Oleh: Syahril Syam *)
Bayangkan otak kita seperti komputer. Ketika seseorang mengalami trauma, otaknya membuat program atau pola tertentu untuk melindungi dirinya. Misalnya, jika seseorang pernah berada dalam situasi berbahaya, maka otak “merekam” perasaan takut, panik, dan bagaimana tubuh bereaksi saat itu.
Program ini dirancang untuk membuat kita tetap aman, misalnya dengan selalu siaga terhadap bahaya. Masalahnya, setelah situasi berbahaya berlalu, program lama itu seringkali tetap aktif. Jadi, walaupun seseorang sebenarnya sudah aman, tubuhnya masih bereaksi seolah-olah ia berada dalam bahaya. Inilah yang menyebabkan seseorang merasa cemas, tegang, atau selalu siaga, padahal tidak ada ancaman nyata.
Ketika program lama ini aktif, tubuh bisa merasa tegang, dimana otot-otot terasa kaku atau tegang, seolah-olah sedang bersiap untuk melarikan diri atau melawan; tubuh kemudian meningkatkan detak jantung dan pernapasan, seperti yang terjadi saat benar-benar dalam bahaya; juga merasa gelisah, sulit tidur, atau tidak bisa santai karena tubuh “berpikir” bahwa masih dalam situasi yang berisiko. Seseorang yang “program lamanya” masih aktif, maka tubuhnya akan senantiasa hidup di masa lalu (masa saat menghadapi ancaman), walau ia telah hidup aman di masa kini.
“Program lama” cenderung selalu aktif karena trauma mengubah cara otak kita bekerja, terutama bagian yang berhubungan dengan deteksi bahaya dan pengolahan emosi. Trauma membuat otak seseorang menjadi lebih waspada terhadap ancaman, bahkan ketika ancaman itu tidak lagi ada. Sistem limbik, yang melibatkan amygdala dan hipokampus, bereaksi jauh lebih cepat daripada bagian otak yang lebih rasional, yaitu korteks prefrontal (yang bertugas membuat keputusan logis).
Secara normal Korteks prefrontal membantu menenangkan sistem limbik dengan mengatakan, “Kita aman”. Namun ketika terjadi trauma, sistem limbik mengambil alih dan mengabaikan logika. Tubuh bereaksi dulu (seperti berdebar, berkeringat), baru kemudian menyadari bahwa ternyata itu bukan ancaman nyata.
Trauma juga membuat tubuh sering memproduksi hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, yang membuat tubuh selalu dalam mode siaga. Jika dalam keadaan normal, maka saat bahaya selesai, kadar hormon ini turun dan tubuh kembali rileks. Namun setelah mengalami trauma, produksi hormon ini tetap tinggi karena otak terus-menerus mendeteksi ancaman. Hal ini membuat seseorang cenderung merasa tegang, lelah, dan sulit untuk santai, bahkan di situasi yang aman; sering merasa seperti sedang “berjaga-jaga,” meskipun tidak ada alasan nyata untuk itu.
Saat mengalami trauma, maka hal ini cenderung menciptakan pola “overlearning”. Otak “belajar” terlalu kuat dari pengalaman trauma untuk memastikan hal itu tidak terjadi lagi. Saat dalam keadaan normal, otak belajar dari pengalaman buruk, tetapi tetap bisa membedakan mana ancaman nyata dan mana yang tidak. Namun setelah trauma, otak menjadi terlalu protektif, menganggap terlalu banyak hal sebagai ancaman, bahkan yang tidak berbahaya. Makanya jangan heran, jika seseorang pernah diserang di tempat gelap, ia cenderung menghindari semua tempat gelap, meskipun sebenarnya aman.
Paling tidak, ada tiga alasan sehingga program lama ini cenderung selalu aktif. Pertama, otak kita dirancang untuk melindungi diri kita, dimana otak percaya bahwa program ini penting untuk menyelamatkan kita dari bahaya, sehingga ia sulit untuk “dimatikan”;
Kedua, tidak adanya pembaruan sehingga jika tidak ada usaha untuk “memperbarui” otak melalui terapi atau latihan, maka program lama akan terus berjalan; Ketiga, adanya efek biologis, yaitu trauma benar-benar mengubah struktur otak, membuatnya lebih reaktif terhadap stres.
Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk terus secara sadar melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik. Jangan sampai, tanpa disadari, selalu hidup di masa lalu karena tubuh masih menjalankan program lama. Dan seringkali ada begitu banyak “program lama” yang masih berjalan tanpa kita sadari.
@pakarpemberdayaandiri











