KINERJAEKSELEN.co, Kota Depok – Sesungguhnya penyebab lemahnya mental seorang Muslim bukan pada rendahnya tingkat pendidikan atau pun minimnya pengalaman hidup, tetapi tipisnya rasa tawakkal kepada Allah Ta’ala.
Imam Ghazali mengatakan, sikap menyerahkan urusan terhadap orang lain, maka ia tergolong orang yang mengangkat orang lain itu sebagai wakil yang menangani segala urusan dirinya yang menjamin untuk kepentingannya, yang mencukupi seluruh kebutuhan dirinya dengan tidak membebankan serta mencari perhatian kepada selainnya.
Demikian intisari kajian yang disampaikan Ustadzah Dr Nur Hamidah Lc Mag, di Majelis Ilmu Khayangan pimpinan Umi Linda, Senin 11 September 2023.
Dari paparan yang disampaikan Ustadzah, seorang muslimah harus memiliki mental besi dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian hidup, dengan tawakkal kepada Allah SWT, dengan menyerahkan segala urusan hidup dan mati hanya kepada Allah dengan senantiasa menjalani segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya secara benar, sehingga tentram dan bahagia kehidupannya.
“ Ketika seorang Muslim rendah kualitas ketawakkalannya kepada Allah Ta’ala maka ia akan menjadi orang yang sangat gelisah dalam hidupnya, meskipun ibadah dalam kesehariannya selalu dijalankan secara benar,” demikian kata Uztadzah Dr. Nur Hamidah.
Rendahnya ketawakkalan kepada Allah, khususnya pada masalah rizki akan menjadikan seseorang mencari berbagai macam cara untuk bisa memiliki banyak harta. Hal ini karena ada anggapan dalam dirinya harta bisa dijadikan sandaran kuat dalam hidupnya. Ia seolah lupa bahwa Allah semata yang layak dijadikan sandaran.
Atas dasar itulah, sabar merupakan sebab kelangsungan kokohnya cita-cita, berlangsungnya amal dan usaha sungguh-sungguh. Tidaklah hilang dari seorang suatu kesempurnaan, kecuali karena lemahnya kekuatan dalam menanggung rasa sabar dan beban. Padahal dengan kunci kesabaran yang kokoh, gembok-gembok persoalan dapat diatasi. Sebaik-baik perbuatan adalah sabar dalam menghadapi kesulitan.
Sabar adalah sebuah sikap atau kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menghadapi situasi sulit, kekecewaan, atau penderitaan tanpa menunjukkan reaksi yang negatif atau impulsif.
Dalam ajaran agama, manusia dituntun untuk bersabar dalam tiga hal; ketika ditimpa musibah, menjalankan perintah atau taat, dan menjauhi larangan yang telah ditetapkan agama.
Kesabaran bukan berarti menerima apa adanya, tapi bisa jadi sikap menolak bahkan protes terhadap peraturan yang tidak berpihak pada kebenaran. Karena kesabaran adalah ketegasan bersikap dengan kemampuan untuk mengendalikan diri yang bukan hanya karena pertimbangan suka dan tidak suka secara subyektif.
Ada dua macam manusia dalam kehidupan ini yang erat hubungannya dengan kesabaran. Nabi Muhammad SAW sebagaimana tersebut dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim, memberikan tamtsil, suatu perumpamaan indah mengenai orang mukmin yang sabar, dan orang munafik, dalam menghadapi kehidupan dunia ini, artinya: ”Perumpamaan orang mukmin bagaikan pohon yang selalu diterpa angin –tetapi tetap kokoh, dan seorang mukmin selalu ditimpa musibah; sementara perumpamaan orang munafik bagaikan pohon padi yang tidak bergoyang dan tidak roboh sampai dengan dipanen.” (HR Bukhari Muslim)
Jika kesabaran itu menerima apa adanya, bisakah nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala di kuil agung Namruz, bisakah nabi Musa menentang Fir’aun yang telah berjasa membesarkannya, dan bila kesabaran itu kelemah-lembutan, bagaimana mungkin nabi Muhammad SAW. menindak tegas tiga suku Yahudi di Madinah yang melanggar kesepakatan suci “Watsiqah Madinah” untuk saling menjaga demi kehidupan masyarakat yang aman dan damai. Marilah kita bersabar dalam menerima atau menolak dengan cara yanng bijaksana tentunya.
Ada beberapa catatan penting yang patut kita renungi bahwa ajaran kesabaran dalam Islam sangat penting untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai sendi dan dinamika kehidupan, terutama ketika kita mendapat musibah. Bagi orang mukmin yang bisa menghadapi musibah dengan sabar, maka dia diberikan petunjuk, ampunan, dan rahmat dari Allah Ta’ala.
[Risdiana]











