Puasa Membuat Kita Melihat Hidup Ini Indah

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam

Memulai tulisan ini, kita sebaiknya melihat apa lawan kata dari “hidup ini indah”. Ternyata ada banyak lawan katanya dan semuanya tergantung konteksnya. Dari indah menjadi buruk, dimana hidup terasa suram. Tidak ada keindahan yang bisa dirasakan, semuanya terasa hambar dan membosankan. Hari-hari berlalu tanpa warna, dan apa pun yang terjadi seolah tak membawa kebahagiaan. Dari bahagia menjadi sedih, dimana hidup terasa begitu menyedihkan. Setiap langkah terasa berat, dan hati dipenuhi kesedihan yang sulit dijelaskan. Tidak ada tawa, hanya air mata dan rasa kehilangan.

Dari mudah menjadi sulit; dulu hidup terasa ringan, tetapi sekarang semuanya berubah. Setiap hari penuh tantangan, masalah datang bertubi-tubi. Rasanya seperti terus berjalan di jalan yang menanjak tanpa tahu kapan bisa beristirahat. Dari bermakna menjadi hampa; merasa hidup ini tidak ada artinya. Seakan semua usaha sia-sia, dan tidak ada alasan untuk terus melangkah. Hari-hari terasa kosong, dan tidak ada gairah untuk melakukan apa pun. Dari nyaman menjadi menderita, dimana hidup ini menyakitkan. Setiap pengalaman terasa seperti luka yang terus terbuka. Bukan hanya fisik, tetapi juga hati yang terus tersakiti, seolah kebahagiaan adalah sesuatu yang jauh dan sulit digapai.

Dengan melihat begitu banyak konteks kehidupan yang membuat seseorang tidak melihat bahwa hidup ini indah, maka menjadi jelas kalau cara seseorang melihat dunia sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia menempatkan dirinya dalam realitas yang ada. Jika seseorang lebih berpusat pada diri sendiri – hanya melihat dari perspektif pribadinya tanpa mempertimbangkan sudut pandang lain – maka dunia bisa terasa tidak adil, sulit, atau bahkan menyakitkan.

Keegoisan di sini bisa berarti terlalu fokus pada keinginan pribadi, ekspektasi yang tidak realistis, atau ketidakmampuan menerima kenyataan apa adanya. Orang yang egois cenderung memandang tantangan dan ujian hidup sebagai ancaman, karena mereka seringkali melihat dunia dari sudut pandang yang sempit – berpusat pada kenyamanan, keinginan, dan ekspektasi pribadi. Saat sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan mereka, mereka merasa terancam, frustrasi, atau bahkan menyalahkan keadaan dan orang lain.

Tapi benarkah tantangan dan ujian kehidupan adalah ancaman bagi diri kita? Mihaly Csikszentmihalyi dengan penelitiannya tentang “flow” mengatakan “tidak”. Tantangan dan ujian kehidupan bukan ancaman, tetapi justru bagian alami dari perjalanan hidup yang bisa menjadi peluang untuk berkembang. Tantangan dalam hidup sebenarnya bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk berkembang.

Dalam keadaan flow, kita merasa sepenuhnya terlibat dalam apa yang kita lakukan, karena tantangan yang kita hadapi sesuai dengan kemampuan kita. Ketika kita menghadapi tantangan, kita merasa lebih fokus dan termotivasi, dan justru dari situ kita merasa puas.

Flow bukan hanya tentang hasil akhir, tapi tentang proses menghadapinya. Ketika hidup memberikan ujian atau tantangan, jika kita melihatnya sebagai kesempatan untuk tumbuh dan belajar, kita bisa merasa lebih terhubung dengan diri kita sendiri, bukan merasa terancam. Tantangan itu bisa memberikan kepuasan, karena kita merasa hidup dan berkembang saat menghadapinya, bukan hanya menunggu hasil akhirnya.

Orang-orang yang sering mengalami flow biasanya adalah mereka yang sangat terfokus pada apa yang mereka lakukan dan merasa sepenuhnya terlibat dalam prosesnya. Misalnya, seorang atlet profesional yang sedang bertanding akan merasa sangat terhubung dengan gerakan tubuhnya dan tidak terganggu oleh hal lain, sehingga ia bisa mencapai performa terbaiknya.

Begitu juga dengan seorang seniman atau musisi yang sedang menciptakan karya seni atau musik – mereka bisa begitu larut dalam proses tersebut hingga merasa waktu berjalan begitu cepat tanpa disadari. Seorang programmeryang sedang menulis kode untuk aplikasi atau situs web juga sering berada dalam keadaan flow ketika ia menikmati tantangan teknis dan merasa puas dengan setiap kemajuan yang dicapainya. Kondisi flow bisa membantu kita berkembang dan menjadi lebih ahli dalam bidang profesi masing-masing.

Setiap tantangan dalam hidup memiliki makna atau pelajaran yang bisa diambil, meskipun terkadang kita tidak segera menyadarinya saat sedang menghadapinya. Dalam banyak kasus, tantangan membawa pembelajaran yang dapat membantu kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, bijaksana, atau lebih memahami diri sendiri dan dunia sekitar.

Sesungguhnya tantangan dan ujian kehidupan merupakan cara yang sangat efektif untuk membantu jiwa (diri) kita tumbuh. Ketika kita menghadapi kesulitan atau tantangan, kita seringkali dipaksa untuk menghadapi ketakutan, keterbatasan, atau ketidakpastian, yang secara tidak langsung bisa membawa kita pada proses transformasi diri. Tantangan dalam hidup adalah pintu menuju pemahaman dan pertumbuhan yang lebih dalam.

Puasa bisa membantu kita melihat bahwa hidup ini indah karena mengajarkan kita untuk lebih menghargai apa yang kita miliki. Ketika kita menahan diri dari makanan atau hal-hal yang biasa kita nikmati, kita mulai merasa lebih bersyukur atas hal-hal kecil yang sering kita abaikan, seperti kesehatan, waktu bersama orang terkasih, atau kedamaian batin.

Puasa juga mengurangi ketergantungan kita pada kenikmatan sesaat, dan mengarah pada pemahaman bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari hal-hal materi, tetapi dari rasa cukup dan kedamaian dalam diri. Selain itu, puasa membuat kita lebih terhubung dengan hal-hal yang lebih besar dalam hidup; terhubung kepada makna hidup yang lebih dalam dan terhubung kepada Sang Maha Sempurna, sehingga kita merasa hidup ini memiliki tujuan dan keindahan yang lebih mendalam.

Kemampuan untuk melihat keindahan dalam suka dan duka kehidupan adalah salah satu hasil dari transformasi diri yang bisa terjadi melalui praktik puasa. Ketika kita dapat menerima dan menghadapinya dengan lapang dada, kita mulai melihat bahwa baik kebahagiaan maupun kesulitan memiliki makna dan pelajaran yang bisa memperkaya hidup kita.

Dengan belajar menerima suka dan duka sebagai bagian dari perjalanan, kita bisa melihat hidup dengan lebih positif dan penuh makna. Dengan begitu, puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga membuka jalan bagi kita untuk melihat hidup dengan lebih positif dan penuh syukur.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *