Oleh: Syahril Syam *)
Tidak bisa dipungkiri, hidup di dunia ini, kita dibombardir oleh begitu banyak input yang masuk melalu panca indra. Otak kita sibuk bekerja untuk memproses semua data yang masuk. Dalam bahasa yang sederhana, benak kita selalu dipenuhi oleh berbagai pikiran terkait kehidupan dunia. Masalah dengan pasangan, masalah dengan anak, cicilan yang mesti dibayar, urusan sekolah anak, tagihan rutin yang tidak boleh tertunggak, masalah pekerjaan, tekanan dari keluarga, tekanan dari atasan kantor, bahan makanan yang sudah habis dan mesti dibeli, jemuran yang belum diambil, dan berbagai hal sepele hingga yang sangat menguras energi.
Dan semua itu membuat perasaan kita terombang-ambing mengikuti arus kehidupan. Dan karena kebanyakan yang terinput ke otak adalah beragam masalah, sehingga perasaan yang hadir cenderung menguras energi kita. Marah, jengkel, kesal, kecewa, sakit hati, adalah beragam perasaan yang bersifat menguras energi. Maka wajar jika kelelahan lebih cepat terasa, padahal tidak ada olah fisik yang terjadi. Lelah tubuh disebabkan oleh lelahnya jiwa.
Kondisi ini semakin diperparah karena berbagai perasaan destruktif yang hadir, tidak selalu karena menghadapi sebuah masalah secara langsung. Yang terjadi biasanya juga karena tiba-tiba pikiran melompat ke memori masa lalu yang juga menghadirkan perasaan-perasaan yang menguras energi. Belum lagi dengan kecemasan akan masa depan. Model hidup seperti ini adalah model hidup dimana eksternal (di luar diri) lebih nyata dibandingkan internal (di dalam diri).
Artinya, semua perasaan yang hadir, sebagian besar terpicu saat menghadapi orang, benda, tempat, waktu, atau peristiwa. Karena perasaan membuat apa yang dirasa tampak sangat nyata, maka semua masalah yang dihadapi akan menjadi sangat nyata di dalam mental. Maka wajar kalau semua masalah hidup akan terasa sangat nyata di dalam mental. Dan karena itu pula, perasaan destruktif akan memicu otak untuk sibuk memikirkan masalah dan berbagai urusan duniawi. Otak dan hati menjadi semakin resah dan gelisah.
Seringkali ada yang berkonsultasi kepada penulis dan mereka menceritakan berbagai masalah yang dirasakannya terlalu berat dan menyiksa. Seolah semua masalah kehidupan ditumpahkan ke dalam mental mereka. Namun yang mesti disadari terlebih dahulu adalah kita mungkin tidak bisa mengubah keadaan secara otomatis atau paling tidak untuk mengubah masalah mesti butuh waktu. Yang bisa kita ubah dengan segera adalah perasaan kita, karena perasaan adalah diri kita sendiri yang sementara merasa (diri yang berada dalam kondisi mental tertentu), sehingga jauh lebih mudah mengubah perasaan (diri) dibandingkan mengubah masalah yang dihadapi.
Selain itu, jika terus mempertahankan perasaan yang penuh kegundahan dan destruktif, maka perasaan seperti ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Yang terjadi malah membuat diri (mental) semakin dipenuhi masalah. Yang paling penting adalah ketika kita mengubah perasaan kita dengan perasaan yang jernih, maka perasaan ini justru menjadi penambah energi bagi tubuh kta dalam bergerak menyelesaikan masalah. Juga menjadi pola energi baru yang pada akhirnya memengaruhi kenyataan hidup. Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa (QS 10:62-63).
Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa perasaan yang dirasakan oleh mereka yang sangat dekat dengan Sang Maha Sempurna, bukanlah perasaan yang hadir karena dipengaruhi stimulus eksternal. Tidak ada masalah sepele ataupun masalah berat di kehidupan ini yang memicu perasaan mereka untuk sedih ataupun khawatir. Yang terjadi adalah hati mereka dipenuhi perasaan iman dan takwa. Dengan kata lain, bukan eksternal yang nampak nyata di mental mereka, melainkan internal mereka-lah yang nampak nyata di mental mereka. Dan ini bisa terjadi ketika kita belajar untuk menjernihkan perasaan. Jangan biarkan perasaan kita berkecamuk hanya karena terpicu oleh berbagai masalah, namun kita harus belajar untuk tetap menghadirkan perasaan-perasaan konstruktif walau menghadapi masalah seberat apapun.
@pakarpemberdayaandiri











