Pelupa dan Masalah Mental

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Setiap informasi yang masuk melalui panca indra, semuanya terekam di dalam bank memori kita. Baik informasi yang kita sadari maupun yang tidak disadari. Untuk informasi yang tidak disadari, jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang kita sadari saat secara sengaja memasukkan informasi tersebut melalui indra. Sepanjang mata memandang, maka sepanjang itu pula masuk informasi yang dilihat mata. Dengan kata lain, bank memori kita memiliki kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas.

Berbeda dengan bank memori sebagai tempat penyimpanan data, lupa adalah suatu keadaan ketika seseorang sulit mengakses data yang ada di bank memori tersebut. Keadaan ini bisa dipicu karena kurang kuatnya ikatan jaring sel saraf otak terkait data tersebut. Ketika suatu data tidak lagi terlalu sering digunakan, maka biasanya ikatan jaring sel saraf terkait data itu melemah seiring berjalannya waktu. Itulah sebabnya, pengulangan akan suatu hal atau senantiasa mengupdate informasi baru dan bermanfaat, bisa saling menguatkan koneksi-koneksi saraf yang lain. Karena otak kita senantiasa bekerja berdasarkan prinsip asosiasi (saling menghubung-hubungkan suatu hal).

Namun mengalami lupa yang terlalu sering dan bahkan lupa akan hal-hal sepele – seperti lupa letak kunci, dan hal sepele lainnya – bukan lagi berkaitan dengan kurangnya melakukan pengulangan atas suatu informasi, melainkan karena masalah mental. Seseorang yang mengalami stres rutin, cenderung mengalami masalah lupa. Ia menjadi pelupa akut karena keadaan mental dirinya membuat ia menjadi orang yang egois (hanya mikir menyenangkan diri sendiri karena terlalu banyaknya emosi destruktif yang dirasakan), sehingga tidak ada celah pada pikirannya untuk memikirikan hal-hal di luar dirinya.

Banyak orang sering berkata bahwa dirinya tidak stres. Namun setiap hari ia mengalami perasaan marah, jengkel, kecewa, sakit hati, rasa bersalah, putus asa, hingga depresi. Mengalami secara rutin berbagai emosi destruktif tersebut adalah ciri bahwa ia sesungguhnya mengalami stres. Ada ketegangan mental yang dialaminya sehingga memicu hadirnya berbagai emosi destruktif tersebut. Saat ini terjadi maka seluruh sumber daya dirinya akan habis digunakan untuk hanya sekadar menyenangkan diri. Dan segala hal di luar dirinya menjadi tidak penting, kecuali jika itu berkaitan dengan kepentingan dan kesenangan dirinya. Maka dalam kondisi ini, ia rentan mengalami masalah kelupaan. Tidak ada lagi yang penting di luar dirinya, kecuali hanya dirinya semata, maka otaknya tidak digunakan untuk mengingat hal-hal selain dirinya.

Masalah mental seperti inilah yang menjadi sebab seseorang menjadi pelupa akut. Dan masalah mental ini tidak hanya berkaitan dengan stres, melainkan juga berkaitan dengan peristiwa traumatik. Karena suatu peristiwa traumatik bisa menjadi sebab bagi munculnya masalah lupa pada diri seseorang.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *