Perasaan Destruktif Yang Seringkali Tidak Disadari

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Oleh: Syahril Syam *)

Begitu banyak orang yang berkata bahwa ia baik-baik saja karena secara sadar ia merasa baik-baik saja. Namun ternyata seringkali pada level bawah sadar, ada perasaan-perasaan destruktif yang justru mengendalikan diri kita tanpa kita sadari. Dalam buku “Altered Traits”, Daniel Goleman dan Richard Davidson menjelaskan bagaimana kebiasaan emosional yang kita lakukan tanpa sadar – seperti sering merasa cemas, marah, atau tertekan – dapat memengaruhi tubuh kita dengan cara yang tak terlihat, bahkan jika kita merasa baik-baik saja. Mereka menunjukkan bahwa perasaan negatif yang tidak kita sadari atau tidak kita tangani dengan benar bisa berdampak besar pada otak dan tubuh dalam jangka panjang.

Ketika seseorang mengalami perasaan destruktif, seperti kecemasan, stres, atau kemarahan, otaknya merespons dengan melepaskan berbagai zat kimia dan hormon, seperti kortisol (hormon stres). Jika perasaan-perasaan negatif ini terjadi secara terus-menerus dan ia tidak menyadarinya atau tidak menghadapinya dengan cara yang sehat, otaknya akan terpapar zat-zat ini dalam waktu lama. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi bagian-bagian otak yang mengatur memori, emosi, dan pengambilan keputusan. Misalnya, otak bisa menjadi lebih sensitif terhadap stres, atau kemampuan seseorang untuk merespons dengan tenang terhadap masalah bisa menurun.

Tubuh kita memiliki sistem saraf yang bekerja otomatis tanpa kita sadari, yang disebut sistem saraf otonom. Sistem ini mengatur banyak fungsi tubuh, seperti detak jantung, pernapasan, dan bagaimana tubuh kita merespons stres. Ketika seseorang sering merasa cemas atau marah, meskipun ia tidak sadar akan perasaan itu, maka sistem saraf otonomnya bisa menjadi terstimulasi secara berlebihan. Misalnya, saat seseorang merasa tertekan, maka tubuhnya bisa memproduksi hormon stres yang bisa mengganggu keseimbangan tubuh jika terus-menerus diproduksi.

Selain memengaruhi sistem saraf, perasaan destruktif yang tidak disadari juga bisa memengaruhi ekspresi gen. Gen adalah bagian dari DNA yang mengatur bagaimana tubuh kita berfungsi. Setiap kali seseorang mengalami stres, tubuhnya bisa “menghidupkan” atau “mematikan” gen tertentu yang memengaruhi bagaimana ia merespons stres itu. Jika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi stres atau perasaan negatif lainnya, maka hal ini bisa menyebabkan perubahan dalam pola ekspresi gen dirinya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kesehatan fisiknya, seperti meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan tidur, atau masalah kesehatan lainnya.

Kebiasaan emosional yang tidak disadari adalah perasaan atau reaksi emosional yang kita alami tanpa kita sadari atau tanpa kita sadari pengaruhnya terhadap tubuh kita. Ini bisa berupa perasaan cemas yang terus-menerus, marah tanpa alasan jelas, atau perasaan stres yang datang begitu saja tanpa kita menyadari apa yang memicu perasaan tersebut. Misalnya, seseorang mungkin sering merasa cemas tentang pekerjaan atau masalah pribadi, tetapi ia tidak benar-benar menyadari seberapa besar perasaan tersebut memengaruhi tubuhnya. Setiap orang memiliki pola atau kebiasaan tertentu dalam merespons perasaan mereka. Misalnya, jika seseorang sering merasa cemas atau marah, ia cenderung terbiasa dengan perasaan tersebut tanpa menyadarinya. Seiring waktu, perasaan-perasaan ini bisa menjadi kebiasaan yang otomatis. Ini artinya, ia merasa cemas atau marah tanpa benar-benar menyadari bahwa ia sedang merasakannya. Seperti halnya kebiasaan lain, ia tidak lagi memikirkannya atau memberi perhatian pada perasaan tersebut.

Selain itu, jika seseorang terus-menerus menghadapi stres, tapi tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, maka stres itu bisa menumpuk. Tanpa ia sadari, perasaan stres ini bisa bertahan lama dalam tubuhnya, bahkan saat ia merasa “baik-baik saja.” Misalnya, seseorang mungkin merasa sedikit cemas setiap hari, tapi karena ia tidak mengenali atau mengelola perasaan itu, maka stres itu menumpuk dan akhirnya memengaruhi kesehatan fisik dan mentalnya. Ia tidak sadar karena perasaan stres itu terasa normal dan menjadi bagian dari rutinitasnya. Secara sederhana, alasan utama mengapa seseorang tidak sadar akan emosi destruktifnya adalah karena emosi tersebut sudah menjadi kebiasaan yang tidak disadari. Biasanya diakibatkan oleh stres yang menumpuk dan tidak dikelola dengan baik, serta karena kurang terbiasa untuk memperhatikan dan memahami perasaan kita sendiri. Untuk lebih sadar akan perasaan kita, kita perlu melatih diri untuk lebih mengenali emosi kita dan cara kita meresponsnya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *