasi oleh Moving Towards Value cenderung fokus pada tujuan yang ingin mereka capai, manfaat yang bisa mereka dapatkan, atau hal-hal positif yang mereka inginkan dalam hidup. Sedangkan Moving Away adalah motivasi yang didorong oleh keinginan untuk menghindari atau menjauh dari sesuatu yang tidak diinginkan atau dianggap sebagai ancaman. Orang yang termotivasi oleh Moving Away Value cenderung berfokus pada hal-hal yang ingin mereka hindari.
Sayangnya kedua jenis arah motivasi ini seringkali diartikan hanya dalam konteks materi. Dan karenanya seseorang seringkali hanya menampakkan satu jenis arah motivasi, yaitu ada yang tergerak karena ingin mencapai tujuan, dan ada yang bergerak karena ingin menghindari masalah dan kesulitan.
Ada yang termotivasi karena menginginkan peningkatan karir, menjaga kesehatan karena ingin mencapai kondisi fisik yang optimal dan menikmati hidup yang lebih berkualitas, atau apapun tujuan-tujuan yang ingin diraih. Di sisi lain, ada yang termotivasi karena menghindari kegagalan, rasa sakit, atau kerugian. Seseorang bekerja keras untuk menghindari pemecatan karena mereka takut kehilangan stabilitas finansial.
Padahal sejatinya dua gaya pendorong ini digunakan secara bersamaan pada diri kita, demi mencapai derajat kesempurnaan. Kita membutuhkan gaya Moving Away Value agar kita menjauhi hal-hal yang bersifat destruktif. Kita mesti belajar untuk tidak menyimpan berbagai perasaan destruktif dan justru harus menghindarinya. Sakit hati, marah yang tak terkendali, perasaan bersalah, jengkel, kecewa, dan berbagai perasaan destruktif adalah perasaan yang sebaiknya jangan ditumpuk di dalam hati.
Kita mesti melepaskan semua perasaan itu dan menghindari merasakan perasaan-perasaan tersebut (dalam konteks agama berarti menjauhi dosa). Karena dengan melakukan gaya Moving Away Value kita semakin bergerak ke arah yang lebih baik dan derajat diri kita menjadi semakin menyempurna.
Di saat yang sama, kita pun mesti melakukan gaya Moving Away Value, yaitu menguatkan penjagaan dari dalam diri kita berupa penguatan kecenderungan ruhani yang telah tertanam di dalam diri kita. Menguatkan kesadaran diri, menaikkan level motivasi, dan dipenuhi perasaan-perasaan konstruktif berarti kita melepaskan diri dari hal-hal buruk, sekaligus menggerakkan kita ke arah diri yang lebih baik dan terus menyempurnakan nilai-nilai kemanusiaan yang ada pada diri kita. Juga menciptakan kekebalan dan benteng pada diri kita agar terhindar dari perangkap perasaan-perasaan destruktif.
Hanya dengan melakukan dua arah motivasi ini – menjauhi perasaan destruktif dan menciptakan perasaan konstruktif – kita dapat terus bergerak dari diri yang penuh kegelisahan menuju diri yang tenang dan bahagia. Bergerak dari hanya sekadar hidup demi materi ke menggunakan seluruh kehidupan materi demi kehidupan akhirat yang menjadi tujuan akhir kehidupan kita. Dari hal ini nampak semakin jelas bahwa kehidupan ini adalah 100 persen demi akhirat karena semua kehidupan di dunia adalah demi tujuan akhir kita. Dan tidak ada satupun yang untuk dunia.
Sebagai contoh Al-Qur’an memerintahkan kita untuk makan. Walaupun perbuatan ini nampak sebagai perbuatan duniawi, dimana seluruh makhluk hidup melakukan hal ini, namun perbuatan “makan” adalah perbuatan yang 100 persen (seharusnya) ditujukan untuk kehidupan akhirat. “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan (QS 2:168)”; “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah (QS 2:172). Mungkin itulah sebabnya Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Janganlah kamu hidup untuk makan, namun makanlah agar kamu hidup.”
@pakarpemberdayaandiri











