Catatan Syahril Syam *)
Karena mindset adalah tentang perasaan plus konsep, maka “mindset kurang” berfokus pada perasaan tidak cukup, kekurangan, atau ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki. Dengan kata lain, sikap dan perilakunya senantiasa didorong oleh perasaan kekurangan atau ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki. Seseorang yang merasa kurang sering membandingkan diri mereka dengan orang lain, merasa bahwa orang lain memiliki lebih banyak (uang, kesuksesan, kebahagiaan) daripada mereka. Ini menciptakan rasa tidak mampu dan bahkan iri hati yang tersembunyi.

Perasaan kekurangan menciptakan ketakutan akan kehilangan sesuatu yang dianggap penting, seperti pekerjaan, uang, atau hubungan. Ketakutan ini bisa membuat seseorang terjebak dalam pola pikir yang destruktif dan aneh-aneh. Perasaan kurang seringkali membuat seseorang fokus pada apa yang tidak dimiliki, bukan pada hal-hal positif yang sudah ada dalam hidup mereka. Ini menghalangi mereka untuk menghargai momen-momen kecil dan pencapaian yang sudah diraih. Akhirnya, mereka cenderung merasa cemas tentang masa depan, khawatir bahwa mereka tidak akan mampu memenuhi kebutuhan atau mencapai impian.
Rasa kurang membuat seseorang terlalu fokus pada angka gaji, seringkali mengabaikan hal-hal penting lain dalam pekerjaan, seperti peluang pengembangan diri, kepuasan kerja, atau lingkungan kerja yang sehat. Mereka cenderung hanya mencari pekerjaan dengan bayaran tertinggi, meskipun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan minat atau tujuan jangka panjang mereka.
Akibatnya, mereka merasa tidak puas dan kurang berkembang karena pekerjaan yang diambil tidak benar-benar memberikan kebahagiaan atau kepuasan. Perasaan kurang dapat membuat seseorang berpikir bahwa mereka perlu memiliki beberapa sumber penghasilan untuk merasa aman. Meski hal ini positif jika direncanakan dengan matang, namun karena didorong oleh perasaan kurang, maka membuat ia mengejar peluang tambahan tanpa perencanaan.
Perasaan kurang membuat seseorang sulit untuk merasa cukup atau bersyukur atas penghasilan yang sudah dimiliki. Akibatnya, mereka selalu merasa kekurangan, meskipun penghasilan mereka mungkin cukup untuk mencukupi kebutuhan dasar. Hal ini membuat mereka lebih sering mengeluh tentang penghasilan atau kompensasi di tempat kerja, dan sulit melihat hal positif dalam kehidupan. Dampaknya adalah ketakutan untuk mencoba hal baru atau mengambil risiko, karena takut kehilangan pendapatan yang sudah ada. Hal ini membuat mereka terjebak dalam pekerjaan yang mereka tidak sukai atau yang tidak menawarkan peluang pertumbuhan.
Karena kebanyakan mengeluh dan selalu merasa kurang, maka menghalangi mereka untuk fokus pada hal-hal kecil yang bisa membawa kebahagiaan, seperti menikmati makanan enak atau hobi yang menyenangkan, karena dianggap “pemborosan”.
Akhirnya, semua itu akan membuatnya cenderung takut tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan dan merasa gelisah dengan kemungkinan kehilangan pekerjaan atau ketidakstabilan karier. Cenderung mengalami kecemasan berlebihan karena merasa bahwa apa yang dimiliki saat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan atau harapan mereka.
Menjadi lebih reaktif secara emosional dan cepat merasa tertekan, yang mengakibatkan munculnya stres kronis tentang penghasilan dan ketakutan terhadap ketidakstabilan finansial. Juga cenderung mengabaikan hal-hal positif yang sebenarnya sudah ada dalam hidup mereka. Mereka menjadi kurang bersyukur dan merasa hidup tidak adil.
Penting untuk disadari bahwa dua orang dengan situasi yang serupa bisa merasakan pengalaman yang berbeda berdasarkan mindset mereka. Artinya, secara fakta, hidup bisa saja mengalami berbagai kesulitan, namun ada yang memilih untuk tetap merasakan perasaan kurang dan ada yang sebaliknya (memilih perasaan qanaah/merasa cukup).
Jadi, walaupun kenyataan hidup yang penuh kesulitan bisa mendorong hadirnya perasaan kekurangan, namun perasaan ini sebenarnya adalah pilihan mindset yang bisa kita pilih dan dapat dikendalikan. Sehingga ketika kita mulai belajar merasakan perasaan cukup, kita dapat menciptakan rasa tenang dan kepercayaan diri yang lebih besar. Ini bukan berarti mengabaikan kebutuhan nyata, tetapi belajar bersyukur atas hal-hal kecil dan mulai melihat apa yang sudah dimiliki sebagai modal untuk perubahan.
@pakarpemberdayaandiri











