Minset Qanaah dan Menikmati Proses

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Jika seseorang merasa kurang dalam pekerjaan karena gajinya rendah, maka mereka akan terjebak dalam siklus mengeluh dan merasa frustrasi. Namun, jika mereka mencoba mengubah fokus dari “apa yang tidak dimiliki” ke “apa yang sudah dimiliki” (seperti pengalaman kerja, kemampuan, atau jaringan kerja), mereka bisa mulai mencari cara untuk mengembangkan keterampilan baru atau merintis bisnis sampingan.

Perasaan cukup akan mendorong kita untuk bertindak berdasarkan potensi, bukan kekurangan, dan secara bertahap mengubah kenyataan hidup. Perasaan cukup ini biasa disebut dengan Qanaah, yaitu merasa cukup atau puas dengan apa yang dimiliki, tanpa terlalu terpengaruh oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Buku “The Having: The Secret Art of Feeling and Growing Rich” yang ditulis oleh Suh Yoon Lee dan Jooyun Hong, menyebutkan bahwa “rasa cukup” berakar dari penerimaan dan penghargaan tulus terhadap rezeki yang sudah diterima. Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain atau terus merasa kekurangan, kita justru memilih untuk fokus pada perasaan bahagia dan rasa cukup atas apa yang sudah kita miliki.

Setiap kali kita menerima gaji atau berhasil membayar tagihan, kita mengambil waktu untuk benar-benar merasakan kepuasan; membayangkan bagaimana uang tersebut telah mendukung hidup kita. Dengan kata lain, prinsip qanaah – yaitu perasaan puas dan cukup – benar-benar menciptakan ketenangan dan kesejahteraan batin. Ini tentang cara melatih pikiran dan perasaan untuk melihat dan menghargai kelimpahan yang sebenarnya sudah ada di kehidupan kita sehari-hari.

Karena kita menghargai apa yang sudah kita miliki, sekecil apa pun itu, maka berarti kita berhenti melihat kekurangan dan lebih fokus pada apa yang sudah ada di tangan kita. Kita bergerak dari perasaan “saya kurang” menjadi “saya sudah cukup.” Sikap ini menciptakan rasa syukur yang tulus, yang merupakan dasar dari ketenangan batin. Ketika kita merasakan qanaah dan terus bersyukur, kita menciptakan perasaan kelimpahan. Kelimpahan ini bukan hanya tentang jumlah materi, tetapi juga tentang kepuasan dan kedamaian yang kita rasakan.

Rasa syukur menumbuhkan perasaan bahwa hidup kita sudah penuh dan kaya, juga menciptakan energi positif. Energi positif ini menarik hal-hal baik ke dalam hidup kita, termasuk peluang finansial, sehingga kita menjadi magnet bagi kelimpahan. Dengan merasa cukup, kita tidak terjebak dalam kekhawatiran atau perasaan kurang, melainkan merasakan bahwa hidup kita sudah kaya dengan hal-hal yang baik.

Alih-alih merasa takut atau khawatir setiap kali mengeluarkan uang, perasaan qanaah mengajarkan kita untuk menghargai setiap transaksi sebagai bagian dari siklus hidup uang. Dengan cara ini, kita akan merasa damai dengan pengeluaran dan tidak merasa terpaksa atau terbebani. Ketika membayar tagihan atau membeli sesuatu, berhentilah sejenak dan rasakan bagaimana pengeluaran ini membawa manfaat bagi hidup kita. Misalnya, membayar tagihan listrik bisa dilihat sebagai investasi untuk kenyamanan rumah kita.

Hal penting lainnya untuk disadari adalah qanaah tidak berarti kita berhenti berusaha atau merasa bahwa kondisi saat ini adalah yang terbaik yang bisa kita capai. Sebaliknya, qanaah mengajarkan kita untuk mensyukuri apa yang sudah kita miliki sambil tetap bekerja menuju tujuan dengan hati yang tenang dan bahagia.

Merasa cukup tidak sama dengan menghilangkan impian atau berhenti menginginkan hal-hal baru. Ini tentang cara untuk menikmati proses tanpa tekanan berlebihan untuk terus “mengejar”. Saat kita ingin membeli rumah, maka kita tidak lagi merasa tertekan atau stres karena belum memilikinya. Sebaliknya, kita menikmati proses menabung dan mempersiapkan diri untuk tujuan tersebut sambil merasa cukup dengan tempat tinggal kita saat ini. Qanaah mendorong kita untuk menikmati dan mensyukuri apa yang ada, namun tetap membuka diri untuk peluang yang lebih baik tanpa rasa tekanan. Sedangkan berpuas diri cenderung membuat seseorang berhenti berkembang karena merasa sudah mencapai titik kenyamanan.

Alih-alih melihat uang sebagai sesuatu yang selalu kurang atau yang selalu perlu dikejar, qanaah membuat kita untuk menemukan rasa damai dan syukur atas apa yang kita miliki saat ini. Menghargai uang yang kita miliki saat ini, sekecil apa pun, menciptakan pola pikir kelimpahan yang membantu kita merasa tenang dan cukup. Alih-alih merasa gelisah dengan jumlah gaji atau tabungan yang terbatas, fokuslah pada apa yang sudah dicapai dan bagaimana uang itu sudah berperan dalam hidup kita. Uang hanyalah alat yang mendukung kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, bukan sesuatu yang harus dikejar mati-matian.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *